JAKARTA - Cedera pada pelari sering kali bukan hanya disebabkan oleh intensitas latihan, tetapi juga berbagai faktor lain yang kerap diabaikan. Mulai dari pemilihan perlengkapan yang kurang tepat, kondisi tubuh, hingga pola latihan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko cedera. Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Zeth Boroh, Sp.KO, ALK, menjelaskan ada banyak faktor yang dapat memicu cedera pada pelari, salah satunya adalah penggunaan sepatu yang tidak sesuai. "Yang menyebabkan pelari itu bisa cedera, karena ada faktor risiko banyak. Bicara penggunaan sepatu yang tidak sesuai, mungkin ada yang ngerasain enggak, ‘kok saya pakai sepatu ini dipakai lari satu jam, besoknya cedera’," ujarnya dalam acara temu media di Jakarta, seperti dikutip ANTARA, Jumat, 17 April. Ia menekankan bahwa memilih sepatu lari tidak bisa hanya berdasarkan tren atau harga. Sepatu harus disesuaikan dengan bentuk dan kenyamanan kaki. "Makanya pemilihan sepatu enggak bisa ‘oh aku pakai sepatu karena mahal, lagi hype’, jangan. Sesuaikan dengan kondisi kaki. Kalau kita pakai nyaman, itu pas sepatunya untuk kaki,” jelasnya. Selain itu, penggunaan sepatu yang sudah terlalu lama atau aus juga dapat meningkatkan risiko cedera karena fungsi penopangnya sudah berkurang.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah anatomi kaki. Bentuk telapak kaki, seperti kaki datar (flat foot) atau lengkungan tinggi, dapat memengaruhi cara kaki menyentuh permukaan saat berlari. Kondisi ini berisiko menyebabkan plantar fasciitis, yaitu peradangan pada jaringan di telapak kaki. "Banyak yang pelari cederanya di sini nih, plantar fasciitis, karena flat kakinya. Kalau lari berjam-jam, risiko cedera lagi. Mau lari pun juga sebenarnya harus diperiksa anatomi kaki,” kata dr. Zeth. Ia juga menambahkan bahwa bentuk kaki seperti kaki X atau O dapat memengaruhi distribusi beban saat berlari, sehingga meningkatkan risiko cedera akibat ketidakseimbangan tekanan antara kaki kanan dan kiri. Selain faktor fisik, berat badan juga berperan. Pelari dengan berat badan berlebih memiliki risiko lebih tinggi karena beban yang diterima sendi, terutama lutut dan pergelangan kaki, menjadi lebih besar. "Obesitas atau overweight terus tiba-tiba mau lari. Pembebanan badan ke lutut dan engkel itu lebih tinggi kan ya, apalagi ada high impact-nya, risiko cedera juga,” ujarnya. Tak hanya itu, teknik dan pola latihan juga perlu diperhatikan. Pola lari yang kurang tepat dapat membuat penggunaan energi menjadi tidak efisien dan meningkatkan risiko cedera. Latihan yang berlebihan tanpa waktu pemulihan yang cukup juga menjadi penyebab umum cedera pada pelari. "Ada pasien saya karena race-nya tiap minggu, dia harus latihan hampir tiap hari, tidak ada recovery, akhirnya terjadi overtraining itu bisa menyebabkan cedera,” tutupnya.BACA JUGA: