Bagikan:

JAKARTA - Di tengah menjamurnya peralatan dapur berbahan silikon dan plastik, sendok kayu sering kali dianggap sebagai perlengkapan dapur jadul. Meski begitu, alat sederhana ini masih menjadi andalan di dapur dan tetap digemari oleh para koki maupun juru masak rumahan. Lalu sebenarnya apa yang membuat sendok kayu begitu populer? Amankah digunakan untuk memasak? Jawabannya tentu aman digunakan.

Menurut Brandon Moore, salah satu pendiri Lancaster Cast Iron, perusahaan peralatan masak buatan Amerika yang berbasis di Pennsylvania, sendok kayu nyaman digenggam, mudah digunakan, dan terlihat serasi sebagai satu set peralatan dapur.

Moore yang juga merancang dan memasarkan peralatan kayu perusahaannya menambahkan, sendok kayu kuat dan tahan lama, tetapi tidak menggores permukaan panci atau wajan.

Selain itu, sendok kayu juga lebih ramah lingkungan, terutama jika diproduksi oleh perusahaan yang berupaya menjaga rantai pasok dan kemitraan tetap lokal.

Pendapat serupa disampaikan Meryl Feinstein, pengembang resep sekaligus pendiri Pasta Social Club. Ia mengandalkan sendok kayu saat membuat risotto.

"Kayu enak dipakai dan digenggam. Lebih menyatu dengan tangan dan terasa lebih nyaman,” katanya, dikutip dari laman Martha Stewart.

Hal ini penting, apalagi saat harus terus-menerus mengaduk risotto dalam waktu lama. Sendok kayu aman untuk digunakan. Hal ini disampaikan oleh Dr. Ben Chapman, profesor dan peneliti keamanan pangan dari North Carolina State University yang juga rutin menggunakan peralatan dapur berbahan kayu di rumahnya sendiri.

Dari sudut pandang mikrobiologi, hingga saat ini tidak ada bukti bahwa sendok kayu atau talenan kayu menyebabkan keracunan makanan.

Jika dibandingkan dengan plastik, logam, atau silikon, menurutnya tidak ada satu bahan yang mutlak paling aman. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Sifat berpori pada kayu sering dianggap sebagai kelemahan. Padahal, justru di situlah letak kelebihannya dalam hal keamanan pangan. Dr. Chapman menjelaskan kayu mengalami proses kapiler, di mana air atau bakteri di permukaan akan terserap masuk ke dalam serat kayu.

Akibatnya bakteri di permukaan tersebut kehabisan tempat hidup dan tidak memperoleh lingkungan yang mendukung untuk berkembang biak. Selain itu, kayu memiliki sifat antimikroba alami.

Selama proses evolusi, tumbuhan mengembangkan mekanisme pertahanan untuk melawan bakteri dan parasit. Sifat ini tetap ada meskipun kayu sudah diolah menjadi sendok atau talenan.

Masalah utama pada peralatan kayu bukan terletak pada bahannya, melainkan pada cara perawatannya. Menurut Dr. Chapman, sendok kayu harus benar-benar kering setelah dicuci. Proses pengeringan ini sebaiknya dilakukan di tempat dengan sirkulasi udara yang baik dan idealnya memakan waktu setidaknya 24 jam, tergantung suhu dan kelembapan.

Jika sendok belum kering sempurna, sifat “penekan bakteri” dan kemampuan antimikrobanya belum dapat bekerja secara optimal. Untuk talenan, gunakan rak pengering dan pastikan tidak ditumpuk.

Sementara untuk sendok, jika disimpan di wadah peralatan, posisikan bagian sendok menghadap ke atas dan gagang menghadap ke bawah agar aliran udara maksimal dan air bisa turun ke bawah mengikuti gravitasi.

Jadi kapan waktu yang tepat untuk mengganti sendok kayu?

“Kuncinya adalah rutin memperhatikan kondisinya." kata Dr. Chapman.

Jika sendok mulai retak, sulit kering, atau talenan terlihat memiliki alur dan goresan dalam, itu tandanya sudah waktunya dipertimbangkan untuk mengganti yang baru. Peralatan dapur yang sudah tidak dalam kondisi baik bisa mengurangi keamanan dan kenyamanan saat memasak.