JAKARTA - Rangkaian Prambanan Shiva Festival 2026 ditutup dengan perhelatan Mahashivaratri di Lapangan Wisnu, Taman Wisata Candi Prambanan dengan menghadirkan penyalaan 1.008 dipa (pelita), Minggu malam.
Mahashivaratri yang pertama kali diadakan di Indonesia ini juga dikumandangkan damaru (alat musik) yang melambangkan persatuan umat dalam doa, menciptakan atmosfer yang mendukung meditasi mendalam demi kedamaian dan kesejahteraan di dunia (Jagadhita).
Ketua Tim Pemanfaatan Candi Prambanan I Nyoman Ariawan Atmaja mengatakan Mahashivaratri merupakan rangkaian Prambanan Shiva Festival 2026 ini merupakan momentum refleksi mendalam, penyucian jiwa, dan penguatan kebersamaan melalui rangkaian ritual sakral yang memadukan seni, budaya, dan spiritual nilai agung Candi Prambanan.
"Mahashivaratri merupakan salah satu hari suci terpenting bagi umat Hindu di seluruh dunia. Malam itu akan diperingati sebagai momen pemujaan kepada Dewa Shiva, Sang Pelebur, dan sumber kesadaran tertinggi dalam ajaran Hindu," katanya.
Menurut dia, di Indonesia, perayaan Mahashivaratri memiliki makna yang semakin kuat ketika dilaksanakan di kompleks Candi Prambanan yang merupakan kawasan candi Hindu terbesar di Indonesia.
"Bunyi damaru (gendang kecil Siwa) yang mengiringi ritual melambangkan menggugah umat untuk bangun dari ‘tidur spiritual’ dan mulai melangkah di jalan kebijakan. Mahashivaratri menjadi momentum transformasi bagi setiap individu untuk melepaskan beban masa lalu dan lahir kembali dengan kesadaran yang lebih jernih dan bijaksana," katanya.
BACA JUGA:
Mahashivaratri 2026 dimeriahkan dengan parade budaya dari Candi Kedulan ke Candi Prambanan yang menampilkan barisan pembawa benda sakral serta air suci dari 36 provinsi dan sembilan candi Nusantara yang telah disucikan oleh 35 Sulinggih.
Prosesi Maha Gangga Tirta Gamana, di mana air dipersatukan sebagai simbol pemurnian diri dan harmoni semesta tersimpan makna tentang keterhubungan manusia, alam, dan spiritualitas. ini sebagai simbol pembersihan diri dari segala kekotoran pikiran, perkataan, dan perbuatan.
"Memasuki inti ritual, umat mengikuti persembahyangan Abhisekam atau upacara penyucian candi yang terdiri dari Abhisekam Mahashivaratri sebagai ritual persembahan puncak serta dilanjutkan dengan Abhisekam 4 dan Abhisekam 5 yang merupakan persembahyangan hingga fajar menyingsing," katanya.
Suasana magis dihadirkan melalui Festival Dhipa dengan 1008 dipa yang dinyalakan secara serentak diiringi bunyi damaru yang menggetarkan sukma. Kemegahan visual juga akan dihadirkan melalui atraksi video mapping yang membalut candi dengan teknologi cahaya, di area concourse dengan dekorasi yang menambah kekhusyukan suasana.
"Melalui nyala dipa ini, manusia diingatkan untuk kembali pada keseimbangan hidup. Filosofi tiga sisi dipa mencerminkan energi Trimurti, Dewa Brahma sebagai penghasil cahaya awal, Dewa Wisnu sebagai penjaga harmoni dan kasih agar cahaya tetap hidup, serta Dewa Shiva yang melebur kegelapan untuk menuntun manusia menuju kesadaran diri tertinggi," katanya.
Mahashivaratri diselenggarakan secara kolaboratif oleh berbagai pihak, di antaranya Kementerian Pariwisata, Kementerian Agama melalui Dirjen Bimas Hindu dan Tim Pemanfaatan Candi Prambanan, Kementerian Kebudayaan, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan InJourney Destination Management.