Bagikan:

JAKARTA - Candra Darusman memperkenalkan sebuah buku dengan tajuk “Invisible Cycle: Memantik Inovasi dan Kreasi untuk Kemajuan” dan single baru berjudul “Salah Sendiri” bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya yang ke-68.

Lewat acara peluncuran yang digelar di HighScope Indonesia, Jakarta Selatan pada Kamis, 21 Agustus, Candra menyebut buku yang ditulisnya bersama Agung Setiyo Wibowo ini ditujukan khusus bagi generasi muda Indonesia, terutama mereka yang lahir antara 1997–2012.

Adapun, inovasi dan kreasi merupakan dua konsep utama yang diperkenalkan dalam buku ini. Inovasi dijelaskan sebagai proses membawa invensi teknologi kepada pengguna, pasar, dan industri, dimana dibutuhkan strategi yang terencana, analisis efektif, pemetaan peluang, dan pemanfaatan kekuatan yang dimiliki serta dapat memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Sementara, kreasi dijelaskan sebagai proses yang berakar pada ide dan penciptaan karya seni orisinal yang berdampak nyata bagi perbaikan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Kedua konsep utama itu digambarkan sebagai roda tak kasat mata (invisible cycles), yang harus terus berputar agar bangsa mencapai kemakmuran.

“Dan sepeda ini bisa membawa kencang perjuangan Indonesia untuk mencapai kesejahteraan,” kata Candra dalam peluncuran buku dan single baru.

Buku ini juga menjelaskan secara konkret bagaimana inovasi dan kreasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui empat langkah strategis: penciptaan, perlindungan, pemasaran, dan penjualan.

Agung Setiyo Wibowo menambahkan, buku yang diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia ini ditulis dengan gaya penulisan yang komunikatif dan ilustratif, tidak hanya menawarkan solusi konseptual, tetapi juga mengajak generasi muda untuk berani memilih peran di jalur inovasi dan kreasi sebagai kontribusi nyata bagi bangsa.

“Saya pribadi, bekerjasama dengan Om Chandra membuat saya terinspirasi—sebagai milenial—untuk berupaya agar karya-karya yang saya hasilkan tidak hanya menyenangkan ego saya, tapi juga ada impact-nya kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Agung.

Lagu “Salah Sendiri” sebagai Hasil Inovasi dan Kreasi

Di samping itu, single baru yang dikerjakan Candra juga tidak kalah menarik. Lagu ini merupakan hasil kolaborasi dengan penyanyi dari Sri Lanka—sesuatu yang tidak umum bagi musisi Indonesia.

Kolaborasi ini berawal dari inisiatif bersama Duta Besar RI untuk Sri Lanka, Ibu Dewi Tobing, serta Duta Besar Sri Lanka untuk Indonesia, Prof. Jayanath Colombage.

“Suatu saat, Ibu Dubes kita di Sri Lanka menelepon saya, kira-kira setahun yang lalu. Beliau mengatakan bahwa mereka ingin menjalin dunia musik antara Indonesia dengan Sri Lanka,” tutur Candra.

Penyanyi asal Sri Lanka, Umaria, jadi teman duet Ikke Nurjanah untuk menyanyikan lagu ini. Sementara musisi lain yang juga dilibatkan, di antaranya Dwiki Dharmawan (kibor) dan Barry Likumahuwa (bass).

“Lagu ini, katakanlah suatu pertukaran budaya antara Sri Lanka dengan Indonesia. Dan menariknya, Umaria punya nenek moyang dari Indonesia,” ucap Candra.

Lewat kolaborasi di lagu “Salah Sendiri”, Candra ingin memperlihatkan bagaimana kesenian merupakan sebuah kreasi yang inovatif dalam diplomasi antarnegara.

“Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat pertukaran budaya dan diplomasi kreatif melalui musik,” pungkas Candra.