JAKARTA - Semangat Kartini hari ini tak lagi hanya berbicara tentang pendidikan, tetapi juga keberanian perempuan untuk mandiri, bekerja, memimpin, dan berkembang di berbagai bidang.
Mulai dari pengemudi transportasi online, pelaku UMKM, hingga perempuan muda di industri teknologi, semakin banyak perempuan Indonesia yang membuktikan bahwa ruang untuk bertumbuh kini terbuka semakin luas.
Di tengah perubahan tersebut, berbagai inisiatif pemberdayaan perempuan terus bermunculan, terutama yang mendorong rasa aman, kemandirian finansial, dan akses terhadap teknologi. Momentum Hari Kartini 2026 pun dimanfaatkan untuk menghadirkan program-program yang menyasar perempuan di berbagai lapisan ekosistem digital.
Chief Executive Officer Grab Indonesia, Neneng Goenadi, mengatakan pemberdayaan perempuan bukan hanya soal memberi kesempatan, tetapi juga menciptakan ruang agar perempuan merasa aman dan percaya diri untuk berkembang.
"Pemberdayaan terjadi ketika perempuan memiliki akses, kapabilitas, kepercayaan diri, dan rasa aman untuk berkembang. Fokus kami adalah memberikan mereka wadah untuk berkembang, sehingga mereka mampu membuka jalan dan menginspirasi perempuan lainnya untuk menciptakan dampak yang lebih luas,” ujar Neneng dalam keterangan persnya kepada VOI, Kamis, 7 Mei.
Salah satu program yang dihadirkan tahun ini berfokus pada keamanan perempuan di ruang publik, khususnya bagi mitra pengemudi perempuan. Lewat sesi pelatihan bela diri dan perlindungan diri, para peserta dibekali keterampilan dasar menghadapi situasi tidak aman saat bekerja di jalan.
Menurut Dennis Laoh, Internationally Accredited Urban Self Protection Coach, kemampuan menjaga diri tidak hanya soal fisik, tetapi juga kesiapan mental.
"Kemampuan dasar untuk melindungi diri bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal kesiapan mental dan kesadaran situasional. Dengan latihan yang tepat, perempuan dapat lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai situasi di ruang publik,” jelasnya.
Pelatihan tersebut juga mendapat respons positif dari para peserta. Putri Herawati, salah satu mitra pengemudi perempuan, mengaku merasa lebih siap setelah mengikuti sesi tersebut.
"Senang banget bisa ikut pelatihan ini bareng sesama mitra pengemudi perempuan. Saya jadi lebih kebayang harus gimana kalau ada situasi nggak enak di jalan,” katanya.
BACA JUGA:
Tak hanya soal keamanan, pemberdayaan juga dilakukan lewat edukasi finansial bagi perempuan pelaku UMKM. Workshop pengelolaan keuangan dan modal usaha menjadi salah satu langkah untuk membantu perempuan lebih siap mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Perencana keuangan Ayu Sara Herlia menilai pemahaman mengenai arus kas dan dana darurat menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan usaha kecil.
“Dengan memahami cara mengatur arus kas dan membangun dana darurat, pelaku usaha dapat lebih siap menghadapi tantangan sekaligus mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Trivena Florentina, pemilik usaha kuliner yang mengikuti program tersebut.
“Banyak insight baru yang saya dapatkan, terutama soal cara mengelola keuangan usaha. Sekarang saya jadi lebih paham cara mengatur arus kas dan pentingnya dana darurat,” tuturnya.
Di sisi lain, perhatian terhadap perempuan juga diarahkan pada sektor teknologi yang selama ini masih didominasi laki-laki. Melalui forum diskusi, workshop kecerdasan buatan (AI), hingga sesi pengembangan keterampilan digital, perempuan muda diajak untuk lebih percaya diri mengambil peran di industri teknologi.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan semangat Kartini di era modern tidak lagi terbatas pada simbol perjuangan, tetapi hadir dalam langkah nyata untuk membuka akses, memperkuat keterampilan, dan menciptakan peluang yang lebih setara bagi perempuan Indonesia.