JAKARTA - Minat konsumen Singapura untuk membeli kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE) kembali meningkat. Studi Ernst & Young (EY) menunjukkan sebanyak 32% responden di Singapura berencana membeli mobil ICE dalam dua tahun ke depan, naik dari 26% pada 2024.
Alasan utama peningkatan tersebut adalah kekhawatiran yang masih tersisa terkait infrastruktur pengisian daya dan biaya tersembunyi kepemilikan kendaraan listrik, sebagaimana tercantum dalam EY 2025 Mobility Consumer Index (MCI).
Perubahan preferensi di Singapura ini mencerminkan tren global, di mana konsumen kembali memilih mobil berbahan bakar bensin meskipun para ahli memperkirakan data penjualan 2025 tetap akan menunjukkan angka pendaftaran kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang tinggi.
Namun demikian, minat terhadap kendaraan ICE di Singapura masih lebih rendah dibandingkan rata-rata global. Secara global, 50% responden menyatakan kemungkinan akan membeli kendaraan ICE, meningkat dari 37% pada 2024.
Meski Singapura selama ini dipandang sebagai pasar terdepan adopsi EV di Asia Tenggara, studi EY mengungkapkan bahwa kepercayaan konsumen belum sepenuhnya kuat. Survei terhadap 300 calon pembeli mobil di Singapura menunjukkan kekhawatiran “praktis”, terutama keterbatasan jaringan pengisian daya dan mahalnya biaya penggantian baterai, mulai mengalahkan optimisme awal terhadap mobilitas ramah lingkungan.
“Jika hasil MCI tahun lalu mencerminkan optimisme yang kuat terhadap pembelian EV, survei tahun ini menunjukkan bahwa pembeli mobil di Singapura mulai mempertimbangkan kembali opsi kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE),” ujar Sriram Changali, EY-Parthenon ASEAN and Singapore industrials leader, seperti dilansir dari Business Times.
“Meredanya antusiasme tersebut menunjukkan bahwa konsumen kini mengambil pandangan kepemilikan yang lebih berhati-hati dan praktis,” tambahnya.
Meski sentimen terhadap EV mengalami penurunan, Singapura tetap menjadi pemimpin regional dalam adopsi kendaraan energi baru. Dalam laporan terpisah 2025, distributor otomotif global Inchcape mencatat Singapura berada di peringkat atas Asia Tenggara untuk adopsi kendaraan energi baru.
Sebanyak 58% pembeli mobil di Singapura menyatakan minat untuk membeli EV dalam dua tahun ke depan, turun dari 73% pada 2024. Meski menurun, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 43%. Sementara itu, 10% responden menyatakan belum menentukan jenis kendaraan yang akan dibeli.
Produsen EV asal China, BYD, tercatat menjadi merek terlaris di Singapura pada Mei 2025, mengungguli Toyota untuk pertama kalinya, dengan pangsa pasar mencapai 19,7% dalam sembilan bulan pertama 2025. Meski demikian, pada Juli tahun yang sama, BYD juga meluncurkan mobil bermesin bensin di Singapura untuk pertama kalinya.
EV menyumbang 43% dari total pendaftaran mobil baru di Singapura dalam sembilan bulan pertama 2025. Sebagai perbandingan, kontribusi EV tercatat sebesar 33,8% sepanjang 2024 dan 18,2% pada 2023.
Di Singapura, EY menemukan bahwa kekhawatiran terhadap keterbatasan pengisian daya masih menjadi hambatan utama bagi konsumen untuk memilih EV. Lebih dari separuh responden menyebut kualitas public charger dan interoperabilitas pengisian daya sebagai kekhawatiran utama, dibandingkan sekitar seperempat responden secara global.
BACA JUGA:
Sedikit di atas 40% responden juga menyoroti mahalnya biaya penggantian baterai, sementara 40% lainnya menyebut “kurangnya infrastruktur pengisian daya”. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 28% untuk kedua faktor tersebut.
“Meredanya antusiasme terhadap EV menunjukkan bahwa konsumen kini mengambil pandangan kepemilikan yang lebih berhati-hati dan praktis. Hal ini terjadi meskipun pemerintah telah berupaya memperluas infrastruktur pengisian daya di seluruh Singapura,” tulis laporan tersebut.