YOGYAKARTA - Pernah kamu bermimpi di mana kamu punya kendali atas mimpi tersebut? Kamu sadar berada di dalam mimpi dan secara sengaja mengatur jalannya cerita dan melakukan hal-hal yang mustahil untuk dilakukan di dunia nyata.
Sebagian orang mungkin menganggap pengalaman tersebut hanya sebagai bunga tidur biasa. Namun, bagi sebagian lainnya, pengalaman itu terasa begitu nyata hingga sulit dibedakan dari kenyataan. Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai lucid dream.
Para ahli tidur dan psikolog telah lama meneliti fenomena ini untuk memahami bagaimana otak bekerja ketika seseorang menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi. Lantas apa yang sebenarnya terjadi? Apakah berbahaya? Lebih jauh soal lucid dream, simak pembahasan berikut.
Apa Itu Lucid Dream?
Dilansir dari Cleveland Clinic, Lucid dream adalah kondisi ketika seseorang menyadari bahwa dirinya sedang berada di dalam mimpi. Kesadaran ini biasanya muncul saat fase tidur REM atau rapid eye movement, yaitu fase tidur dengan aktivitas otak yang tinggi. Pada kondisi ini, mimpi terasa sangat hidup dan jelas.
Dalam lucid dream, seseorang tidak hanya sadar sedang bermimpi, tetapi juga dapat memengaruhi jalannya mimpi tersebut. Misalnya, seseorang bisa memilih untuk terbang, mengubah tempat, atau berinteraksi dengan karakter dalam mimpi secara sadar. Inilah yang membuat lucid dream terasa unik dan berbeda dari mimpi biasa.
Spesialis gangguan tidur, Alicia Roth, PhD, menjelaskan bahwa masih sedikit yang diketahui tentang orang-orang yang mengklaim memiliki kemampuan untuk mengendalikan atau memanipulasi mimpi mereka. Meskipun fase REM dapat diamati melalui studi tidur atau dengan pemindai MRI, belum ada cara pasti untuk mengetahui kapan seseorang benar-benar sedang bermimpi.
Tecatat sekitar 50 persen populasi dunia dilaporkan pernah mengalami lucid dream setidaknya sekali seumur hidup. Namun, hanya sebagian kecil yang mengalaminya secara rutin dan mampu mengendalikan mimpi dengan baik. Frekuensi lucid dream sangat bervariasi pada setiap individu.
BACA JUGA:
Banyak faktor yang memengaruhi seberapa sering seseorang mengalami mimpi lucid. Salah satunya adalah kemampuan mengingat mimpi dengan baik setelah bangun tidur. Orang yang sering mencatat mimpinya cenderung lebih mudah menyadari pola mimpi.
Selain itu, keterbukaan terhadap pengalaman baru dan imajinasi yang kuat juga berperan penting. Individu yang kreatif dan intuitif sering kali lebih mudah memasuki kondisi mimpi lucid dibandingkan orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa kepribadian dapat memengaruhi pengalaman mimpi.
Penyebab Terjadinya Lucid Dream
Gangguan tidur yang memengaruhi fase REM dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya lucid dream. Salah satu contohnya adalah narkolepsi, yaitu kondisi yang menyebabkan seseorang sering memasuki fase REM secara tiba-tiba. Penderita narkolepsi dilaporkan lebih sering mengalami mimpi lucid.
Penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di area otak tertentu selama lucid dream. Area otak yang biasanya tidak aktif saat tidur, seperti bagian yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, justru menjadi lebih aktif. Hal inilah yang memungkinkan munculnya kesadaran dalam mimpi.
Meski demikian, penyebab pasti lucid dream masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Para ahli sepakat bahwa lucid dream merupakan hasil interaksi kompleks antara kesadaran, memori, dan aktivitas otak selama tidur. Karena itu, fenomena ini masih terus dikaji hingga kini.
Apakah Lucid Dream Berbahaya?
Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa lucid dream berbahaya bagi kesehatan. Namun, upaya sengaja untuk memicu lucid dream dengan mengorbankan kualitas tidur dapat menimbulkan masalah. Kurang tidur dapat berdampak pada konsentrasi dan daya ingat.
Sengaja mengganggu tidur untuk memici lucid dream juga dapat meningkatkan stres dan risiko penyakit tertentu. Beberapa kondisi yang mungkin muncul antara lain tekanan darah tinggi dan gangguan metabolik. Oleh sebab itu, kualitas tidur tetap harus menjadi prioritas utama.
Selain itu, individu dengan gangguan kesehatan mental tertentu perlu lebih berhati-hati. Pada orang dengan psikosis atau halusinasi, lucid dream bisa memperburuk kebingungan antara mimpi dan kenyataan. Konsultasi dengan profesional sangat disarankan dalam kondisi ini.
Di sisi lain, lucid dream juga memiliki potensi manfaat yang menarik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lucid dream dapat membantu mengurangi kecemasan dan depresi. Kesadaran dalam mimpi memungkinkan seseorang menghadapi ketakutan secara aman.
Lucid dream juga sering digunakan untuk mengatasi mimpi buruk yang berulang. Dalam terapi tertentu, seseorang diajarkan untuk menulis ulang alur mimpi buruk menjadi lebih positif. Teknik ini dikenal sebagai terapi latihan imajinasi atau imagery rehearsal therapy.
Bisa disimpulkan, secara umum, lucid dream tidak berbahaya jika terjadi secara alami. Namun, memaksakan diri untuk mengalaminya dapat mengganggu kualitas tidur dan kesehatan. Karena itu, menjaga kualitas tidur tetap menjadi hal utama agar lucid dream tidak mengganggu kesehatan.
Selain pembahasan di atas, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!