Agenda Modernisasi Kerajaan di Balik Pernikahan Pangeran William dan Kate Middletone
Kate Middleton dan Pangeran William (Wikimedia Commons)

Bagikan:

JAKARTA - Hampir selalu ada pesan di balik hajatan besar sebuah negara besar seperti Inggris. Baik yang tersurat maupun tersirat. Salah satu hajatan besar dari Kerajaan Britania Raya itu adalah momen pernikahan Pangeran William dan Catherine Elizabeth "Kate" Middletone yang dihelat pada hari ini, 29 April, sembilan tahun lalu.

Pernikahan yang digelar di Westminster Abbey, London itu dihadiri sekitar 1.900 tamu undangan. Sementara, sekitar satu juta penonton lainnya berjejer di jalan-jalan London. Diperkirakan, dua miliar orang di seluruh dunia menyaksikan pernikahan William dan Kate dari televisi. 

Saat itu, pengantin wanita berusia 29 tahun. Sementara, pengantin pria berusia 28 tahun. Mereka bertemu tahun 2001, saat keduanya masih menyandang status mahasiswa di Universitas St. Andrews di Fife, Skotlandia.

Kate Middleton dan Pangerang William (Wikimedia Commons)

 

Agenda modernisasi kerajaan

Pernikahan Pangeran Willaim dan Kate Middleton disebut-sebut sebagai pernikahan kerajaan paling high profile sejak 1981, ketika Pangeran Wales menikahi Lady Diana Spencer. Hajatan akbar yang monumental itu jadi peluang Badan Urusan Luar Negeri Inggris, Foreign & Commonwealth Office (FCO) untuk menjalankan agenda besar, yakni memodernisasi citra kerajaan.

Seperti ditulis James Pamment dalam International Journal of Strategic Communication (2015), pihak Kerajaan disebut menyusun premis bahwa pernikahan itu adalah pagelaran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menargetkan 2,4 milyar pemirsa televisi dalam jangka waktu seminggu.

Selain itu, Kerajaan juga menargetkan sekitar lima ribu wartawan dari Amerika Serikat untuk terbang ke London. Selain itu, di Twitter, acara pernikahan tersebut diharapkan menjadi acara yang paling banyak di-tweet dari sekian acara-acara besar yang pernah terjadi. 

Salah satu pesan utama agenda ini adalah mengampanyekan Inggris sebagai negara yang terbuka, terhubung, kreatif, dan dinamis, yang berhasil menggabungkan sejarah dan tradisi dengan modernitas dan inovasi. Strategi ini juga dilihat sebagai peluang untuk melengkapi agenda diplomasi publik yang ada di sekitar Olimpiade 2012.

Tamu undangan diangkut menggunakan kereta kuda (Wikimedia Commons)

 

Citra gelaran pernikahan tersebut harus terlihat sebagai perayaan masa depan, bukan sebagai tradisi struktural turun-temurun belaka. Untuk menciptakan hal itu, maka pendekatan utama yang diambil adalah dengan membuat pembingkaian melalui media-media internasional. 

Tidak ada target spesifik negara-negara mana saja yang difokuskan untuk menyampaikan pesan Kerajaan itu. Target audiensnya ada dua. Pertama secara umum, lewat pemberitaan media-media. Kedua, melalui influencer yang akan dihibur di kedutaan-kedutaan Inggris ketika acara pernikahan berlangsung.

Sementara itu, semua pesan utama yang hendak disampaikan disiapkan secara terpusat. Catatan  Pangeran William yang dibuat ketika dirinya pidato juga turut disesuaikan dengan pesan utama.

Hal ini dilakukan untuk memaksimalkan penyampaian agenda utama dalam peliputan media. Selain itu, beberapa material kampanye Kerajaan itu termaktub dalam klip video See Britain, Visit Britain, dan konten digital lain, termasuk gambar dan panduan penggunaan media sosial. 

Sebuah pedoman atau semacam prosedur tetap terangkum dalam 34 baris naskah yang disediakan untuk mendukung pekerjaan para pembawa pesan, seperti para duta besar. Naskah itu berisi latar belakang pernikahan, fakta tentang aspek tradisional dan modern dari pernikahan, serta daftar argumen pendukung untuk empat nilai inti. 

Untuk mengangkat citra modern, beberapa prosedur itu di antaranya menekankan agar mengundang tamu yang terseleksi. Lalu, naskah juga mengatur agar pihak kerajaan hanya menerima sumbangan amal bukan menerima hadiah.

Terakhir, yang tak kalah penting adalah perihal penggunaan platform berbasis web yang diestimasi akan diakses sekitar 400 juta orang. Semua prosedur itu ditetapkan untuk merumuskan ulang pernikahan kerjaan tradisional menjadi pernikahan era digital.

Salah satu keuntungan dari hajatan yang digelar kerajaan tersohor seperti ini adalah mereka bisa menggelar acara itu dengan biaya rendah, bahkan tanpa biaya sama sekali. Pasalnya, banyak juga yang ingin mengambil keuntungan dari acara itu sendiri. Sementara, pihak kerajaan sangat mungkin memanfaatkan perangkat-perangkat yang mereka miliki.