Bagikan:

JAKARTA - Perasaan cemas atau tidak bersemangat setelah kembali dari liburan merupakan hal yang umum dialami banyak orang. Kondisi ini sering disebut sebagai post holiday blues, yakni fase ketika seseorang harus beradaptasi kembali dari suasana santai selama liburan ke rutinitas harian yang lebih padat. Meski terasa tidak nyaman, kondisi ini sebenarnya bisa diatasi dengan cara yang tepat.

Guru Besar Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa salah satu kunci untuk mengurangi kecemasan tersebut adalah dengan mengubah cara pandang menjadi lebih positif.

"Untuk menghindari dari holiday blues ini adalah kita harus tahu bahwa di dalam kehidupan kita di kantor enggak semuanya merasa enggak nyaman, karena kita bisa bertemu teman-teman dan tetap punya waktu bersama keluarga di akhir pekan,” ujarnya.

Menurutnya, post holiday blues umumnya ditandai dengan perasaan cemas, sedih, kurang motivasi, hingga hilangnya semangat setelah kembali dari aktivitas liburan yang menyenangkan ke rutinitas sehari-hari.

Ia menambahkan, meskipun penumpukan pekerjaan setelah liburan sulit dihindari, hal tersebut dapat dikelola dengan membuat skala prioritas. Dengan begitu, seseorang bisa menentukan pekerjaan mana yang harus diselesaikan lebih dulu dan mana yang masih bisa ditunda.

Selain itu, penting juga untuk memahami kondisi diri sendiri saat kembali ke aktivitas normal. Adaptasi dapat dilakukan secara bertahap, misalnya dengan memberi waktu istirahat atau mulai membiasakan kembali rutinitas pagi sebelum benar-benar kembali bekerja penuh.

"Hal itu membuat kita kemudian jadi terbiasa lagi untuk melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan, sehingga tidak tiba-tiba harus bangun pagi. Dengan begitu, kita bisa menyesuaikan diri secara bertahap," jelasnya.

Romy juga mengingatkan pengalaman liburan tidak selalu berjalan sempurna. Ada kalanya muncul kendala, baik saat perjalanan maupun saat berkumpul dengan keluarga. Namun, dengan sudut pandang yang lebih positif, momen tersebut tetap bisa dimaknai sebagai pengalaman berharga.

"Semua tergantung dari cara kita berpikir. Kalau dilihat negatif, semuanya bisa terasa negatif. Tapi kalau kita melihat sisi positifnya, itu justru bisa menyegarkan,” tuturnya.