JAKARTA - Langkah tegas diambil pemerintah Inggris terhadap praktik-praktik merugikan dalam penjualan kembali (resale) tiket acara langsung di atas harga aslinya.
Keputusan yang ditujukan untuk memberantas praktik calo tiket (touts) dan situs-situs resale yang selama ini meraup untung besar dengan menawarkan tiket jauh melampaui harga yang ditetapkan (harga muka/ face value), disebut akan menghemat triliunan rupiah bagi mereka yang kerap datang menonton acara langsung, baik itu konser musik hingga pertandingan sepak bola.
Adapun Departemen Kebudayaan, Media dan Olahraga (Department for Culture, Media and Sport/DCMS) secara resmi akan mengumumkan niatnya untuk mengakhiri praktik percaloan tiket dalam skala industri ini.
Melansir BBC, langkah tersebut diperkirakan akan membuat harga tiket resale rata-rata lebih murah 37 poundsterling (sekitar Rp750.000) dan secara kolektif menghemat 112 juta poundsterling (sekitar Rp2,2 triliun) per tahun bagi para penggemar.
Di samping itu, platform resale tiket juga akan memiliki kewajiban hukum untuk memantau dan menegakkan regulasi baru ini.
Tom Kiehl, Kepala Eksekutif UK Music, menegaskan bahwa pembatasan harga tiket sekunder diperlukan untuk melindungi baik industri maupun penggemar dari harga yang mencekik (exorbitant).
BACA JUGA:
"Industri musik itu sendiri bernilai 8 miliar poundsterling bagi perekonomian, dan bergantung pada hubungan yang kuat antara penggemar musik dan artis," kata Ki3hl kepada program Today di BBC Radio 4. "Dan apa yang kita miliki saat ini adalah pasar resale yang tidak berfungsi."
Dengan adanya larangan penjualan di atas harga muka, pemerintah Inggris berharap dapat memulihkan keadilan harga dan memastikan bahwa pengalaman menonton acara langsung tetap terjangkau bagi semua penggemar sejati, alih-alih menjadi ladang keuntungan bagi para calo.
Sebagai informasi, langkah revolusioner pemerintah Inggris dipicu oleh surat terbuka dari nama-nama besar di industri musik yang meminta Perdana Menteri untuk menghentikan situs-situs yang mereka sebut "pemerasan dan merusak" yang mengeksploitasi penggemar.
Selain para bintang musik, surat tersebut juga ditandatangani oleh berbagai pihak berkepentingan, termasuk lembaga pengawas konsumen Which?, Asosiasi Pendukung Sepak Bola (Football Supporters' Association), serta kelompok-kelompok yang mewakili industri musik dan teater, pengelola venue, hingga pengecer tiket.