Bagikan:

JAKARTA - Awal tahun ini, jagat otomotif dihebohkan dengan Hyundai Ioniq 5 N yang terlihat lalu lalang di depan markas dari Lamborghini di Sant’Agata Bolognese, Italia.

Dalam video tersebut, jalur yang biasanya dilewati oleh supercar berbalut kamuflase dari Lamborghini, kini dilalui oleh crossover listrik tersebut. Hal mengejutkannya, pabrikan berlogo “banteng mengamuk” ini tidak malu-malu menguji coba Hyundai Ioniq 5 N dengan corak warna Performance Blue yang mencolok.

Meskipun ada kemungkinan mobil tersebut dimiliki oleh salah satu karyawan dari merek ini, akan sangat menarik bila pabrikan berlogo ‘banteng mengamuk’ tersebut tengah mempelajari merancang mobil listrik pertamanya dari Hyundai Ioniq 5 N.

Sejak debut globalnya pada 2023 lalu, Hyundai Ioniq 5 N menarik perhatian banyak pihak termasuk CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann. Namun, ada salah satu hal yang ia kurang terkesan pada crossover tersebut, yakni hadirnya suara mesin dan simulasi pergantian gigi.

Pria asal Jerman tersebut mengungkapkan bahwa Lanzador versi produksi tetap akan memakai sebuah suara namun tidak akan meniru dari mesin ICE yang ada pada jajaran Lamborghini saat ini, yaitu V8, V10, dan V12.

"Secara pribadi, ini bukan sesuatu yang harus terjadi di masa mendatang dan saya cenderung tidak setuju dengan suara mesin pembakaran palsu pada mobil listrik,” kata Winkelmann dikutip dari Drive, Sabtu, 22 Maret.

Bagi Winkelmann, suara mesin bukan hanya menjadi satu-satunya daya tarik dalam sebuah kendaraan melainkan juga sensasi mengemudi yang dirasakan oleh pengemudi dalam memegang kendali setir kemudi.

“Selain suara, yang penting adalah Anda merasakan sensasi mengendarai Lamborghini, seperti bagaimana mobil bereaksi, saat memasuki tikungan, reaksi mengerem, respon akselerasinya, dan perilaku pengendaliannya,” tambah Winkelmann.

Meskipun demikian, Winkelmann tidak menutup kemungkinan mobil listrik pertama Lamborghini akan hadir dengan suara imitasi dan akan memutuskannya di masa mendatang.

“Untuk suara, kami masih punya waktu untuk memutuskan dan ini bukanlah keputusan yang mudah,” pungkas Winkelmann.