Pembajakan Pesawat Lufthansa: Lima Hari Penerbangan bersama Teroris Palestina
Para penumpang Luthansa Air (Sumber: Commons Wikimedia)

Bagikan:

JAKARTA - Pada 13 Oktober 1977, Lufthansa dan pihak berwenang Jerman Barat mendapat informasi tentang pembajakan pesawat. Info didapat beberapa saat setelah operator radio pesawat tersebut memberi tahu menara kendali Bandara Internasional Roma di Fiumicino bahwa penerbangan dialihkan.

Penerbang meminta otorisasi untuk mendarat. Petugas penerbangan dan polisi Italia segera berkonsultasi dengan otoritas Jerman Barat melalui telepon. Peringatan pembajakan internasional diberlakukan di bawah prosedur yang telah lama ditetapkan.

Melansir The New York Post, Bandara Roma segera ditutup untuk semua lalu lintas internasional dan domestik. Penumpang pesawat Alitalia yang akan lepas landas ke Milan diminta meninggalkan pesawat dan menunggu di ruang tunggu keberangkatan.

Mobil lapis baja dan tentara Italia bersiap-siap saat pesawat dari Jerman Barat yang dibajak mendarat sekitar pukul 3 sore waktu setempat. Pesawat diarahkan ke tempat parkir yang jauh dari terminal penumpang internasional dan domestik.

Dalam percakapan radio dengan menara pengawas, awak Lufthansa, atas perintah para pembajak, meminta agar tangki bahan bakar pesawat diisi. Komunikasi begitu sulit karena para pembajak yang mengidentifikasi diri dengan nama Walter Mohammed berbicara dalam bahasa Inggris yang buruk dengan sedikit bahasa Jerman yang tak lebih baik. Tak ada satupun dari empat pembajak yang dapat berbahasa Italia. Keempatnya diidentifikasi sebagai warga Palestina.

Pejabat Jerman Barat memohon pada Kementerian Dalam Negeri Italia di Roma melalui telepon agar mencegah pergi pesawat yang dibajak. Otoritas bandara melakukan beberapa upaya mengulur waktu. Bandara setuju mengisi bahan bakar pesawat setelah para pembajak mengancam meledakkan seluruh isi pesawat jika permintaan ditolak.

Pukul 17.50 waktu setempat, pesawat yang dibajak lepas landas tanpa izin menara kontrol. Pesawat terbang ke timur. Pusat operasi Lufthansa di Frankfurt melaporkan pesawat tersebut sedang dalam perjalanan ke Siprus. Tim antiteror Bonn segera meminta Pemerintah Siprus menahan pesawat di pulau itu, sampai unit komando khusus Jerman Barat diterbangkan ke sana.

Pukul 20.28, pesawat mendarat di Bandara Larnaca. Teroris menuntut agar disediakan sebelas ton bahan bakar dan izin untuk lepas landas. Seperti di Roma, kalangan berwenang setempat pertama-tama mencoba mengulur waktu. Pada pukul 22:47, perwakilan dari Organisasi Pembebasan Palestina, Saharia Abdul Rachmin, atas permintaan Pemerintah Siprus, mengimbau para pembajak untuk setidaknya membebaskan wanita dan anak-anak.

Berakhirnya lima hari penerbangan

Para pembajak membawa pesawat dalam pengembaraan enam negara selama lima hari. Mereka akhirnya mendarat di Mogadishu, Somalia, pada 17 Oktober 1977 setelah menembak salah satu pilot pesawat.

Keesokan paginya, tim pasukan khusus Jerman menyerbu pesawat, membebaskan 86 sandera dan menewaskan tiga dari empat pembajak. Salah satu pembajak berhasil kabur.

Pada November 1996, pengadilan memvonis pelaku atas pembunuhan dan penculikan, dengan menyebut pelaku "bertindak dengan kebrutalan khusus" dengan membajak pesawat. Pengadilan menghukum satu-satunya pelaku yang hidup bernama Suhaila al-Sayeh dengan vonis 12 tahun penjara.

al-Sayeh diekstradisi ke Jerman pada 1995 setelah 17 tahun dalam pelarian. Selama persidangan al Sayeh, seorang mantan anggota kru bersaksi bahwa pada satu titik selama pembajakan, al Sayeh mengancam akan menuangkan bensin ke co-pilot dan membakarnya.

Al Sayeh sempat menjalani hukuman penjara singkat di Somalia, kemudian menghilang sampai dia ditangkap pada 1994 di Oslo, Norwegia, tempat dia tinggal selama sekitar tiga tahun dengan suami dan putrinya. Dalam pelarian itu, Al Sayeh bisa selamat dan menjalani hidup normal dengan menggunakan identitas palsu.