Meluasnya Budaya Kebaya lewat Tubuh Perempuan Sekolahan
Siswi-siswi mengenakan kebaya di sekolah (Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia)

Bagikan:

JAKARTA - Di masa awal kemerdekaan, masyarakat Indonesia hidup dalam balutan ragam budaya yang tumbuh sebagai identitas bangsa. Dalam berpakaian, misalnya. Kebaya jadi salah satu bagian penting pada masa itu.

Pada zaman itu, sebagaimana telah kami ceritakan dalam "Busana Tanpa Kelas Sosial Itu Bernama Kebaya", kebaya digunakan oleh setiap wanita, tanpa kecuali. Jelata hingga kalangan pejabat mengenakan kebaya dalam keseharian mereka.

Jika menelusuri akarnya, kebaya lahir dari budaya Jawa yang kemudian meluas ke seluruh Nusantara, baik Maluku, Sumatera, Bali, hingga Sulawesi. Antropolog Universitas Negeri Makassar, Dimas Aryo Sumilih menjelaskan, pada dasarnya ada dua ciri identitas dalam akar penggunaan kebaya.

Seorang perempuan mengenakan kebaya (Sumber: Wikimedia Commons)

 

Pertama, kebaya yang diperkenalkan pada lingkup terbatas, yakni pada tradisi Jawa di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta. Kedua, kebaya yang diperkenalkan secara luas di berbagai daerah di luar Jawa.

Ambil contoh Kebaya yang diperkenalkan hanya pada lingkup Yogyakarta dan Surakarta. Kebaya tersebut terkenal memiliki pakem pada seni budaya Jawa. Pakem tersebut bersifat tegas, jelas, dan terdapat unsur pembeda antara gaya Yogya dan Surakarta.

“Hingga saat ini pakem tersebut dipertahankan secara ketat. Karena dari bentuk, corak, hias motif, dan atribut-atributnya memiliki makna filosofis yang mendalam terkait tradisi lelulur mereka, yakni Mataram. Penggunaan kebaya ini tidak terbatas untuk kalangan bangsawan saja, namun dapat meluas ke semua kalangan. Pembeda kelas sosial nampak pada corak dan hias serta kelengkapan atributnya saja,” cerita Dimas kepada VOI beberapa waktu lalu.

Sementara, kebaya di luar area Jawa memiliki ciri khas pada banyaknya modifikasi. Dari modifikasi itu kemudian muncul ragam jenis kebaya. Antara lain, kebaya Melayu, kebaya Encim, kebaya Kartinian, kebaya Bali dan lain sebagainya, lengkap dengan atribut dan ciri khas daerah masing-masing.

Namun, perjalanan kebaya sebagai busana nasional kaum wanita sejatinya sempat terlupakan untuk beberapa saat. Dahulu, tepatnya pada 1920-an, ada aturan yang melarang penggunaan kebaya di ruang publik bagi wanita Eropa atau Indo-Belanda.

Hal itu membuat pamor kebaya yang sudah dikenal jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia kian meredup. Kala itu, kompeni mengajak warga negara nomor satu di Hindia-Belanda (Indonesia) untuk kembali kepada kebiasaan lama, yakni mengenakan busana ala kolonial di kalangan publik.

Kesohor lewat lembaga pendidikan

Meski begitu, kebaya tetap menjadi pakaian wajib para wanita bumiputra sejak abad ke-19. Saat itu kebaya diperkenalkan lewat jalur lembaga pendidikan. Yogyakarta jadi awalnya. Beberapa di antara yang berperan adalah Raja Yogyakarta kala itu, Sultan Hamengku Buwono VII (1839-1921). Ia mendirikan sekolah-sekolah modern bernama Sultanaats School.

Selain itu, ketika Ki Hajar Dewantara bersama perkumpulan Selasa Kliwon mendirikan perguruan bernama Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Lembaga Perguruan Nasional Taman Siswa pada 1922, ia menjadikan kebaya sebagai pakaian wajib siswa wanita. Identitas kebaya sebagai budaya bangsa pun menguat.

Sesuai dengan dua prinsip utama Taman Siswa, yaitu kerakyatan dan kepemimpinan, kebaya selalu dipertahankan. Dikutip dari tulisan Ki Hajar Dewantara berjudul Associatie antara Timur dan Barat di Waskita --majalah terbitan Taman Siswa-- terbitan 1929, Pangeran Jawa itu mengajak segenap siswa untuk tak menelan mentah gaya hidup orang Eropa.

“Jika kita menginginkan gaya hidup nasional, kita harus memilih cara-cara hidup Barat yang sungguh-sungguh menguntungkan bagi kita. Pada saat itulah kita telah melepaskan diri dari cinta buta. Dan kita dapat memilih dengan tenang serta dengan pikiran dan perasaan yang jernih hanya dengan demikianlah akan mingkin ada asosiasi dan evolusi,” tulis Ki Hajar Dewantara.

Para siswi dalam balutan kebaya (Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia)

Pendirian teguh identitas kebangsaan telah lama dianut Ki Hajar Dewantara lewat tujuh butir alasan mendirikan Taman Siswa. Pada butir pertama, tertuang keinginan Ki Hajar Dewantara menjadikan pendidikan dan pengajaran sebagai sarana memelihara bibit yang diturunkan dari generasi sebelumnya, sehingga bangsa dapat bertumbuh, baik fisik maupun spiritual.

“Sebagaimana Individu harus mengembangkan jiwa dan badannya, demikian pula bangsa harus berusaha mengembangkan kebudayaan dan masyarakatnya. Cara-cara untuk mencapai tujuan ini harus didasarkan atas adat istiadat bangsa. Dengan cara ini bangsa akan berkembang cepat dan mulus sesuai dengan kodrat alam,” ungkap Kenji Tsuchiya dalam buku Demokrasi dan Kepemimpinan: Kebangkitan Gerakan Taman Siswa (1987).

Setelah Taman Siswa, barulah lembaga-lembaga pendidikan lain, seperti HIS met den Quran, Schakelschool, Cursus voor Volks Onderwijs, Normaal school, dan HIK –cikal bakal Muhammadiyah-- yang mulai digagas K.H. Ahmad Dahlan sejak 1911 menjadikan kebaya sebagai sebagai busana wajib wanita.

Selepas Indonesia merdeka, Presiden Soekarno menetapkan kebaya sebagai busana nasional. Sebagaimana yang diungkap Henk Schulte Nordholt dalam buku Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan (1998), Bung Karno telah mengembang jenis-jenis kostum spesifik untuk menciptakan identitas keindonesiaan yang baru.

Inti identitas tersebut adalah konsepsi tentang nilai-nilai dari kebudayaan Indonesia. “Kostum nasional yang dikembangkan oleh Sukarno dan Suharto terdiri atas setelan Barat bagi para pria dan kain kebaya bagi para perempuan.”

“Pada panggung-panggung publik, tubuh perempuan yang mengenakan kain kebaya mencirikan bangsa ini sebagai non-Barat. Tubuh-tubuh para perempuan mewakili esensi bangsa, tradisi yang hidup dan terpelihara pada akhir abad kedua puluh,” tambah Nordholt.