YOGYAKARTA - Sibling rivalry atau persaingan antar saudara kadang terasa seperti drama tanpa jeda di rumah. Anak-anak bisa bertengkar soal hal sepele, dari berebut remote TV hingga saling mengejek tanpa henti. Selain melelahkan bagi orangtua, situasi ini juga bisa memengaruhi hubungan jangka panjang antar anak.
Namun, perlu dipahami bahwa sibling rivalry adalah hal yang sangat umum terjadi. Pertanyaannya, kapan situasi ini masih tergolong wajar dan kapan perlu ditangani secara serius? Anda sebagai orangtua perlu memahami akar masalahnya agar bisa mengelola situasi dengan lebih bijak.
Psikologi di Balik Sibling Rivalry
Dilansir dari Purewow, Dr. Bethany Cook, psikolog klinis berlisensi dan penulis For What It’s Worth: A Perspective on How to Thrive and Survive Parenting, menyebut sibling rivalry sebagai “efek samping yang sepenuhnya normal dari anak-anak yang berbagi sumber daya orangtua yang sama.”
Dalam pandangan Alfred Adler, anak cenderung bersaing untuk mendapatkan validasi agar tidak merasa inferior. Hal ini diperkuat oleh kecenderungan anak untuk membandingkan diri dengan saudara terdekatnya. Dr. Cook menjelaskan bahwa “anak-anak mengukur diri mereka dengan kelompok terdekatnya sering kali saudara kandung dengan menggunakan keberhasilan dan kegagalan untuk menilai harga diri mereka.”
Faktor lain yang tak kalah penting adalah perlakuan orangtua yang berbeda, meski tidak disengaja. Perbedaan kecil dalam perhatian atau aturan bisa berdampak besar pada hubungan antar saudara. Dr. Cook menegaskan bahwa “bahkan perbedaan kecil terbukti secara konsisten dapat memicu lebih banyak konflik dan rasa kesal di antara saudara.”
Selain itu, perbedaan karakter juga menjadi faktor lain yang memunculkan Sibling rivalry. Dr. Cook mengatakan, “Perbedaan individu dalam hal impulsif, reaktivitas emosional, dan keterampilan sosial membuat beberapa pasangan lebih mudah terpicu/tersulut dibandingkan yang lain.”
10 Cara Mengatasi Sibling rivalry
Setelah mengetahui akar masalahnya, selanjutnya Anda butuh pendekatan yang tepat untuk mengatasi situasi ini. Menurut Dr. Cook, berikut 10 hal yang bisa Anda lakukan sebagai orangtua untuk mengatasi sibling rivalry:
- Jadilah pelatih, bukan wasit
Dr. Cook menyarankan, “Alih-alih memutuskan siapa yang ‘benar’, bimbing anak untuk bernegosiasi dan menemukan solusi yang bisa diterima bersama.” Ajak mereka mengungkapkan perasaan dan kebutuhan masing-masing. Dengan begitu, anak belajar berkomunikasi dan berkompromi.
- Tetap tenang dan netral
Reaksi Anda sebagai orangtua sangat memengaruhi suasana konflik. Dr. Cook mengingatkan bahwa “emosi itu menular jika Anda tetap tenang, anak-anak akan lebih cepat tenang dan konflik akan mereda.” Sikap tenang lebih cepat membantu meredakan situasi.
- Prioritaskan Keterampilan Pengaturan Emosi
Anak membutuhkan contoh dari orangtua untuk belajar mengelola emosi. Dr. Cook menyarankan, “Latih anak mengenali perasaan, menarik napas dalam, atau berhenti sejenak sebelum kembali berinteraksi.” Dengan latihan sederhana ini, anak lebih siap menghadapi konflik tanpa ledakan emosi.
- Kurangi perlakuan yang berbeda
Memang tidak semua aturan bisa sama untuk setiap anak. Meski demikan, penting bagi Anda untuk menberikan penjelasan sehingga anak mengerti kenapa ada perbedaan aturan. Pastikan juga setiap anak mendapatkan waktu dan perhatian yang seimbang.
- Dorong aktivitas kerja sama
Berikan anak tujuan bersama agar mereka belajar bekerja sama. Dr. Cook mengatakan, “Beri anak tujuan bersama sehingga keberhasilan bergantung pada kerja sama.” Ini membantu mengubah perspektif dari kompetisi menjadi kolaborasi.
BACA JUGA:
- Hargai keunikan masing-masing anak
Setiap anak memiliki minat dan kemampuan yang berbeda. Hindari memberi label seperti “yang pintar” atau “yang atletis” karena bisa memperkuat persaingan. Fokuslah pada minat dan kemampuan unik masing-masing anak.
- Ajarkan cara komunikasi yang sehat
Kalimat sederhana bisa membantu anak menyampaikan perasaan. Dr. Cook menekankan pentingnya mengajarkan frasa-frasa sederhana yang mudah diucapkan anak sehingga mereka bisa menyampaikan perasaan tanpa harus berteriak atau menyerang. Ini juga menjadi bekal penting dalam hubungan sosial mereka.
- Tetapkan aturan keluarga yang jelas
Buat aturan dasar seperti tidak boleh memukul atau menghina. Jelaskan konsekuensinya sejak awal dan terapkan secara konsisten. Kepastian aturan membuat anak merasa lebih aman dan tahu batasan.
- Luangkan waktu khusus dengan tiap anak
Setiap anak membutuhkan perhatian eksklusif dari orang tua. Dr. Cook menjelaskan, “Waktu berdua membantu ‘mengisi tangki perhatian’ setiap anak sehingga mereka tidak perlu bersaing untuk mendapatkannya.”
- Cari bantuan profesional jika diperlukan
Jika situasi ini berlangsung terus-menerus atau sudah mengarah pada kekerasan, jangan ragu mencari bantuan ahli. Terapis keluarga dapat membantu mengidentifikasi akar masalah dan memberikan solusi terbaik.
Itulah 10 hal yang bisa Anda lakukan untukmengatasi sibling rivalry. Ketika anak terbiasa berkomunikasi, berempati, dan mencari solusi bersama, hubungan mereka justru bisa tumbuh lebih kuat. Dengan demikian, rumah tidak lagi menjadi arena persaingan tetapi ruang belajar yang hangat bagi setiap anggota keluarga.
Selain pembahasan di atas, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!