TANGERANG SELATAN – Rumah produksi Wokcop Pictures secara resmi memulai proses syuting film drama keluarga terbaru berjudul Surat Ke 8. Film ini menjanjikan kisah menyentuh tentang cinta abadi, pengorbanan, serta tantangan generation gap yang kerap mewarnai dinamika keluarga modern.
Surat Ke 8 mempertemukan Aurora Ribero, Arief Didu, dan Unique Priscilla dalam satu layar. Kolaborasi lintas generasi ini menjadi inti emosional cerita yang menyoroti relasi antara orang tua dan anak.
Berpusat pada komunikasi yang terputus, film ini mengisahkan kehadiran surat-surat tak terduga yang menyimpan pesan penuh makna. Surat tersebut menjadi ruang dialog bagi hal-hal yang selama ini terpendam dalam sebuah keluarga.
Cerita yang Dekat dengan Kehidupan
Aurora Ribero, yang memerankan karakter Cahaya, mengungkapkan ketertarikannya sejak pertama kali membaca naskah. Menurutnya, kesederhanaan cerita menjadi kekuatan utama film ini.
“Ceritanya sederhana, tapi dalam. Surat Ke 8 terasa sangat dekat dengan kehidupan banyak orang karena ada peran anak, bapak, ibu, partner—jadi banyak yang bisa relate. Packaging-nya simpel, tapi banyak rasa yang akan didapat,” ujar Aurora dikutip VOI dari siaran media, Jumat, 9 Januari.
Disutradarai oleh Franklin Darmadi, Surat Ke 8 memosisikan surat sebagai simbol komunikasi yang intim dan personal di tengah era digital.
“Film ini bukan hanya tentang kehilangan, tetapi tentang bagaimana cinta tanpa syarat itu bekerja,” ujar Franklin. “Surat-surat menjadi jembatan yang menghubungkan hati yang terpisah, mengajarkan kita bahwa merelakan bukanlah kekalahan, melainkan puncak dari sebuah keikhlasan.”
BACA JUGA:
Refleksi Hubungan Ayah dan Anak
Bagi Arief Didu yang memerankan tokoh Fajar, film ini menawarkan refleksi mendalam tentang sosok ayah. Ia menilai isu generation gap yang diangkat sangat relevan dengan kondisi keluarga di Indonesia saat ini.
“Semua yang dilakukan seorang ayah pada dasarnya adalah cerminan dari keinginannya agar anaknya baik-baik saja. Masalahnya, sering kali ada hal-hal yang tidak tersampaikan dengan baik, sehingga anak tidak sepenuhnya memahami isi pikiran orang tuanya,” tutur Arief.
Senada dengan Arief, Unique Priscilla yang berperan sebagai Mentari melihat film ini menyoroti peran ibu secara lebih manusiawi. Ia belajar bahwa sosok ibu sering kali menjadi penengah di tengah ego anggota keluarga lainnya.
“Dari film ini aku belajar bahwa menjadi seorang ibu itu tidak mudah. Ia sering menjadi perekat antara bapak, anak, dan anggota keluarga lainnya, menjaga agar komunikasi tetap berjalan dalam kondisi apa pun,” ungkapnya.
Melalui pendekatan yang reflektif, Surat Ke 8 mengajak penonton untuk merenungkan kembali pentingnya komunikasi dan empati. Film ini menjadi pengingat bahwa rumah adalah tempat terbaik untuk belajar menerima perbedaan sudut pandang, serta menghargai arti melepaskan dengan ikhlas.