Bagikan:

JAKARTA - Post holiday blues merupakan kondisi emosional sementara yang kerap muncul setelah masa liburan atau perayaan berakhir.

Perasaan enggan kembali ke rutinitas, menurunnya semangat, hingga munculnya rasa hampa sering dialami ketika seseorang harus kembali menghadapi tuntutan sehari-hari setelah periode istirahat yang menyenangkan.

Psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog menjelaskan post holiday blues dapat dialami oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga pekerja.

“Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan peralihan dari aktivitas menyenangkan ke tuntutan sehari-hari, dan betul bisa dihadapi oleh siapa saja termasuk anak sekolah, mahasiswa maupun pekerja kantoran,” kata Virginia, saat dihubungi ANTARA dari Jakarta.

Ia memaparkan terdapat sejumlah tanda yang dapat menunjukkan seseorang mengalami post holiday blues. Gejala tersebut antara lain perasaan sedih, murung, atau hampa tanpa sebab yang jelas, serta menurunnya motivasi untuk kembali menjalani aktivitas sekolah maupun pekerjaan.

“Mudah lelah, lesu atau sulit konsentrasi, gangguan tidur, mudah tersinggung atau merasa cemas ketika dihadapkan oleh kewajiban, serta perasaan 'tidak siap' untuk menghadapi rutinitas kembali,” tutur dia.

Virginia menegaskan kondisi ini bukanlah gangguan mental, melainkan respons adaptif tubuh dan pikiran terhadap perubahan rutinitas serta meningkatnya tuntutan setelah masa libur berakhir.

Menurutnya, post holiday blues masih tergolong wajar apabila berlangsung dalam hitungan beberapa hari hingga satu sampai dua minggu. Seiring berjalannya waktu, suasana hati dan energi umumnya akan kembali menyesuaikan dengan rutinitas harian.

Meski demikian, Virginia mengingatkan agar kondisi ini tidak diabaikan apabila berlangsung lebih lama dari dua minggu. Dalam situasi tersebut, seseorang disarankan untuk mencari bantuan profesional, seperti psikolog klinis atau psikiater.

“Tidak ada waktu yang pasti untuk menentukan sampai kapan post holiday blues akan bertahan," ujar psikolog yang berpraktik di Personal Growth itu.

"Kita perlu waspada apabila mereka bertahan lebih dari dua minggu, gejalanya semakin berat atau sudah mengganggu keberfungsian individu di akademik atau pekerjaan, karena bisa jadi mereka bukan lagi post holiday blues,” tambah dia.