JAKARTA - Jaguar Land Rover atau JLR disebut bisa mempertimbangkan memindahkan produksi mobil dari Inggris jika pemerintah tidak memberi subsidi 380 juta pound sterling untuk perusahaan baterai Agratas.
Menurut laporan The Guardian yang dikutip Selasa, 5 Mei, peringatan itu muncul dalam dokumen bantuan negara yang disiapkan regulator persaingan usaha Inggris.
Pejabat Departemen Bisnis dan Perdagangan Inggris pada Desember menilai JLR, pemberi kerja otomotif terbesar di Inggris, berpotensi memicu eksodus industri mobil dari negara itu. Risiko yang disebut dalam dokumen itu mencakup relokasi produksi, hilangnya pekerjaan, dan dampak pada rantai pasok.
JLR dimiliki Tata Sons, konglomerat India yang juga mengendalikan Tata Steel. Awal bulan ini, pemerintah Inggris memperpanjang hibah 380 juta pound kepada Agratas, bisnis baru Tata yang membangun pabrik baterai raksasa di Somerset.
BACA JUGA:
Pabrik itu akan memasok baterai untuk JLR dan produsen mobil lain. Nilai investasinya kini naik menjadi 5,2 miliar pound, dari rencana awal 4 miliar pound saat diumumkan pada 2023.
Dalam dokumen tersebut, pemerintah memperingatkan Agratas bisa memilih membangun pabrik Eropa di Spanyol tanpa subsidi Inggris. Jika itu terjadi, JLR dinilai dapat memindahkan produksi kendaraan mendekati pabrik baterai karena biaya produksi mobil listrik akan lebih murah.
“DBT menjelaskan bahwa, seiring waktu, kerugian sistemik ini dapat membuat JLR memindahkan produksi kendaraannya lebih dekat ke pabrik baterai pembanding di Spanyol,” demikian isi dokumen itu.
JLR mempekerjakan sekitar 33.000 orang di Inggris. Perusahaan ini memproduksi Range Rover dan model Jaguar mendatang di Solihull, West Midlands. Model lain, termasuk Discovery Sport, dibuat di Halewood, Merseyside.
Namun, JLR membantah pernah mengancam memindahkan produksi ke Spanyol.
“JLR berkomitmen pada manufaktur di Inggris. Kami tidak pernah menyarankan pemindahan produksi kendaraan kami ke Spanyol dalam pembicaraan dengan pemerintah mengenai lokasi gigafactory,” kata juru bicara JLR dikutip The Guardian.
Competition and Markets Authority atau CMA juga meminta pemerintah memberi alasan dan bukti lebih kuat atas kesimpulan bahwa kemungkinan relokasi JLR dapat membuat sebagian besar produksi otomotif Inggris keluar dari negara itu.
Belum jelas apakah ancaman hengkang itu realistis. Seorang sumber pemerintah menyebut penilaian tersebut hanya menggambarkan skenario pembanding yang tidak terjadi.
Serikat pekerja Unite menyambut dukungan pemerintah. Des Quinn, pejabat nasional Unite, mengatakan pemerintah berada di pihak yang tepat untuk mendukung industri mobil Inggris.
Namun, perdebatan soal subsidi belum selesai. Kepada The Guardian, Andy Palmer, mantan petinggi Nissan dan Aston Martin, mengatakan perusahaan mobil memang akan mencari biaya produksi paling rendah, termasuk lewat hibah pemerintah.
Menurut Palmer, sistem subsidi Inggris perlu dibenahi total. “Kita membutuhkan sistem yang mendukung seluruh ekosistem, bukan hanya nama-nama terbesar,” katanya.
JLR sendiri tergolong lambat masuk ke pasar mobil listrik. Range Rover listrik yang lama ditunggu tertunda, begitu pula peluncuran Jaguar sebagai merek serba listrik. Penjualan Range Rover listrik diperkirakan dimulai tahun ini, sedangkan pemesanan Jaguar baru pertama akan dimulai pada 2027.
Pemerintah Inggris menyatakan subsidi 380 juta pound untuk Agratas akan memperkuat produksi baterai domestik dan menjaga Inggris tetap berada di depan dalam transisi menuju kendaraan nol emisi.