JAKARTA - Gelombang protes dari sejumlah musisi top dunia terhadap praktik penjualan kembali tiket konser (resale) yang dianggap 'memeras' mencapai puncaknya.
Kali ini, Coldplay, dan Dua Lipa secara terbuka mendesak Pemerintah Inggris agar memberlakukan pembatasan harga maksimal untuk tiket yang dijual kembali.
Langkah tegas ini diambil bersama-sama dengan deretan nama besar lainnya di industri musik, termasuk New Order, Iron Maiden, Sam Fender, PJ Harvey, Mark Knopfler, hingga Robert Smith dari The Cure.
Mereka semua telah menandatangani sebuah surat yang ditujukan kepada Perdana Menteri Keir Starmer, menuntut agar pemerintah Inggris segera mengambil tindakan untuk melindungi para penggemar dari aksi para calo tiket.
"Sudah terlalu lama platform resale tertentu membiarkan para calo membeli tiket dalam jumlah besar, lalu menjualnya kembali dengan harga yang melambung tinggi, memaksa penggemar untuk membayar di luar batas wajar atau bahkan tidak bisa menonton sama sekali," bunyi pernyataan dalam tersebut, dikutip BBC, Jumat, 14 November.
Mereka menilai, kondisi ini telah mengikis kepercayaan publik terhadap sektor acara langsung dan merusak upaya para artis serta penyelenggara untuk menjaga agar pertunjukan tetap dapat diakses dan terjangkau oleh semua kalangan.
Para musisi percaya, memberlakukan batasan harga tiket akan "memulihkan keyakinan terhadap sistem penjualan tiket, membantu mendemokratisasikan akses publik terhadap seni sesuai dengan agenda Pemerintah, dan memudahkan penggemar untuk mendeteksi perilaku ilegal, seperti penipuan tiket."
BACA JUGA:
Desakan ini tidak hanya datang dari kalangan musisi. Sejumlah organisasi terkemuka juga turut membubuhkan tanda tangan dalam pernyataan tersebut, di antaranya badan pengawas Which?, O2, Football Supporters Association, FanFair Alliance, dan beberapa kelompok lain yang mewakili manajer, pengecer tiket, venue, hingga industri musik dan teater.
Mereka menyerukan perlindungan baru yang dirancang untuk "membantu memperbaiki elemen-elemen dari pasar tiket sekunder yang memeras dan merugikan, yang hanya melayani kepentingan para calo, yang praktik eksploitatif mereka mencegah penggemar sejati mengakses musik, teater, dan olahraga yang mereka cintai."
Kekhawatiran para musisi juga didukung oleh temuan baru dari investigasi yang dilakukan oleh Which?. Laporan tersebut mengungkap bahwa para penjual tiket dari lokasi jauh seperti Brasil, Spanyol, Amerika Serikat, Dubai, dan Singapura, secara masif memborong tiket untuk acara-acara di Inggris. Tiket tersebut kemudian dijual kembali dengan harga fantastis melalui platform seperti Viagogo dan StubHub.
Data dari investigasi tersebut menunjukkan bahwa tiket untuk konser Oasis di Wembley sempat dijual dengan harga 3.498,85 dolar AS (Rp58,4 juta) di StubHub, bahkan lebih dari 4.000 dolar AS (Rp66,8 juta) di Viagogo.
Praktik "penjualan spekulatif" pun ditemukan, di mana tiket sudah terdaftar di situs sekunder padahal penjualnya sendiri belum benar-benar membelinya dari distributor resmi. Sebagai contoh, ketika tiket konser Busted vs McFly di Glasgow masih tersedia di penjual asli (Ticketmaster), tiket yang sama secara bersamaan sudah terdaftar di Viagogo dan StubHub dengan banderol harga dua kali lipat.