JAKARTA - Kuil Xuankong di Datong, Provinsi Shanxi, China, kembali ramai diburu wisatawan. China Daily dikutip Senin, 30 Maret melaporkan, lonjakan kunjungan terjadi setelah kuil kuno yang menempel di tebing curam itu muncul dalam gim populer Black Myth: Wukong.
Kuil berusia sekitar 1.500 tahun itu berdiri di sisi hampir tegak lurus Gunung Cuiping. Letaknya yang menggantung di tebing membuat bangunan ini menjadi salah satu objek wisata paling mencolok di China. Daya tariknya bukan hanya karena posisinya yang ekstrem, tetapi juga karena teknik bangunannya yang bertahan berabad-abad.
Balok-balok kayu kuil itu disusun tanpa paku dan ditanam jauh ke dalam batu. Dilansir China Daily, justru balok horizontal itulah yang menjadi kunci kekuatan bangunan, bukan pilar tegak yang terlihat dari luar.
Pakar warisan budaya setempat, Hao Weihe seperti ditulis China daily, menjelaskan balok-balok itu dibuat dari kayu hemlock yang kuat. Salah satu ujungnya dibentuk seperti gunting lalu ditancapkan ke tebing. Semakin masuk, balok itu disebut semakin kuat mencengkeram. Sekitar dua pertiga bagian tertanam di batu, sedangkan sepertiganya menopang struktur bangunan. Menurut Hao, tiap balok mampu menahan beban hingga beberapa ton.
BACA JUGA:
Popularitas baru kuil ini ikut mendorong ledakan pengunjung. Seorang wisatawan asal Ukraina, Yana, menulis di Douyin bahwa yang paling mengejutkannya adalah bangunan itu masih kokoh menggantung di lereng gunung setelah 1.500 tahun. Ia menyebut tempat itu sangat mengagumkan dan layak dikunjungi.
Lonjakan wisatawan membuat antrean masuk memanjang hingga berjam-jam pada musim ramai. Karena itu, otoritas setempat memutuskan memangkas kuota harian tiket naik ke kuil dari 3.275 menjadi 2.475 mulai Rabu. Langkah itu diambil untuk mengurangi beban pada struktur kuno tersebut.
China Daily menyebut, asal-usul pembangunan awal kompleks ini memang tidak tercatat jelas. Namun pandangan yang umum mengaitkannya dengan pendeta Tao Kou Qianzhi pada masa Dinasti Wei Utara. Konon, sebelum wafat, ia meminta murid-muridnya membangun “kuil di udara”. Kuil itu kemudian dipugar dan dibangun ulang pada berbagai dinasti berikutnya.
Selain nilai teknik bangunan, Kuil Xuankong juga menyimpan nilai budaya. Aula Tiga Ajaran memajang patung Buddha, Konfusius, dan Lao Zi dalam satu ruang. Pemandu wisata Zhu Zhifang mengatakan susunan itu mencerminkan harmoni antarajaran. Pengunjung juga bisa melihat detail ukiran pada ujung atap, genteng, dan jalur papan di kompleks kuil.