JAKARTA - Aktris peraih Oscar Meryl Streep kembali menyinggung jaket kontroversial yang pernah dipakai Melania Trump pada 2018. Menurut Streep, busana itu justru menjadi pesan paling kuat yang pernah dikirim ibu negara AS tersebut.
Dikutip dari HuffPost, Kamis, 9 April, pernyataan itu muncul dalam wawancara Vogue yang terbit Rabu untuk mempromosikan film “The Devil Wears Prada 2”. Dalam wawancara itu, mantan pemimpin redaksi Vogue Anna Wintour ditanya soal bagaimana perempuan seharusnya berpakaian untuk menunjukkan kekuasaan. Wintour lalu menyebut beberapa perempuan publik yang dinilai mampu menampilkan jati diri lewat busana, termasuk Michelle Obama, Rama Duwaji, dan Melania Trump.
“Sejujurnya, Melania Trump juga selalu tampak seperti dirinya sendiri saat berpakaian,” kata Wintour.
Komentar itu memancing respons Streep. Ia mengingat jaket bertuliskan “I Really Don’t Care, Do U?” yang dikenakan Melania saat mengunjungi anak-anak migran yang ditahan.
“Saya pikir pesan paling kuat yang dikirim ibu negara kita saat ini adalah lewat mantel bertuliskan ‘I Really Don’t Care, Do U?’,” kata Streep.
Streep lalu menambahkan bahwa pakaian memang menjadi cara seseorang mengekspresikan diri, tetapi pilihan busana juga selalu berada dalam arus ekspektasi sejarah dan politik yang lebih besar.
BACA JUGA:
Melania sebelumnya membela jaket tersebut. Kepada ABC News, ia mengatakan tulisan itu ditujukan kepada “orang-orang dan media sayap kiri yang mengkritik saya”, bukan kepada anak-anak migran.
Dalam wawancara yang sama, Streep juga menyoroti standar yang dikenakan pada perempuan berkuasa. Ia mengatakan perempuan di televisi kerap dituntut tampil dengan lengan terbuka, sementara laki-laki tetap tertutup dengan kemeja, dasi, atau jas.
Menurut Streep, ada semacam tuntutan agar perempuan tetap terlihat kecil dan tidak mengancam, bahkan ketika mereka memegang kekuasaan.
Artikel yang sama juga memuat komentar Jennifer Siebel Newsom, istri Gubernur California Gavin Newsom yang lebih memilih disebut sebagai mitra pertama California. Ia menyinggung dua tokoh konservatif, Kristi Noem dan Pam Bondi, yang menurutnya sempat memegang kekuasaan besar sebelum kehilangan posisi mereka. Newsom menilai ada pola ketika perempuan diangkat selama tetap melayani agenda yang membatasi hak dan otonomi perempuan.