Gunung Merapi dan Mitologinya
Gunung Merapi (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Merapi adalah gunung berapi paling aktif di tanah Jawa. Kebesaran gunung dengan ketinggian 2.930 meter tergambar lewat rangkaian letusan dan awan panas berjuluk ‘wedhus gembel’. Merapi telah menjadi gunung sakral sedari dulu. Sesuai kepercayaan, Merapi terhubung langsung dengan Tugu-Pal Putih, Kraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, sampai Parangkusumo di Pantai Selatan. Lantaran itu ikatan antara orang jawa dan Gunung Merapi begitu kuat.

Dalam memahami mitologi Gunung Merapi, ada dua elemen dari Merapi yang sekiranya perlu diketahui. Pertama, Jagat Alit. Kedua, Jagat Ageng. Jagat Alit diuraikan sebagai proses awal-akhir hidup kehidupan manusia dengan sang pencipta. Sedangkan, Jagat Ageng diyakini sebagai hubungan yang mengurai kehidupan antar sesama masyarakat sehingga mencapai kesempurnaan hidup.

Lebih lanjut, dikutip Bambang Widiatmoko dalam tulisannya di Djoernal Sastra berjudul Puisi Imaji Merapi (2012) mengungkap masyarakat yang tinggal di lereng gunung sebagai lingkungan alam dan kehidupannya sebagai makrokosmos (Jagat Ageng). Kemudian Gunung Merapi sebagai lingkungan alam dan berkedudukan sebagai mikrokosmos (Jagat Alit).

Hubungan timbal-balik itulah yang membuat masyarakat di lereng Gunung Merapi memliki kearifan lokal. Seperti sebentuk budaya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dengan sistem kepercayaan yang diyakininya.

“Jika muncul pertanyaan mengapa penduduk lereng Merapi susah sekali diminta meninggalkan daerahnya untuk mengungsi berkaitan dengan bencana Gunung Merapi baik secara eksplosif (letusan) atau secara elusif (aliran)? Tentu jawabannya adalah adanya ikatan emosional yang kuat antara penduduk di lereng Gunung Merapi dengan keberadaan Gunung Merapi itu sendiri dalam hubungan timbal balik antara makrokosmos dan mikrokosmos,” imbuh Bambang Widiatmoko.

Dalam artian, penduduk sekitar telah merasa menjadi bagian dari Gunung Merapi, dan begitu juga sebaliknya. Gunung Merapi telah menjadi bagian dari kehidupan kesehariannya. Lewat hubungan itu mereka dapat membaca tanda-tanda kapan Gunung Merapi bakal membahayakan kehidupan mereka, bahkan jauh lebih dulu dibanding anjuran pemerintah untuk menggungsi.

Letusan dan letusan

Popularitas Gunung Merapi di mata dunia terbangun lewat aktivitas letusannya. Maka dari itu, Merapi jauh berbeda dengan gunung lainnya di Pulau Jawa, seperti Gunung Semeru. Sebab, Semeru justru terkenal karena keindahan panorama dan kesenyuiannya yang abadi. Lebih lengkapnya terkait Gunung Semeru kami telah mengulasnya di tulisan “Gunung Semeru: Tempat Bersemayamnya Para Dewa”.

Di zaman penjajahan Belanda, aktivitas letusan Gunung Merapi nyatanya memiliki daya tarik untuk mendatangkan para seniman dan pelancong dalam dan luar negeri, terutama seusai letusannya pada 1822. Pelukis kenamaan Indonesia, Raden Saleh adalah salah satunya.

Bagi Raden Saleh, Merapi merupakan gunung yang menjadi pusat mitologi Jawa, beriringan dengan Laut Selatan. Keduanya kemudian membentuk kesatuan kosmologi berupa gunung dan lautan, serta tanah dan air.

