YOGYAKARTA – Dalam pembelajaran aqidah dan akhlak agama Islam, kisah Uwais Al Qarni kerap kali dijadikan sebagai pembelajaran. Pasalnya banyak nilai moral yang dapat diambil dari kisah tersebut. Artikel ini akan memberikan informasi kepada Anda terkait cerita tentang Uwais Al Qarni.
Kisah Uwais Al Qarni
Dalam artikel berjudul Nilai-nilai Pendidikan Akhlak pada Kisah Uwais Al-Qarni yang ditulis oleh Rianawati dan M. Edi Kurnanto (Journal of Research and Thought of Islamic Education:2019), dijelaskan bahwa ada beberapa kisah Uwais Al Qarni yang dapat dijadikan sebagai pelajaran yakni sebagai berikut.
- Uwais Al Qarni dan Keimanannya
Diceritakan bahwa pada zaman Nabi Muhamad SAW, hiduplah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang tinggal di negeri Yaman. Uwais sendiri berasal dari keluarga yang sangat miskin dengan seorang ibu yang buta dan lumpuh. Meski begitu Uwais sangat berbakti kepada ibunya. Ia bahkan rela bekerja sebagai penggembala kambing milik saudagar kaya.
Perlu diketahui bahwa Uwais lahir saat Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Karena syiar Islam yang sangat santer, Uwais masuk sebagai salah satu orang yang mau memeluk agama Islam. Sayangnya keputusan itu membuat orang lain yang tidak sependapat dengannya justru meradang
Hingga pada suatu hari, Uwais ditangkap oleh pasukan Bazan. Penangkapan itu dilakukan karena Uwais dianggap membelot dan tak mau menyembah tuhan yang mereka sembah. Pasukan Bazan kemudian menyiksa Uwais dengan berbagai cara, termasuk memukulnya hingga berdarah.
Uwais juga diikat di sebuah tiang agar seluruh penduduk Yaman menyaksikan Uwais dan menjadikannya sebagai contoh. Namun kejadian tersebut tidak membuat Uwais gentar, ia tetap meyakini bahwa Allah SWT adalah Tuhannya dan Muhammad adalah Rasulnya
BACA JUGA:
- Uwais Al Qarni yang bakti kepada ibunya
Uwais dikenal sebagai anak yang berbakti kepada ibunya. Bahkan ia setia menemani dan merawat ibunya. Hingga pada suatu ketika, sang ibu meminta agar bisa menunaikan ibadah haji. Sang ibu membutuhkan Uwais untuk menggendongnya selama menunaikan ibadah tersebut.
Ketika tiba musim haji, Uwais benar-benar menggendong ibunya yang telah sakit itu untuk menuju Makkah. Walaupun tubuh ibunya berat, Uwais tetap menggendongnya selama perjalanan haji tersebut. Sikap itu dilandasi dengan niat tulus untuk memenuhi keinginan ibunya untuk melaksanakan ibadah haji.
Setelah perjalanan yang panjang, mereka sampai di Kabah hingga membuat sang ibu terharu. Uwais berdoa untuk ibu tercinta agar dosa-dosanya diampuni. Ibunya bertanya tentang dosa-dosanya, dan Uwais meyakinkan ibunya bahwa dengan terampuninya dosa, ibu akan masuk surga.
Doa Uwais terkabulkan, ibunya sembuh dari penyakitnya. Uwais membuktikan bahwa kesetiaan dan pengorbanan terhadap ibu membawa berkah dan kebaikan, serta menunjukkan cinta yang tulus dalam memenuhi setiap permintaan ibu.
Itulah kisah Uwais Al Qarni yang dapat diteladani. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.