JAKARTA – Rumah produksi Imaginari kembali mengeksplorasi kekayaan budaya Batak lewat proyek film terbarunya yang bergenre drama musikal. Tak main-main, sutradara Bene Dion Rajagukguk mengungkapkan bahwa film ini menjadi salah satu proyek dengan titik lokasi terbanyak yang pernah ia kerjakan.
Selama proses syuting, tim menghabiskan waktu 5 hari di Jakarta dan 21 hari di kawasan Toba serta Samosir. Bene menyebut pihaknya terus berpindah kota demi mendapatkan visual terbaik dari keindahan alam Sumatera Utara.
"Samosir itu bukan satu titik, benar-benar terus keliling kita. Kita berpindah-pindah kota, aku enggak mau spoiler titiknya apa saja, tapi yang pasti perpindahannya terjadi berkali-kali," ujar Bene Dion dalam sesi wawancara baru-baru ini.
Ernest Prakasa yang bertindak sebagai produser bahkan berkelakar bahwa skala produksi film ini menyerupai video promosi pariwisata.
"Ini kayak visit Sumut gitu, kayak iklan pariwisata ya Ben? Keliling danaunya sampai pulau di tengah-tengahnya," timpal Ernest.
BACA JUGA:
Dipa Andika, produser lainnya dari Imaginari, berharap film ini bisa mengikuti jejak Susah Sinyal dan Ngeri-Ngeri Sedap yang sukses meningkatkan angka kunjungan wisata ke lokasi syuting.
"Semoga film ini, apalagi dengan banyaknya daerah wisata, bisa mengangkat pariwisata setempat nantinya," kata Dipa.
Berpindah-pindah lokasi di luar pulau dengan rombongan besar, termasuk penari dan kru tambahan, memberikan tantangan logistik yang luar biasa. Imaginari bahkan membawa tim katering sendiri untuk mengantisipasi lokasi-lokasi terpencil yang sulit akses restoran.
"Dua-duanya (proyek musikal) sama-sama challenge di logistik. Kita membawa tim katering sendiri karena kita benar-benar ke daerah yang mungkin kita susah mencari restoran," pungkas Dipa Andika.