Bagikan:

JAKARTA - Di tengah padatnya kawasan perkotaan, ruang terbuka hijau menjadi kebutuhan yang semakin penting. Bukan hanya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang belajar, ruang interaksi sosial, sekaligus tempat masyarakat, terutama anak-anak mengenal alam secara lebih dekat.

Dalam beberapa tahun terakhir, tren wisata keluarga juga bergeser. Banyak orang tua mulai mencari tempat yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberi nilai edukasi bagi anak.

Ruang terbuka yang dikelola dengan baik dapat menjadi sarana belajar yang efektif. Anak-anak bisa berinteraksi dengan lingkungan, mengenal berbagai jenis tanaman dan hewan, hingga melatih keberanian serta kemampuan motorik melalui berbagai aktivitas fisik. Karena itulah, sejumlah ruang publik kini mulai mengembangkan konsep rekreasi berbasis edukasi.

Namun pengelolaan ruang terbuka hijau di kawasan urban tidak selalu mudah. Pada awalnya, banyak taman dibuka secara bebas untuk masyarakat. Seiring waktu, meningkatnya jumlah pengunjung sering kali memunculkan berbagai tantangan, mulai dari perawatan lingkungan hingga potensi penyalahgunaan area publik.

Kondisi inilah yang mendorong sejumlah pengelola kawasan untuk mulai menata ulang ruang terbuka agar tetap nyaman, aman, dan memberi manfaat lebih luas bagi pengunjung.

另请阅读:


- https://voi.id/info-sehat/562824/ikan-berlemak-hingga-buah-beri-ini-5-makanan-yang-identik-dengan-pola-makan-panjang-umur

- https://voi.id/bernas/560060/mengandung-gula-sederhana-kurma-tak-hanya-cocok-untuk-buka-puasa

- https://voi.id/lifestyle/561633/gejala-hipoglikemia-pada-anak

- https://voi.id/lifestyle/561631/rendah-kalori-ini-minuman-segar-untuk-buka-puasa-tanpa-takut-berat-badan-naik

- https://voi.id/info-sehat/560157/rahasia-sahur-sehat-agar-tidak-cepat-lemas-saat-puasa

[/see-also]

Pendekatan ini juga terlihat di kawasan Summarecon Serpong, Tangerang yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas baru. Selain dikenal sebagai kawasan hunian dan komersial, area ini juga menghadirkan berbagai ruang publik yang dirancang untuk aktivitas keluarga.

Salah satunya adalah SQP Park, ruang terbuka yang berada di kawasan Scientia Square. Area ini pada awalnya merupakan ruang hijau yang terbuka untuk umum. Namun dalam perkembangannya, pengelola mulai menata ulang kawasan tersebut agar lebih terjaga sekaligus memiliki program kegiatan yang lebih terarah.

Center Head SQP Park, Alese Sandria menjelaskan proses pengelolaan taman ini berkembang secara bertahap. Awalnya area tersebut hanya ruang terbuka hijau biasa, tetapi kemudian muncul kebutuhan untuk menata dan merawatnya dengan lebih baik.

“Awalnya ini memang ruang terbuka hijau yang bebas untuk masyarakat. Tapi seiring waktu kami melihat ada kebutuhan untuk mengelola area ini supaya lebih tertata dan tidak disalahgunakan. Dalam dua tahun terakhir kami banyak melakukan perbaikan dan inovasi, terutama supaya taman ini bisa menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak,” ujarnya di SQP Park,Jl. Scientia Boulevard, Tangerang, Banten pada Selasa, 10 Maret 2026.

Menurut Alese, pendekatan edukasi menjadi fokus utama pengembangan taman tersebut. Selama lebih dari satu dekade, kawasan ini dikenal sebagai salah satu tujuan kegiatan luar ruang bagi sekolah-sekolah, baik nasional maupun internasional. Program kunjungan belajar atau field trip menjadi salah satu aktivitas yang paling sering dilakukan di area ini.

“Banyak sekolah datang untuk kegiatan field trip. Mulai dari TK sampai SMP. Ada sekolah nasional, internasional, hingga beberapa sekolah dari luar kota juga datang. Mereka biasanya mencari pengalaman belajar di luar ruangan yang berbeda dari kelas,” kata Alese.

Konsep pembelajaran melalui pengalaman langsung inilah yang kemudian menjadi dasar berbagai aktivitas yang dihadirkan di taman tersebut. Anak-anak tidak hanya berjalan-jalan di taman, tetapi juga dapat mengikuti berbagai kegiatan yang melatih ketangkasan, keberanian, serta interaksi dengan alam.

Beberapa wahana dirancang untuk mendorong aktivitas fisik seperti area petualangan dengan rintangan tali, panjat dinding, hingga permainan yang melatih keseimbangan tubuh. Standar keamanan juga menjadi perhatian utama dalam pengoperasiannya.

“Untuk aktivitas petualangan, sistem pengamanannya mengikuti standar internasional. Anak-anak tetap bisa mencoba tantangan, tapi dengan prosedur keselamatan yang jelas,” tambahnya.

Selain itu, kawasan taman juga menghadirkan berbagai area tematik yang memungkinkan anak-anak berinteraksi dengan satwa. Pengalaman seperti memberi makan hewan atau melihat aktivitas satwa secara langsung sering kali menjadi momen yang paling berkesan bagi pengunjung muda.

Di sisi lain, kawasan ini juga mulai dikenal luas melalui media sosial, terutama karena sejumlah wahana unik yang menarik perhatian pengunjung. Salah satunya adalah kereta mini yang membawa pengunjung berkeliling taman, melewati berbagai area tematik yang dirancang seperti perjalanan di dunia cerita.

Sementara itu, pengembangan ruang publik seperti SQP Park tidak dapat dilepaskan dari perencanaan kawasan yang lebih luas. Kawasan Summarecon Serpong sendiri dirancang sebagai kota terpadu yang menggabungkan hunian, pendidikan, pusat bisnis, hingga ruang rekreasi dalam satu ekosistem.

Executive Director Summarecon Serpong, Albert Luhur mengatakan pengembangan kawasan tidak hanya berfokus pada pembangunan properti, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

“Pengembangan kawasan bukan sekadar membangun properti, tetapi membentuk ruang hidup yang bisa berkembang lintas generasi. Karena itu perencanaan kawasan harus memperhatikan integrasi fungsi, kualitas lingkungan, serta konektivitas yang memudahkan aktivitas masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan keberadaan ruang publik seperti taman dan fasilitas rekreasi menjadi bagian penting dari konsep kota terpadu. Ruang-ruang ini memberi kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga, maupun menghabiskan waktu bersama keluarga.

Di tengah perkembangan kota yang semakin cepat, keberadaan ruang terbuka hijau dengan pendekatan edukatif menjadi semakin relevan. Bagi anak-anak, pengalaman bermain di alam terbuka dapat menjadi sarana belajar yang tidak tergantikan. Sementara bagi orang dewasa, ruang tersebut menjadi tempat untuk beristirahat sejenak dari ritme kehidupan kota.

Kombinasi antara rekreasi, pendidikan, dan lingkungan yang tertata pada akhirnya menjadikan taman kota tidak sekadar ruang hijau, tetapi juga bagian dari gaya hidup urban yang lebih sehat dan berkelanjutan.