JAKARTA - Ada hubungan yang cukup kuat antara dehidrasi dan kesehatan mental. Saat tubuh kekurangan cairan, bisa terjadi perubahan hormon, penurunan fungsi kognitif, gangguan tidur, serta berbagai gejala fisik lain yang tidak nyaman, semuanya dapat memengaruhi suasana hati.
Hal ini mungkin menjelaskan hasil dari dua penelitian pada tahun 2018 dan 2024. Jika digabungkan, keduanya menunjukkan bahwa orang yang minum lebih sedikit air cenderung lebih sering merasa cemas, depresi, hingga memiliki pikiran untuk bunuh diri.
Tentu saja, ini bukan berarti air adalah penyebab atau solusi utama gangguan mental. Namun, penelitian-penelitian tersebut menunjukkanasupan air memiliki peran penting dalam kondisi pikiran kita.
Untuk memahami lebih jauh, psikolog Susan Albers, PsyD menjelaskan bagaimana dehidrasi memengaruhi otak dan kondisi psikologis, sekaligus memberikan beberapa tips agar tetap terhidrasi dan membantu memperbaiki suasana hati.
Sekitar 60% tubuh kita terdiri dari air. Jadi, tidak mengherankan jika hidrasi berpengaruh besar pada kesehatan mental. Dr. Albers selalu menanyakan kebiasaan minum kepada pasiennya.
“Saya selalu tanya berapa banyak air yang diminum, karena itu sangat memengaruhi suasana hati, sama seperti makanan dan tidur,” tuturnya, dikutip dari laman Cleveland Clinic.
Ia juga menyarankan kita untuk lebih memperhatikan asupan air setiap hari.
“Anda tidak perlu punya gangguan mental agar dehidrasi memengaruhi mood,” jelasnya.
“Gejalanya mungkin ringan, tapi tetap penting. Kalau dikumpulkan, efeknya terasa," lanjutnya.
Jika tubuh kekurangan cairan, berikut beberapa dampaknya:
1. Menyebabkan ketidakseimbangan hormon
Kurang minum dapat meningkatkan hormon stres (kortisol), sementara hormon yang berkaitan dengan perasaan senang justru menurun. Akibatnya, zat kimia otak seperti serotonin, dopamin, dan oksitosin ikut berkurang. Kondisi ini bisa membuat seseorang lebih mudah marah, sedih, atau merasa lelah.
2. Memicu respons “fight or flight”
Ketidakseimbangan hormon juga memengaruhi fungsi tubuh lainnya. Saat kadar kortisol meningkat, tubuh masuk ke mode siaga (fight or flight).
Ini dapat memunculkan gejala yang mirip kecemasan, seperti jantung berdebar cepat, napas menjadi lebih cepat, berkeringat, dan otot tegang. Meski sebenarnya tidak sedang cemas, gejala-gejala ini tetap bisa mengganggu suasana hati.
BACA JUGA:
3. Membuat tubuh terasa tidak nyaman
Dehidrasi tidak hanya membuat tubuh 'siaga', tetapi juga menimbulkan rasa tidak nyaman secara fisik. Sulit merasa baik secara mental jika kondisi tubuh sedang tidak prima. Gejalanya bisa meliputi sakit kepala, kelelahan, kram otot, dan sembelit.
“Kesehatan fisik dan mental itu sangat berkaitan. Kalau tubuh tidak dalam kondisi baik, pikiran biasanya ikut terpengaruh,” jelas Dr. Albers.
4. Mengganggu fungsi otak
Dehidrasi dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh. Padahal, elektrolit seperti natrium, kalsium, magnesium, dan kalium sangat penting untuk fungsi otak.
Ketika terganggu, hal ini bisa memengaruhi kefokusan, kemampuan berpikir, proses belajar, pengambilan keputusan, memori, kecepatan berpikir, dan pemahaman bahasa.
Akibatnya, muncul kondisi yang sering disebut “brain fog” atau otak terasa berkabut.
“Otak butuh cukup cairan agar koneksi saraf bekerja dengan baik. Kalau cukup minum, kamu bisa lebih fokus, tajam, dan jernih berpikir.” kata Dr. Albers.
Brain fog sering muncul bersamaan dengan depresi. Kabar baiknya, jika dehidrasi hanya bersifat sementara, minum air bisa membantu memulihkan fungsi otak dengan cepat. Namun, jika berlangsung lama, dampaknya bisa lebih serius.
5. Mengganggu tidur
Kurang tidur dapat memperburuk suasana hati dan dehidrasi bisa membuat kualitas tidur menurun. Banyak orang sengaja mengurangi minum agar tidak bolak-balik ke kamar mandi di malam hari. Namun, dehidrasi justru dapat membuat lebih sulit untuk tertidur dan mempertahankan tidur yang nyenyak. Disarankan untuk berhenti minum sekitar dua jam sebelum tidur, tetapi tetap memenuhi kebutuhan cairan sepanjang hari.
Tips menjaga hidrasi untuk kesehatan mental
Menjaga keseimbangan cairan tubuh sering kali dianggap sepele, padahal dampaknya bisa meluas hingga ke kondisi emosional seseorang. Banyak orang tidak menyadari bahwa kurang minum air dapat memengaruhi suasana hati, konsentrasi, hingga tingkat stres dalam aktivitas sehari-hari.
Ketika tubuh mulai kekurangan cairan, otak pun ikut merasakan efeknya, sehingga respons emosional menjadi kurang stabil.
“Hubungan antara dehidrasi dan mood itu seperti jungkat-jungkit. Semakin sedikit minum, semakin tinggi stres.” beber kata Dr. Albers.
Hal ini juga menjelaskan mengapa saat sedang stres atau depresi, kita justru semakin sulit merawat diri, termasuk memenuhi kebutuhan cairan.
Beberapa tips yang bisa dicoba:
- Gunakan alarm sebagai pengingat minum
- Kaitkan kebiasaan minum dengan rutinitas lain (misalnya setelah makan
- Minum air segera setelah bangun tidur
- Catat asupan air (menggunakan aplikasi atau secara manual)
- Selalu bawa botol minum
- Kurangi konsumsi kafein dan alkohol (karena dapat mempercepat kehilangan cairan)
- Konsumsi makanan tinggi air, seperti buah dan sayur
- Buat minum air lebih menarik, misalnya dengan menambahkan buah
- Lebih peka terhadap kondisi tubuh dan tanda-tanda dehidrasi
- Perhatikan asupan elektrolit (misalnya dari air kelapa, teh herbal, atau susu)