JAKARTA - Industri perfilman Indonesia kembali kedatangan karya horor terbaru yang mengeksplorasi kearifan lokal. Dunia Mencekam Studio yang berkolaborasi dengan Rumah Produksi Santara resmi merilis teaser trailer untuk film perdananya yang berjudul Songko.
Film ini mengangkat kisah legenda yang hidup di tengah masyarakat Sulawesi Utara, khususnya wilayah Minahasa dan Tomohon. Lewat teaser perdana yang dirilis, Songko langsung menyuguhkan nuansa mencekam dari sebuah desa yang dihantui teror misterius di kaki Gunung Lokon.
Menariknya, Songko menjadi panggung debut penyutradaraan bagi Gerald Mamahit di kancah layar lebar. Sebelumnya, Gerald lebih dikenal publik sebagai penulis skenario untuk sederet film horor populer Tanah Air. Melalui film ini, ia tak sekadar menyajikan jumpscare, melainkan berusaha menggali kekayaan cerita rakyat dari Indonesia Timur.
"Songko adalah cerita yang sangat dekat dengan budaya dan legenda masyarakat Minahasa. Kami ingin menghadirkan horor yang terasa autentik, bukan hanya menakutkan secara visual, tetapi juga memiliki akar cerita yang kuat dari tradisi lokal," ujar Gerald Mamahit dalam keterangan resminya dikutip VOI, Kamis, 2 April.
Film ini lahir dari visi Rumah Produksi Santara yang melihat besarnya potensi cerita kedaerahan yang belum banyak dieksplorasi. Mengusung konsep hyperlocal storytelling, Santara tidak hanya menjadikan Sulawesi Utara sebagai latar visual semata.
Tim produksi bahkan secara khusus membangun set lokasi di kaki Gunung Lokon, Tomohon, yang diproyeksikan menjadi infrastruktur kreatif berkelanjutan. Ekosistem perfilman daerah ini juga diwujudkan dengan melibatkan mayoritas pemeran dan kru asli dari Minahasa, Manado, dan Tomohon.
Sederet aktor ternama Tanah Air turut didapuk membintangi Songko, antara lain Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak.
Bagi Khiva Iskak, proyek ini memberikan impresi magis tersendiri karena kedekatan cerita dengan kepercayaan masyarakat lokal. "Saat menjalani proses syuting di Tomohon, suasananya terasa sangat kuat dan mendukung atmosfer cerita. Itu membuat pengalaman bermain di film ini terasa sangat intens," ungkap Khiva.
Hal senada diungkapkan Annette Edoarda. Ia menyebut daya tarik Songko terletak pada konflik sosial yang mengiringi teror makhluk gaib.
"Ceritanya tentang ketakutan, tuduhan, dan bagaimana sebuah desa bisa terpecah karena teror yang tidak mereka pahami. Itu yang membuat cerita ini terasa sangat emosional sekaligus mencekam," jelas Annette.
Mengambil latar waktu tahun 1986, Songko menceritakan sebuah desa di Tomohon yang dicekam ketakutan luar biasa. Satu per satu perempuan muda di desa tersebut ditemukan tewas mengenaskan tanpa penjelasan logis.
Warga meyakini bahwa rentetan kematian itu adalah ulah Songko, entitas misterius yang dipercaya memburu darah suci perempuan muda demi meraih keabadian. Ketakutan massal itu memicu histeria dan kecurigaan yang akhirnya menyasar keluarga Mikha.
Ibu tiri Mikha, Helsye, dituding sebagai sosok yang memanggil Songko ke desa mereka. Ketika rasa takut bertransformasi menjadi kemarahan massal, desa pun terpecah belah. Persaudaraan retak dan konflik antarwarga meledak di tengah teror makhluk yang ternyata baru saja memulai aksinya.
BACA JUGA:
Bagi para pencinta horor lokal, rasa penasaran akan teror di tanah Minahasa ini harus disimpan sedikit lebih lama. Film Songko dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 23 April 2026 mendatang.