Bagikan:

JAKARTA - Isu kepemimpinan di kalangan anak muda semakin banyak dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh pola kerja, perkembangan teknologi, hingga cara generasi muda memandang karier membuat dunia profesional dituntut beradaptasi lebih cepat.

Tidak sedikit perusahaan mulai menyadari pola kepemimpinan lama yang terlalu kaku sudah tidak lagi relevan dengan karakter generasi pekerja saat ini.

Fenomena inilah yang kemudian mendorong lahirnya berbagai diskusi hingga karya literasi tentang kepemimpinan generasi baru.

Salah satunya datang dari Dr. Irwan Dewanto, Chief Human Resources Officer TACO Group, yang baru saja meluncurkan buku berjudul Milenial Bisa Memimpin di Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Buku tersebut diangkat dari hasil riset doktoralnya yang kemudian dikemas dengan pendekatan lebih ringan dan mudah dipahami publik. Melalui buku ini, Irwan mencoba menggambarkan bagaimana transformasi kepemimpinan menjadi kebutuhan penting di tengah perubahan demografi dan budaya kerja modern.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan generasi milenial yang lahir pada 1981–1996 kini mendominasi angkatan kerja produktif di Indonesia. Pergeseran ini membuat perusahaan perlu menyesuaikan cara membangun organisasi agar tetap relevan dengan kebutuhan generasi baru.

"Kita harus berani bertransisi dari struktur hierarki kaku yang berbasis kekuasaan menuju sebuah ekosistem kolaboratif yang digerakkan oleh tujuan bersama. Buku ini ditulis untuk membuka mata kita semua bahwa memberikan tongkat estafet kepemimpinan kepada generasi milenial bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah urgensi mutlak untuk bertahan," ujar Dr. Irwan Dewanto dalam acara peluncuran buku.

Peluncuran buku yang berlangsung di kawasan Pantai Indah Kapuk itu juga mendapat perhatian dari kalangan akademisi dan profesional. Direktur PT Pusat Studi Apindo (ATC) sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen SDM FEB-UNS, Prof. Dr. Soeprayitno, MM., MSc., menilai topik yang diangkat sangat relevan dengan kondisi dunia kerja saat ini.

"Semoga buku ini bukan yang pertama dan terakhir, melainkan menjadi monumen awal serta legasi yang mengantarkan Dr. Irwan meraih pencapaian akademis tertinggi," ujar Prof. Soeprayitno.

Dalam buku tersebut, Irwan juga membahas perubahan standar kepemimpinan modern yang disebut sebagai The Big 4. Konsep ini menekankan pentingnya budaya kerja sehat, apresiasi terhadap tim, pemanfaatan teknologi, hingga komunikasi dua arah melalui mentoring.

Menurutnya, generasi muda saat ini tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga lingkungan kerja yang terbuka, setara, dan memberi ruang berkembang. Karena itu, kepemimpinan modern dinilai perlu lebih fleksibel dan adaptif dibanding pendekatan konvensional yang terlalu birokratis.

Selain membahas gaya kepemimpinan, buku ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi perusahaan jika gagal beradaptasi dengan perubahan generasi pekerja. Mulai dari risiko kehilangan talenta muda, penurunan produktivitas, hingga organisasi yang sulit mengikuti perkembangan teknologi dan pasar.

Irwan juga memperkenalkan konsep Multiplier Leadership yang menempatkan regenerasi kepemimpinan sebagai bagian penting dalam membangun organisasi jangka panjang. Dalam konsep tersebut, generasi milenial diposisikan sebagai pemimpin strategis, sementara Gen Z dianggap memiliki peran besar sebagai penggerak produktivitas digital.

Melalui pendekatan yang lebih ringan dan dekat dengan realitas dunia kerja saat ini, buku bertajuk "Milenial Bisa Memimpin" mencoba menghadirkan sudut pandang baru tentang bagaimana generasi muda bukan hanya menjadi pelengkap dalam organisasi, tetapi juga dapat mengambil peran penting dalam menentukan arah masa depan dunia kerja Indonesia.