Eksklusif, Sara Fajira Suka Peran yang Tak Biasa
Sara Fajira (Foto: Koleksi Sara Fajira, DI: Raga/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Kemunculan Sara Fajira dalam lagu Lathi bersama Weird Genius membuat banyak warganet penasaran dengan sosoknya. Fasih menembangkan lagu bahasa Inggris, Sara tiba-tiba hadir dengan selipan bahasa Jawa yang sarat makna namun tetap enak didengar.

Tak cuma di Indonesia, lagu Lathi mendunia, begitu juga nama Sara Fajira. Banyak tawaran yang diterimanya bersama dengan Weird Genius. Impian yang ditata Sara sejak kecil nampaknya semakin nyata.

Gadis dari Surabaya ini menata karir di dunia entertaiment sejak masih kecil. Darah seni dari orang tuanya membuatnya yakin bahwa menyanyi adalah jalan hidupnya. Gadis kelahiran 03 Mei 1996 ini pernah mengikuti ajang Idola Cilik Musim Kedua hingga babak 42 besar.

Karier profesional Sara Fajira dimulai saat mengikuti ajang kompetisi Just Duet di NET TV tahun 2016. Sara mulai duet dengan Kenny Gabriel pada tahun 2018. Lantas menyanyi lagu Tersimpan di Hati bersama Eka Gustiwana. Duetnya bersama dengan Hedi Yunus menyanyikan lagu Jika ternyata juga belum mampu mengangkat namanya di tahun 2019.

Begitu pula duet denagn Hello Maya di tahun yang sama dengan lagi Cerita Dua Insan Dibalik Senja. Gara-gara sering duet, Sara mendapat julukan penyanyi kolaborator. "Menurut saya itu tidak masalah ya. Karena ketika saya kolaborasi saya punya pengalaman baru. Saya juga menemukan lagu apa yang cocok dengan saya," ujar Sara saat berbincang virtual dengan VOI, Kamis, 26 Agustus.

Sara Fajira (Foto: Koleksi Sara Fajira, DI: Raga/VOI)

Sara mengaku hasil kolaborasi membuatnya siap untuk merilis lagu baru. "Tentu saja pengin punya lagu sendiri," tegasnya. Keinginan itu menguat setelah kesuksesan Lathi tahun lalu.

Lathi membuatnya dikenal luas. Bukan cuma dari suara, keberanian Sara dalam aktingnya di video klip pun banyak yang memuji hingga dibuat #LathiChallange. Beberengan dengan kepouleran TikTok, nama Sara langsung melejit.

"Yang paling saya banggakan adalah bisa memasukkan unsur Jawa di lagu Lathi. Saya ingin ini menjadi ciri khas saya ke depan. Apapun lagunya, saya ingin ada unsur Jawa entah musik atau liriknya, di setiap lagu saya," harapnya.

Ketika undangan dan jadwal konser sudah di depan mata, pandemi COVID-19 mengubah rute karir Sara. Kerumunan menjadi hal paling tidak bisa dilakukan di masa pandemi. Sara memilih untuk debut akting di serial Hitam dan film Balada Sepasang kekasih Gila.

Sara Fajira (Foto: Koleksi Sara Fajira, DI: Raga/VOI)

Lagi-lagi Sara tak mau tampil biasa. Baru dua kali akting, Sara mengambil peran yang unik dan berbeda. Pertama, dia berperan sebagai zombie. Dia lantas menjadi orang gila yang kehilangan akal karena diperkosa. Apa yang membuatnya selalu berusaha menantang diri sendiri?

"Aku memang suka berperan yang unik. Karena menurut aku peran seperti ini berbeda dan tidak semua orang mau mengambil risiko untuk karakter seperti ini," katanya.

Dibutuhkan kesabaran tinggi ketika Sara menjadi zombie dan orang gila. "Ini butuh make up ekstra, efek sampingnya juga lumayan kerasa banget. Tapi aku menjalani itu semua dari hati. Karena aku memang suka melakukan tantangan di kehidupan aku," lanjutnya.

Sara tak menyangka pengalaman aktingnya akan ekstrem. "Nggak nyangka pas dapat rejeki akting ini. Setelah project Lathi merambah ke akting itu nggak nyangka. Semangat banget akting karena ini memang pengalaman yang pengin aku dapatin dan rasakan. Aku baca sinopsis peran hitam itu langsung tertarik dan timnya solid. Begitupun Balada Sepasang Kekasih Gila itu ok semua," paparnya.

Beradu peran dengan Donny Damara di film Hitam memberinya banyak pelajaran. Demikian juga saat berakting dengan Denny Sumargo di bawah asuhan Anggy Umbara.

