Bagikan:

JAKARTA - Dwiki Dharmawan bersiap menggelar The Musical Journey of Dwiki Dharmawan yang menandai 40 tahun berkarya di kancah musik. Ia mengaku masih merasa gugup jelang konser tersebut. 

Dalam konser tunggalnya, Dwiki akan menghadirkan karya terbaiknya, mulai dari lagu ciptaan sendiri maupun karya musisi lain.

Sejumlah penyanyi akan ikut serta di konser ini, antara lain Krisdayanti, Ruth Sahanaya, Once Mekel, Sandhy Sondoro, Andien, Dira Sugandi, dan Ita Purnamasari. Para talenta muda juga Putri Ariani, Dirly, Ivan Paulus, Jinan Laetitia, Shanna Shannon, hingga Awdella.

Selain itu, ada juga penampilan spesial yang disuguhkan bersama Krakatau Band, Iskandar Widjaja, Kamal Musallam, World Peace Orchestra, M.A.C yang berasal dari Papua, serta Deepro Dancer dan grup DIAMOND.

CEO Prestige Promotions Untung Pranoto memastikan pertunjukan musik itu bukan sekadar hiburan. Kehadiran elemen visual dan artistik yang mendalam menjadi penegas Dwiki Dharmawan terus berevolusi sebagai seniman yang tidak pernah berhenti bereksperimen.

Untuk persiapan konser tersebut, ia tak segan-segan mendatangi langsung para penyanyi yang bakal terlibat. Melalui pendekatan secara personal, ia dapat memahami satu sama lain sehingga diharapkan lahir penampilan yang apik.

Bagi Dwiki, empat dekade bukan sekadar waktu. Melainkan perjalanan spritual dan kecintaan yang mendalam akan musik. Semakin dirinya melangkah dan berkarya, semakin ia mencintai dan mensyukuri tanah airnya, yang kaya akan budaya dan keragaman, yang menjadi sumber inspirasinya dalam berkarya.

Dengan karier puluhan tahun di industri musik, Dwiki menjelma menjadi salah satu insan industri musik yang populer dan dihormati serta dikenal juga sebagai ikon budaya. Karyanya diakui secara luas sejak tiga dekade yang lalu.

Karier solonya meningkat pesat ketika dia mulai bekerja sama dengan Leonardo Pavkovic dari MoonJune Records melahirkan solo album; So Far, So Close yang direkam di Los Angeles, Pasar Klewer yang direkam di London, Rumah Batu yang direkam di Barcelona, Hari Ketiga yang direkam di studio La Casa Murada, Barcelona Spanyol, serta Anagnorisis yang direkam di Athena, Yunani dan akan diluncurkan pada 2025.

Pada masa pandemi COVID-19, Dwiki merilis single A Night in Murcia dan single World Peace Orchestra – The Spirit of Peace.

Selama 40 tahun berkiprah di belantika musik, suka dan duka banyak dilampauinya. Mulai dari perkembangan teknologi hingga kolaborasi lintas generasi pun dialaminya. Mulai dari era satu-satunya stasiun televisi hingga era digital.

"Sukanya dulu kalau tampil di TV, besoknya pas saya masuk sekolah saya jadi terkenal karena banyak menonton. Waktu itu saya masih SMA. Sukanya lagi waktu dulu kaset laku, tapi dukanya kalau kaset sudah ada di emperan (bajakan). Padahal kita baru rilis, tapi sudah banyak bajakannya karena harganya lebih murah," kata Dwiki dilansir dari ANTARA, 19 Agustus.

Tantangan yang dihadapi setiap zaman pun berbeda. Jika pada awalnya memulai karier, pembajakan menjadi musuh utama musisi kini tantangannya juga tak mudah dengan kehadiran akal imitasi (AI). Meski AI dapat membantu musisi dalam berkarya, namun dia  lebih menyukai proses dalam bermusik. Tahapan-tahapan yang dilalui mulai dari mencari chord, melodi, menambah lirik, mem-balance, hingga mixing.

"Buat saya itu proses yang sangat saya nikmati, tahapan demi tahapan hingga tercipta musik yang bisa dinikmati bersama. Saya rela melalui itu," tambahnya.

Di luar kancah musik, keterlibatannya dalam mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia ke seluruh negara  mencerminkan dukungan kuat dan cinta Dwiki terhadap bangsanya. Ia juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2003-2009, Ketua AMI Awards (Anugerah Musik Indonesia) 2016-2022 dan Ketua LMK Pappri (salah satu Lembaga Manajemen Kolektif Indonesia) 2016-2021.

Kini Dwiki masih menjabat Sekretaris Jendral Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI)

Tak dipungkiri ibunya merupakan sosok yang memiliki peran besar dalam karier bermusiknya. Ia juga banyak terinspirasi dengan karya-karya The Beatles, Herbie Hancock, Frank Sinatra, dan lainnya.

Kini Dwiki menikmati menikmati perannya sebagai mentor musik bagi generasi muda. Ia mengaku belajar banyak hal dengan melakukan kolaborasi dengan generasi muda yang juga memiliki pola pikir yang berbeda. Seluruh musisi orkestra yang akan tampil pada konser nanti merupakan gabungan musisi muda dan senior.

"Terus terang saya mendapatkan energi yang banyak dengan melakukan kolaborasi dengan generasi muda. Saya juga belajar banyak hal dari generasi muda," kata musisi yang banyak melahirkan karya musik spritual itu.

Ke depan, ia berharap dapat terus menebar manfaat bagi masyarakat melalui pendidikan, pelatihan, maupun pertukaran budaya. Melalui lembaga pendidikan musik Farabi yang dipimpin lulusan Magister Seni IKJ itu, ia berharap dapat melahirkan talenta muda berbakat di dunia musik.