YOGYAKARTA - Ketika pergi liburan ke Bali, Anda tentunya akan disuguhkan oleh pemandangan alam yang indah dan juga beragam kuliner yang lezat. Selain itu, Anda juga akan menjumpai rumah adat Bali yang unik.
Bagi Anda yang pernah melakukan kunjungan ke Bali, pasti pernah melihat rumah adat setempat dengan sesajen yang disediakan di sekitarnya. Nah, selain menjadi ciri khas budaya Bali, ada juga sejumlah filosofi yang terkandung di dalamnya.
Menurut Prof Dr Ir Putu Rumawan Salain selaku Dosen di Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana, rumah adat Bali memiliki filosofi yang disebut Tri Hita Karana. Filosofi ini diterapkan agar sebuah bangunan rumah mempunyai fungsi yang bermanfaat tetapi tetap mengandung nilai budaya.
Sebagai informasi, Asta Kosala Kosali adalah aturan mendirikan rumah dalam masyarakat Bali. Dalam aturan tersebut, dijelaskan bagaimana mendirikan rumah dengan menentukan luas dan tata letak di dalam ruangan.
BACA JUGA:
Nama-nama Rumah Adat Bali
Setelah memahami aspek-aspek dan filosofi dalam mendirikan rumah adat Bali, berikut beberapa rumah adat Bali beserta keunikan dan ciri khasnya dilansir dari Antara.
Aling-Aling
Aling-aling adalah bagian rumah adat Bali yang dapat dijumpai di Pulau Seribu Pura. Bangunan rumah Aling-aling berguna sebagai pembatas antara bagian luar dan angkul-angkul.
Aling-aling mempunyai makna sebagai perwujudan energi positif dan baik untuk keharmonisan rumah. Ciri khas dari rumah adat ini yaitu terdapat dinding pembatas berupa batur dengan tinggi sekitar 150 cm yang sering disebut penyeker.
Selain dijadikan pembatas antara bagian luar, rumah adat Aling-aling umumnya juga dijadikan pembatas antara angkul-angkul dengan tempat ibadah. Aling-aling identik sebagai privasi pemilik rumah, sebab tamu yang datang harus masuk lewat samping kiri dan jika keluar rumah melalui samping kanan.
Bale Manten
Bale Manten merupakan salah satu rumah adat Bali yang umumnya diperuntukkan untuk kepala keluarga atau anak perempuan yang belum menikah. Tujuan Pembangunan rumah adat ini yaitu sebagai bentuk perhatian keluarga kepada anak gadis agar kesuciannya tetap terjaga.
Ciri khas dari rumah adat Bale Manten adalah mempunyai bentuk bangunan persegi panjang yang terletak di sebelah utara bangunan utama. Selain itu, rumah adat ini mempunyai dua ruangan, yaitu bale kanan dan bale kiri.
Angkul-Angkul
Daftar rumah adat Bali selanjutnya adalah Angkul-angkul. Jika Anda tengah berkunjung ke pulau Dewata, Anda dapat menemukan rumah masyarakat yang berbentuk seperti Candi Bentar dan letaknya ada di depan bangunan rumah yang berfungsi sebagai pintu masuk.
Ciri khas dari rumah adat Angkul-angkul yaitu memiliki atap penghubung yang terbuat dari rumput kering. Namun, seiring perkembangan zaman, saat ini sudah banyak masyarakat yang menggantinya dengan genteng dan terdapat ukiran pada dindingnya.
Bale Sekapat
Bale Sekapat yaitu bagian dalam rumah adat Bali yang berfungsi sebagai tempat santai keluarga. Ciri khas dari rumah adat Bali ini yaitu terdapat empat tiang yang berfungsi sebagai penyangga, dan bagian atapnya berbentuk pelana.
Bale Sekapat mempunyai filosofi tersendiri, dengan adanya bangunan ini diharapkan sebuah keluarga mempunyai hubungan yang harmonis serta lebih akrab antara satu sama lain.
Bale Dauh
Bale Dauh yaitu rumah adat Bali yang difungsikan untuk menerima tamu dan juga sebagai tempat tidur bagi anak remaja laki-laki. Bale Dauh terletak di bagian barat rumah utama dengan ketinggian lantai yang lebih rendah dari Bale Manten.
Keunikan dari Bale Dauh ada pada jumlah tiang yang berbeda antara satu rumah dengan rumah lainnya. Selain itu, ada sebutan khusus untuk jumlah tiang tersebut.
Jika suatu rumah mempunyai tiang berjumlah enam disebut sakenem, dan jika tiangnya ada delapan disebut sakutus atau antasari. Adapun jika tiang rumahnya ada sembilan disebut sangasari.
Klumpu Jineng
Klumpu Jineng adalah rumah adat Bali yang berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus terdapat tempat penyimpanan atau lumbung padi. Ciri khas dari Klumpu Jineng yaitu mempunyai struktur bangunan panggung dengan atap dan dinding di bagian luarnya tertutup jerami kering. Umumnya digunakan sebagai lumbung gabah setelah dijemur.
Bale Gede
Bale Gede yaitu rumah adat Bali yang mempunyai ruangan berukuran paling besar di antara rumah adat Bali yang lain. Rumah adat ini berguna sebagai tempat perayaan upacara adat, baik untuk bersama keluarga ataupun masyarakat sekitar.
Pura Keluarga
Pura Keluarga yaitu rumah adat Bali yang sering digunakan oleh pemiliknya sebagai tempat beribadah. Keberadaan bangunan ini wajib dimiliki oleh semua masyarakat Bali, baik itu dalam ukuran kecil ataupun besar.
Pura Keluarga terletak di area timur laut rumah. Selain dijadikan sebagai tempat beribadah, Pura Keluarga juga disebut sebagai pamerajan atau sanggah.
Pawarengan
Pawarengan adalah rumah adat Bali yang difungsikan untuk menyimpan dan mengolah makanan, atau bisa disebut sebagai dapur. Rumah adat ini terletak di sebelah selatan atau barat laut rumah.
Ciri khas dari Pawarengan yaitu rumahnya dibagi menjadi dua, rumah yang pertama dimanfaatkan untuk memasak, sementara rumah yang kedua digunakan untuk menyimpan makanan, alat dapur, dan lain sebagainya.
Lumbung
Rumah adat Bali ini digunakan untuk menyimpan bahan makanan pokok, antara lain beras, jagung, sayur-sayuran, dan lain sebagainya. Karena hanya digunakan sebagai tempat menyimpan makanan pokok, luas Lumbung lebih kecil dibandingkan Bale dan rumahnya juga dipisahkan dari bangunan utama.
Itulah ulasan mengenai jenis-jenis rumah adat Bali. Semoga bermanfaat. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.