"Mereka teman main yang potensial, karena mereka sudah senior. Dengan perilaku yang baik, friendly, dan humble membuat aku nyaman akting," jelasnya.

PECINTA FILM HOROR

Sara Fajira (Foto: Koleksi Sara Fajira, DI: Raga/VOI)

 

Bukan tiba-tiba ketika Sara mengambil peran horor di aktingnya. Karena gadis 25 ini memang menyikai film horor.

"Aku itu hobi banget main film. Sebelum pandemi aku selalu ngikuti film horor. Kalau Conjuring tayang di bioskop aku selalu nonton," katanya.

Menurut Sara, film horor itu seru karena ada karakter dari sutradara, produser, dan skenario yang bisa ditangkap olehnya saat nonton. "Esensi film horor itu kayak olah raga jantung. Dari segi cerita juga menarik. Aku penakut, tapi suka banget film horor. Mungkin dari situ aku bisa melawan rasa takutku," katanya.

Percaya tak percaya, Sara mengalami kejadian mistis saat syuting film hitam. Tapi kejadian itu tak membuatnya mundur dari syuting.

"Ternyata selama dua tahun periode kemarin itu aku ditempelin hal gaib. dan aku baru sadar setelah syuting film Hitam. Karena disitu ada yang bisa tahu siapa-siapa yang diikuti. Alhamdulilah gara-gara syuting Hitam akhirnya bisa lepas," kenangnya.

Selama ditempeli, Sara mengaku lebih banyak murung dan sedih tanpa alasan. "Aku tiap hari melamun, merenung, dan syuting dibikin sedih," papar Sara.

Sara Fajira (Foto: Koleksi Sara Fajira, DI: Raga/VOI)

Sara tambah antusias ketika dua perannya memberi kesempatan untuk menampilkan budaya Jawa. Sebagai penyanyi, Sara mengaku sedih karena banyak film yang memanfaatkan lagu Jawa untuk memberi kesan horor. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai pemanggil setan.

Sara ingin menghilangkan stigma bahwa lagu Jawa selalu berkaitan dengan mistis. "Pengin banget ilangin lagu Jawa itu seram dan horor. Sebenarnya karakter lantunan musik Jawa sudah mutlak seperti itu. Itu bukan pemanggil setanm," tegasnya.

"Lagu Lingsir Wengi, contohnya, digunakan dalam film untuk memanggil setan. Padahal liriknya itu tentang orang yang sedang memadu cinta," imbuh Sara.

Karena mencintai budaya Indonesia, Sara ingin seluruh dunia tahu kekayaan budaya negeri kita.

"Indonesia itu sangat beragam, bahasanya macam-macam, kepulauan, sukunya. Aku lahir di Jawa Timur karena itu lewat musik dan film aku nggak pengin menghilangkan esensi Jawa. Di musik aku pengin masukin unsur Jawa. Setelah menemukan project Lathi ini yang aku sadari," paparnya.

Sara Fajira (Foto: Koleksi Sara Fajira, DI: Raga/VOI)

Selain unsur Jawa, pertimbangan cerita juga menjadi pilihan Sara. Dalam Balasa Sepasang Kekasih Gila, Sara tertarik karena ada kampanye anti kekerasan terhadap perempuan di dalamnya.

"Sebagai wanita, walaupun cuma akting, aku bisa merasakan banget bagaimana martabat wanita itu patut dihormarti, bukan dilecehkan. Itu cuma akting aja aku kebawa. Kalau aku beneran dilecehkan aku nggak tahu harus seperti apa. Semoga tidak pernah terjadi di hidup aku," katanya.

Sara mengaku pelecehan adalah mimpi buruk bagi wanita. Saat adegan diperkosa, Sara mengaku kehilangan kata.

"Aku cuma bisa nangis, nggak bisa ngomong, nggak bisa mengungkapkan perasaan. Padahal itu cuma akting. Aku nggak bisa bayangkan perasaan korban pelecehan seksual. Karena itu aku merasa ini penting diangkat dalam film. Biar bukan cuma wanita saja yang peduli. Lelaki harus paham ini bisa bikin trauma," tegasnya.

Lantas, bagaimana rencana Sara Fajira ke depan? Apakah akan fokus akting atau melanjutkan karir musiknya?

"Di film aku tetap ingin produktif. Mengembangkan aktingku yang masih kurang. Aku sering nonton ulang akting aku biar tahu salahku dan jadi koreksi untuk mengembangkan pengalaman akting. Pengin merasakan main film di layar lebar. Untuk musik aku berharap lancar, nyanyi, akting, treatikal, semua aku ingin mencobanya," tegasnya.