Bagikan:

JAKARTA – Sukses dengan Ngeri-Ngeri Sedap, sutradara Bene Dion kembali mengangkat keresahan personalnya sebagai orang Batak ke dalam layar lebar.

Lewat film terbarunya, Bene ingin menyoroti dikotomi antara masyarakat Batak yang tinggal di kampung halaman dengan mereka yang lahir dan besar di kota besar seperti Jakarta.

Bene mengungkapkan adanya fenomena di mana "Batak Kota" sering dianggap tidak cinta budaya karena kurang memahami detail adat. Melalui film ini, ia ingin mengajak penonton berpikir ulang mengenai identitas budaya yang dinamis.

"Kita tidak bisa samakan Batak yang lahir di kampung dengan Batak di kota karena lingkungannya beda. Jadi ingin memberi tahu dan mengajak semuanya untuk berpikir ulang," ujar Bene Dion belum lama ini.

Film ini membawa premis yang cukup unik namun relatable: seorang anak Batak kelahiran Jakarta yang dipaksa ayahnya untuk pulang kampung dan menjadi calon legislatif (caleg). Dari sinilah benturan antara keinginan orang tua dan impian pribadi anak dimulai.

"Bapaknya pengacara sukses punya kemauan anaknya harus nurut, sementara anaknya punya keinginan lain. Dari situ sudah ada benturan keluarga yang jadi salah satu konflik utama," jelas Bene Dion.

Saat ditanya mengenai adanya unsur kritik sosial terhadap dunia politik praktis—mengingat premisnya tentang caleg—Bene Dion memberikan jawaban menggantung yang memancing rasa penasaran.

"Nanti nonton saja filmnya. Politik? Ada lah, ada lah, ada sih," ungkapnya sambil tertawa.

Ernest Prakasa menambahkan bahwa meski berlatar budaya Batak, konflik orang tua versus anak yang ditulis Bene selalu berhasil tampil universal.

"Mungkin Bene memang punya banyak keresahan ya di bidang itu. Itulah yang membuat relatable ke semua suku," tutup Ernest.