Bagikan:

JAKARTA – Qingtuan, kue hijau khas Festival Qingming di China, kini tidak lagi sekadar makanan musiman yang lekat dengan kenangan keluarga. Kudapan tradisional dari kawasan Jiangnan itu kini makin populer di pasar nasional, didorong rasa baru, penjualan ritel, dan media sosial.

China Daily dikutip Jumat, 10 April melaporkan, qingtuan yang dibuat dari beras ketan dan diberi warna hijau dari daun mugwort atau tanaman musim semi lain, tetap kuat sebagai bagian dari tradisi Qingming atau Hari Menyapu Makam. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, makanan ini juga berkembang menjadi produk musiman yang banyak dicari konsumen.

Perubahan itu terlihat dari kebiasaan pembeli. Huang Yu, 37 tahun, asal Zhejiang yang kini tinggal di Beijing, mengatakan ia tetap membeli qingtuan setiap tahun menjelang Qingming. Dulu, keluarganya membuat qingtuan sendiri di rumah setelah memetik daun mugwort di ladang. Sekarang, ia lebih sering membeli qingtuan yang sudah dijual di supermarket.

Di pasar, pilihannya juga makin banyak. Di platform Xiaohongshu, konten bertagar qingtuan telah ditonton ratusan juta kali. Di Douyin, video terkait qingtuan melampaui miliaran tayangan. Varian rasa baru, kolaborasi merek, hingga minuman bertema qingtuan ikut mendorong popularitasnya.

Di sebuah jaringan supermarket segar di Beijing, qingtuan mulai dijual sekitar sebulan sebelum Qingming. Ge Lijuan, penanggung jawab bagian makanan siap saji, mengatakan tahun ini tokonya menjual lebih dari 10 varian, mulai dari rasa tradisional seperti pasta kacang merah dan sayur asin, hingga rasa baru seperti keju asin ala Thailand, wijen hitam dengan pasta kurma merah, dan daging babi hitam.

Menurut Ge, penjualan qingtuan di tokonya naik dua kali lipat dibanding tahun lalu. Paket isi dua dijual 12 hingga 15 yuan, sedangkan paket isi empat berkisar 20 sampai 30 yuan.

Meski inovasi terus bertambah, rasa lama tetap paling kuat. Laporan Shangpu Consulting Group pada Februari menunjukkan 67 persen konsumen bersedia merekomendasikan qingtuan. Rasa tradisional menjadi pilihan utama dengan 43 persen, disusul varian inovatif 22 persen, dan pilihan rendah gula 16 persen.

Qingtuan sendiri punya jejak panjang dalam budaya China. Makanan ini disebut sudah ada lebih dari 2.000 tahun sejak Periode Musim Semi dan Gugur. Dulu qingtuan dipakai sebagai persembahan leluhur. Dalam perkembangannya, makanan ini berubah menjadi camilan musiman yang terkait erat dengan Qingming.

Di Shanghai, merek lawas Xinghualou yang telah berdiri lebih dari 170 tahun tetap menjual rasa klasik seperti kacang merah dan telur asin dengan abon babi. Pada saat yang sama, merek itu juga menambah isian baru seperti daging babi, rebung, jamur shiitake, serta versi kacang merah dengan gula 25 persen lebih rendah.

Konsumen muda pun ikut memperluas pasar qingtuan. Yang Xian, mahasiswa 24 tahun asal Nanjing yang kini belajar di Beijing, mengatakan ia sering membeli qingtuan untuk dibagikan kepada teman sekamarnya dan mengunggahnya ke media sosial bila rasanya menarik. Varian keju asin dari Hema menjadi favoritnya.

Di tengah perubahan rasa dan cara jual, daya tarik qingtuan tetap bertumpu pada hal yang sama yaitu tradisi, musim, dan kenangan yang dibawanya.