JAKARTA – Memori hari ini, tiga tahun yang lalu, 22 Oktober 2022, Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Surya Paloh membela Anies Baswedan jadi capres. Ia menegaskan Anies bukan orang luar pemerintahan dan bukan juga alat negara asing mengacak-acak Indonesia.
Sebelumnya, Anies dikenal sebagai tokoh politik yang mumpuni. Ia dikenal sebagai tokoh pendidikan yang kemudian banting stir ke dunia politik, dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) hingga Gubernur DKI Jakarta. Partai Nasdem pun kepincut meminangnya.
Anies Baswedan terkenal dalam memajukan dunia pendidikan. Ia menganggap pendidikan adalah alat penting untuk perubahan. Anies pun memilih karier sebagai rektor Universitas Paramidina. Ia juga membuka ruang kaum muda berprestasi untuk mengajar ke pelosok Nusantara.
Medium yang digunakan Anies adalah Gerakan Indonesia Mengajar. Namun, Anies bak menginginkan tantangan baru. Ia mencoba banting stir ke dunia politik. Ia bergerak mendukung tokoh politik Joko Widodo (Jokowi) untuk jadi Presiden Indonesia baru.
Anies bersedia jadi jubir. Ia bak mengenalkan segala macam visi misi dari Jokowi hingga berhasil jadi Presiden Indonesia. Jokowi pun mencoba mengapresiasi langkah Anies dengan mengangkatnya jadi Mendikbud pada 2014.
BACA JUGA:
Kiprah Anies sebagai Mendikbud mengundang pujian. Ia berjuang supaya ujian nasional tak jadi satu-satunya standar kelulusan hingga melarang kekerasan dalam masa orientasi siswa. Anies yang sedang semangat menata pendidikan Indonesia jalannya harus pupus.
Jokowi tiba-tiba mencopot Anies. Pencopotan itu mengundang Tanda Tanya. Namun, Anies menganggap tak terlalu masalah. Alhasil, Anies tetap aktif dalam berpolitik. Langkah barunya adalah jadi cagub dan ikut Pilgub DKI Jakarta 2017.
Hasilnya gemilang. Anies jadi Gubernur DKI Jakarta. Prestasinya menata Jakarta bejibun. Suatu hal yang kemudian membuat Partai Nasdem kepincut menjadikan Anies sebagai capres yang akan berlaga di Pilpres 2024 pada 3 Oktober 2022.
"Kenapa Anies Baswedan? Jawabannya adalah why not the best? Maka, tugas utama Anies nantinya melihat kembali sejauh mana nilai harkat dan martabat kehidupan kebangsaan kita, yang sudah berhasil untuk diteruskan, yang belum berhasil untuk diperbaiki.”
“Kekurangan pasti ada, dan inilah tugas sahabat, tugas partai koalisi yang berada dalam pemerintahan untuk selalu mengawal dengan nawaitu, dengan niat baik, apa yang terbaik, baik untuk pemerintahan, baik untuk bangsa dan negara ini," ujar Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh sebagaimana dikutip laman kompas.com, 3 Oktober 2022.
Pilihan Partai Nasdem mengusung Anies justru mendapat kritikan dari berbagai macam pihak. Partai Nasdem dianggap tengah mengusung orang dari luar pemerintahan. Anies dianggap pula sebagai alat negara asing mengacak-acak Indonesia.
Komentar negatif yang berseliweran di media sosial membuat Surya Paloh angkat bicara pada 22 Oktober 2022. Ia menegaskan semua hal yang dituduhkan kepada Anies tak benar. Anies dianggapnya bukan orang di luar pemerintahan, sebab Anies baru kelar pimpin Jakarta.
Ia menilai mereka yang menjelek-jelekan Anies dianggap memang sudah tak suka. Apalagi, Anies tak pernah dikenal sebagai antek-antek asing. Paloh pun menegaskan bahwa Partai Nasdem memilih Anies karena Anies dinilai sosok yang dapat mempersatukan bangsa.
"Kita mau mempersatukan bangsa ini kita mau merealisasikan komitmen kebangsaan kita, kemajemukan, prulalisme, persatu kesatuan tidak hanya sekadar retorika, ucapan semata-mata, coba aplikasikan, implementasikan. Maka inilah momentum kita mengimplementasikan.”
“Karena kita yakin kalau atas dasar ketidaksukaan dengan pikiran-pikiran yang menyatakan nantinya, semangat kebangsaan kita, toleransi kita berubah menjadi intoleran dari orang seperti Anies Baswedan ini. Ini satu hal, tapi kalau dasarnya sudah benci, tidak suka, kita mau bilang apapun ya memang nggak suka, mau apa. Bagaimana kita memaksakan itu orang yang tidak suka," ujar Paloh sebagaimana dikutip laman detik.com, 22 Oktober 2022.