JAKARTA - Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah jadi penentang kuasa Soeharto dan Orde Baru (Orba). Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) era 1984-1999 itu bak alergi dengan ketidakadilan. Ia terjun langsung membela rakyat kecil yang diinjak-injak penguasa.
Peranan itu membuat kuasa Gus Dur di NU digoyang penguasa Orba. Guru Bangsa itu ingin digusur secara prosedural lewat Muktamar NU. Narasi itu membuat kampanye penolakan Gus Dur sebagai Ketua PBNU menggema: Asal Bukan Gus Dur (ABG).
Gus Dur adalah sosok yang tak bisa diam kala melihat ketidakadilan di Indonesia. Cucu dari Hasyim Asy’ari itu tak segan-segan mengkritik dan mengecam pemerintahan Soeharto dan Orba. Kadang juga kritik diarahkan ke umat Islam sendiri.
Ia pernah meneriakkan supaya umat Islam tak masa bodoh dengan perilaku korup pejabat Orba pada 1979. Sikap masa bodoh umat Islam dianggap Gus Dur sebagai petaka. Kerusakan yang dimunculkan korupsi bisa ganggu hajat hidup rakyat.
Kritisnya Gus Dur bak tak terbendung. Ambil contoh kala Gus Dur naik jadi ketua PBNU sedari 1984. Gus Dur perlahan-lahan mengubah arah NU sebagai ormas Islam besar di Indonesia. Ia mencoba membawa NU tak condong ke politik penguasa.
Ia membawa NU condong berpihak kepada rakyat yang kena injak penguasa. Sekalinya Orba melakukan ketidakadilan, NU segera turun membantu masyarakat. Ia kerap terjun membantu masyarakat yang tertindas.
Gambaran itu terlihat dalam keberpihakan Gus Dur NU kepada rakyat dalam kasus pembangunan Waduk Kedung Ombo sedari 1984. Pembangunan waduk di yang berlokasi di tiga kabupaten di Jawa Tengah –Sragen, Boyolali, dan Grobogan—bak dipaksakan pemerintah Orba.
Masyarakat diminta segera pindah. Ganti ruginya kecil pula. Mereka yang tak mau pindah dicap sebagai simpatisan Partai Komunis Indoensia (PKI). Teror itu dianggap menyakitkan. Apalagi, Orba sengaja memutuskan akses ke desa-desa yang menolak.
BACA JUGA:
Gus Dur pun tak tinggal diam. Ia datang memberikan bantuan. Gus Dur bahkan membantu menyuarakan kasus Kedung Ombo supaya mendapatkan atensi secara nasional dan internasional.
“Gus Dur menyarankan agar sejumlah teman di Ornop (Organisasi Non Pemerintah: LSM) untuk menulis surat kepada Bank Dunia dan memberikan kepadanya garis besar rasa prihatin mereka dan meminta agar ia menunjukkan tanggung jawab yang lebih besar dalam mengelola proyek-proyek seperti itu. Walaupun surat ini merupakan prakarsa Gus Dur, namun bentuk akhirnya sedikit berbeda dari apa yang telah digambarkan, oleh karena kata-katanya lebih keras dan secara pribadi bersikap kritis terhadap Soeharto.”
“Karena itu, Soeharto menuntut Gus Dur agar meminta maaf, dan Gus Dur pun memenuhinya setelah ia menghadap Soeharto untuk berbicara mengenai surat itu. Namun demikian, kejadian ini membuat banyak pengkritik Gus Dur dalam NU secara terbuka mempertanyakan bukannya Gus Dur yang nanti akan menjadi semacam meriam liar yang akan membahayakan keselamatan semua warga NU,” tutup Greg Burton dalam buku Biografi Gus Dur (2013).
Asal Bukan Gus Dur
Berisiknya Gus Dur membuat Soeharto dan Orba terganggu. Satu sisi, Gus Dur dipandang punya potensi mengganggu stabilitas nasional. Sisi lainnya, sikap Gus Dur dianggap dapat menganggu keselamatan seluruh warga NU.
Orba mulai memainkan kuasanya menjegal Gus Dur dari posisi Ketua PBNU. Orba tampak berhati-hati. Empunya kuasa tak ingin frontal. Namun, Orba bersiasat memberikan dukungan kepada siapa saja yang berpontesi mengalahkan Gus Dur dalam Muktamar NU.
Gus Dur pernah coba dijegal pada Muktamar NU Cilacap pada 1987. Namun, Gus Dur tetap mampu terpilih. Gus Dur tetap berisik. Kondisi itu membuat Orba menatap Muktamar NU Cipasung pada 1994. Keinginan menjatuhkan Gus Dur lebih terukur dan serius.
Lawan politik Gus Dur yang didukung Orba sampai mengelorakan kampanye: Asal Bukan Gus Dur atau ABG. Artinya siapa saja bisa jadi pemimpin PBNU, asal bukan Gus Dur. Kampanye itu kian meningkat berminggu-minggu sebelum Mukmatar Cipasung diselenggarakan pada Desember 1994.
Kaki tangan Orba pun tak tinggal diam. Mereka mencoba mendekati banyak pengurus cabang NU. Mereka mencoba mengakomodasi nama penantang Gus Dur, Abu Hasan. Sosok yang dianggap tak terlalu populer dalam kalangan Nahdlatul Ulama.
Istimewanya, menuju Muktamar Cipasung nama Abu Hasan melejit bahkan hampir mengalahkan Gus Dur. Lagi-lagi popularitas Gus Dur sulit dibendung. Gus Dur menang kembali dan melanjutkan jabatannya sebagai Ketua PBNU hingga 1999. Orba pun tak pernah benar-benar berhasil menyingkirkan Gus Dur.
“Gerakan ABG pada Muktamar Cipasung itu ternyata memiliki kekuatan yang jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan gerakan di Yogyakarta. Ini terlihat dari tautan perolehan suara yang tidak terlalu jauh antara pendukung Gus Dur (174) dan pendukung Abu Hasan (142).”
“Fakta bahwa tautan perolehan suara antara Gus Dur dan Abu Hasan sangat mengejutkan semua pihak. Bagaimana tidak. Selama ini Abu hasan tidak dikenal di lingkungan NU. Yang menjadi pertanyaan, mengapa tiba-tiba Abu Hasan terkesan mendadak populer seperti itu? Seperti disebutkan di atas, upaya mendongkel kepemimpinan Gus Dur tidak lepas dari kepentingan politik. Para penentangnya tidak berdiri sendiri, melainkan memperoleh dukungan dari aparat negara,” ujar Andre Feillard dalam buku Gila Gus Dur (2000).