“Merapi (meru dan api) merupakan contoh pusat kosmologi Hindu dan Buddha, motif yang disukai Raden Saleh. Sedikitnya, lima kali ia melukis gunung berapi itu ketika sedang aktif. Tiga lukisan menunjukkan Merapi yang sedang meletus pada siang hari dan punya arti penting jika dilihat dari sisi seni maupun ilmu pengetahuan,” tulis Werner Kraus dalam buku Raden Saleh dan Karyanya (2018).

Untuk itu, Raden Salen dan satu kelompok kecil di bawah pimpinan Residen Kedu, HJC Hoogeveen mendaki lereng Merapi pada 9 November 1865. Dalam rombongan terdapat pula Bupati Temanggung, Bupati Magelang, serta sejumlah tukang pikul. Saat itu, kondisi Gunung Merapi telah aktif sejak beberapa minggu menyemburkan lava dan pecahan batu cadas ke Lembah.

“Kibaran asapnya yang sangat dahsyat dapat dilihat sampai jauh dan tidak hanya menarik bagi ilmuwan yang awam tentang gunung berapi, tetapi juga menarik arus turis kesana sana. Lusinan ‘kelompok peneliti,’ sering kali dengan perempuan pendamping berbekal keranjang makanan yang biasa digunakan untuk piknik, mendaki dari arah Muntilan menuju gunung dan bermalam di dusun terakhir, Gemer dan Sabrang, sebelum mereka berhasil mencapai kawasan bernama Jengger Lor, sejenis pelataran tempat kerucut Merapi dapat dilihat dari dekat dengan sangat aman,” ujar Wrner Kraus.

Wisata unggulan zaman Belanda

Letusan Merapi tak hanya menarik Raden Saleh. Badan Pariwisata bentukan pemerintah Hindia-Belanda (Batavia Vereeniging Toeristenverkeer) juga tertarik. Badan wisata dengan akronim BVT itu dengan jeli mencatatkan Gunung Merapi sebagai salah satu destinasi wajib yang dapat dikunjungi jika berkunjung ke Pulau Jawa. Lewat buku panduannya yang berjudul Java The Wonderland (1900), Semeru jadi destinasi yang dibahas kala menyebut daerah Jawa Tengah.

“Semua itu menarik kehindahan tersendiri tentang Kota Solo, dengan pemandangan dua puncak simetris (dari gunung) Merapi dan Merbaboe (Merbabu), di sisi lain, dan pemandangan terhempas luas dari Gunug Lawu di sisi yang lain,” cerita buku Java The Wonderland.

Sebagaimana yang diungkap Ibnu Rustamaji dalam buku Pengaruh Perkembangan Bangunan Indis (2020). Ia menyebut sebagai bentuk dukungan kepada pariwisata ke Gunung Merapi, pemerintah Kolonial Belanda kemudian membangun ragam fasilitas. Mulai dari jalanan, yakni jalan raya Semarang-Surakarta dan akses menuju ke pesanggrahan di Kaki Gunung Merapi-Merbabu. Tercatat, tiga jalan utama yang telah dibangun Belanda. jalan Pandanaran, Jalan Merapi-Merbabu dan Jalan Kates.

Tak tanggung-tanggung di sepanjang Jalan Pandanaran Kompeni turut mendirikan beberapa bangunan untuk menunjang kegiatan rekreasi. Bangunan itu antara lain Villa Merapi, Societeiet, Tangsi Militer, Benteng Militaire Geneskundige Dients dan Landraad . Sedangkan Jalan Merapi-Merbabi kemudian didominasi oleh pembangunan gedung sekolah, rumah pribadi orang Eropa, rumah sakit, dan gedung teater.

Sayangnya jejak puncak kejayaan pariwisata Merapi hanya tinggal beberapa saja. Untuk mengenang kebesaran Merapi, sekiranya puisi dari Boedi Ismayanto SA berjudul Merapi (2010) dapat menjadi pelipur lara. Berikut penggalan sajaknya:

Merapi mengajar bersabar

Dalam doa dan ikhtiar,

Sebagaimana kalian di daerah musibah,

Ketika alam pun tak ramah.