Bagikan:

YOGYAKARTA - Dalam sejarah peradaban Islam, nama dan kisah Bilal bin Rabah menduduki posisi yang istimewa. Ia bukanlah bangsawan Quraisy, bukan juga saudagar kaya raya, tetapi hanyalah seorang budak berkulit hitam dari Habasyah (Ethiopia) yang pada mulanya dipandang remeh oleh masyarakat Jahiliyah. Namun, Islam telah mengangkat derajatnya demikian tinggi, mengubah status sosialnya dari seorang hamba sahaya yang tertindas menjadi salah satu sahabat paling mulia di sisi Rasulullah SAW.

Kisah Bilal bin Rabah

Kisah Bilal bin Rabah juga menjadi simbol perlawanan terhadap rasisme dan bukti nyata bahwa dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak dilihat dari warna kulit, nasab, atau kekayaan, tetapi berdasarkan ketakwaan. Keteguhan hatinya dalam mempertahankan kalimat Tauhid di tengah siksaan yang keji, serta suara emasnya yang dipilih untuk mengumandangkan azan pertama di dunia, merupakan teladan bagi umat Islam hingga hari ini.

Dicambuk di Tengah Padang Pasir dan Ditindih Batu Besar

Dilansir dari NU Online, sebelum menjadi pemeluk Islam, Bilal adalah budak milik Umayyah bin Khalaf, seorang pembesar Quraisy yang sangat membenci dan memusuhi Nabi Muhammad SAW. Ketika Bilal memantapkan hatinya untuk beriman, Umayyah murka dan menyiksanya dengan cara yang sangat keji. Di tengah teriknya matahari gurun pasir Mekkah, Bilal dibaringkan di atas pasir panas, dicambuk, dan sebuah batu besar menindih dadanya.

Penyiksaan itu tentu bertujuan untuk memaksa Bilal kembali menyembah berhala Latta dan Uzza. Namun, di tengah rasa sakit yang tidak terkira dan napas yang tersengal, bibir Bilal hanya lirih mengucapkan satu kata yang menggetarkan langit: "Ahad, Ahad" (Allah Maha Esa, Allah Maha Esa). Keteguhan tersebut yang akhirnya menggerakkan hati Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memerdekakannya dengan harga yang mahal.

Kemuliaan Bilal: Muadzin Pertama dan Terompah di Surga

Setelah berhijrah ke Madinah, Rasulullah SAW mensyariatkan azan sebagai tanda masuknya waktu sholat. Dari banyaknya sahabat, Nabi Muhammad SAW memilih Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan panggilan mulia tersebut. Ini tentunya sebuah kehormatan luar biasa, menjadikannya Muadzin Pertama dalam Islam. Suaranya yang lantang dan merdu mampu menggetarkan hati kaum Muslimin untuk sujud.

Selain di dunia, kemuliaan Bilal juga terdengar hingga ke langit. Rasulullah SAW pernah menyampaikan kabar gembira (bisyarah) bahwa beliau mendengar suara langkah kaki (terompah) Bilal di dalam surga, padahal Bilal masih hidup di dunia.

Rasulullah SAW pernah bertanya kepada Bilal pada waktu shalat Subuh:

يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ

Artinya: "Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang paling engkau harapkan pahalanya dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara terompahmu (langkah kakimu) di hadapanku di dalam Surga."

Bilal menjawab: "Tidaklah aku melakukan suatu amalan yang lebih aku harapkan pahalanya daripada setiap kali aku bersuci (wudhu) di waktu malam atau siang, kecuali aku akan shalat sunnah (shalat syukrul wudhu) dengan wudhu itu, sebanyak yang Allah takdirkan untukku." (HR. Bukhari no. 1149 dan Muslim no. 2458)

Hadits ini menjadi bukti shahih bahwa keistiqamahan Bilal dalam menjaga wudhu dan shalat sunnah telah membuat Allah SWT meridhoinya sebagai penghuni surga.

Kisah Bilal bin Rabah tentu mengajarkan kita bahwa Islam datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT.

Bilal membuktikan bahwa keterbatasan fisik dan status sosial tidak menjadi penghalang untuk meraih derajat tinggi di sisi-Nya.

Demikian ulasan mengenai kisah Bilan bin Rabah yang dapat diteladani oleh umat Muslim. Semoga bermanfaat. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.