Bagikan:

JAKARTA - Miftachul Akhyar dikenal luas sebagai ulama senior Nadhlatul Ulama (NU). Kariernya sebagai ulama tak diragukan. Popularitasnya pun meningkat kala menggantikan Ma’ruf Amin sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ia menjalankan jabatannya dengan baik. Namun, kepemimpinannya di MUI tak lama. Pria yang akrab disapa Kiai Miftah justru terpilih sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) era 2021-2026. Hasil itu membuatnya tak ingin rangkap jabatan. Miftachul memilih mundur dari MUI.

Posisi Ketua MUI sempat dipertanyakan kala Ma’ruf Amin ikut Pilpres 2019. Ma’ruf diyakini segera mengundurkan diri dari Ketua MUI supaya menjauhi potensi konflik kepentingan. Namun, Ma’ruf tak melakukannya.

Ma’ruf justru mengungkap akan mengundurkan diri jika menang Pilpres. Sekalipun Ma’ruf baru benar-benar melepas posisi Ketua MUI pada November 2020. Pemilihan Ketua Umum yang baru dilakukan di Musyarawarah Nasional (Munas) X MUI di Hotel Sultan, Jakarta, pada 27 November 2020.

Prabowo Subianto menemui Rais Aam PBNU KH Miftachul Ahyar di kediamannya di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (13/2/2024) petang. (Istimewa)

Miftachul Akhyar resmi menjadi Ketua Umum MUI periode 2020-2025. Miftachul bukan tokoh ulama baru. Jejaknya sebagai ulama dibuktikan dengan aktifnya ia di NU. Ia pernah meraih banyak jabatan – terakhir ia menjabat Rais Aam PBNU era 2018-2020.

Pemilihan Miftachul bukan tanpa alasan. Pengurus MUI menganggap Miftachul adalah sosok yang mempuni yang mampu membawa umat Islam jauh dari mudarat. Miftachul diyakini bisa menjalankan perannya sebagai pelayan umat dan mitra pemerintah.

Miftachul pun bergerak. Ia mencoba menjalankan komitmennya menjadikan MUI sebagai teladan. Ambil contoh kala MUI aktif memberikan masukan kepada pemerintah terkait pelaksanaan ibadah kala pandemi COVID-19.

Andil besar Miftachul membuat umat Islam tak lagi bingung dengan perubahan pola beribadah kala pandemi mulai mengancam nyawa. Peran itu diapresiasi banyak pihak.

“Kecerdasan menyikapi dan menyadari bahwa kita ini diwujudkan, dilahirkan sebagai ulama adalah mengemban sebuah tugas. Tugas (ulama) itu sebuah pencerahan. Bagaimana kita untuk amar makruf-nya, modelnya seperti apa. Kan di dalam al-makruf itu ada nilai-nilai dakwah. Dakwah kepada orang dekat, lain dengan orang yang jauh, Orang manggil saja kepada orang dekat, hai (suara tidak keras), tapi kalau kepada orang jauh, hai (suara lebih keras) agar suara ini sampai.”

“Intinya (suara itu) sampai. Tapi, tidak ada wajah-wajah yang kereng (galak), kasar, ada perbedaan. Itu harus dibedakan. Bukan yang dekat, yang jauh disamakan. Yang masih umat-umat dakwah, umat yang masih perlu dilatih, perlu didewasakan dalam Islam, beda dengan umat ijabah. Hampir (mayoritas) hari ini kita umat dakwah. Walaupun dia Muslim, mungkin Muslim juga. Tapi karena situasi, semangat untuk memperdalam ilmu itu menurun, bisa jadi itu,” ungkap Miftachul setelah terpilih sebagai Ketua MUI sebagaimana dikutip laman Republika, 27 November 2020.

Hindari Rangkap Jabatan

Kepemimpinan Miftachul di MUI memang berjalan baik. Namun, kepemimpinannya di MUI terhitung sebentar. Miftachul memilih untuk berpartisipasi di Muktamar NU Ke-34 di Lampung pada Desember 2021. Miftachul kemudian terpilih sebagai Rais Aam PBNU untuk masa jabatan 2021-2026.

Rais Aam sendiri adalah pimpinan tertinggi di jajaran syuriyah (badan musyawarah) yang beranggotakan kiai besar dan sepuh. Posisi itu membuat Miftachul sadar diri. Ia tak ingin rangkap jabatan, sebagai Ketua MUI juga Rais Aam NU.

Ia memutuskan untuk segera mengundurkan diri dari Ketua MUI. Ia tak ingin rangkap jabatan. Miftachul pun memahami jika tak ada aturan khusus yang menegaskan ia tak bisa rangkap jabatan. Rangkap jabatan sah-sah saja.

Miftachul punya pandangan sendiri. Ia menganggap memegang dua peran dalam dua organisasi besar tak mudah. Belum lagi nantinya ada potensi konflik kepentingan. Alhasil, niatan Miftachul mengundurkan diri sudah mantap.

Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf (kanan) bersama KH Miftahul Akhyar (ketiga kanan) dan Kapolrestabes Surabaya Kombes Rudi Setiawan (kiri) menghadiri Istighosah Akbar di Masjid Nasional Al Akbar, Surabaya, Jawa Timur, Kamis malam, 18 Oktober 2018. (ANTARA/Didik Suhartono)

Surat pengunduran dirinya sudah diterima oleh jajaran MUI awal tahun 2022. Namun, akan melalui proses sampai nanti ada pemilihan Ketua MUI yang baru. Pilihan Miftachul tak rangkap jabatan dipuji banyak pihak.

Keputusan itu dihormati oleh NU dan MUI. Posisinya sebagai Ketua MUI diganti oleh Anwar Iskandar. Belakangan peran Mif tachul sebagai Rais Aam kian populer karena dirinya memimpin pencopotan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf pada November 2025.

"Di saat ahlul halli wal aqdi (Ahwa) Muktamar ke-34 NU menyetujui penetapan saya sebagai Rais Aam, ada usulan agar saya tidak merangkap jabatan. Saya langsung menjawab sami'na wa atha'na (kami dengarkan dan kami patuhi). Jawaban itu (pengunduran diri), bukan karena ada usulan tersebut, apalagi tekanan," ujar Miftachul sebagaimana dikutip laman ANTARA, 9 Maret 2022.