Bagikan:

JAKARTA – Dunia perfilman Indonesia bersiap menyambut gebrakan baru lewat Pelangi di Mars, film anak garapan sutradara Upi yang menghadirkan teknologi produksi setara Hollywood. Alih-alih memakai metode animasi konvensional, film ini mengandalkan Extended Reality (XR) dan Virtual Production—teknologi yang lazim digunakan dalam produksi internasional.

Sutradara Upi menjelaskan bahwa Pelangi di Mars merupakan perpaduan kompleks antara live action dan animasi yang dibuat menggunakan game engine.

“Teman-teman kalau tahu game Fortnite atau GTA, teknologinya sama. Kita menggunakan software yang sama, namanya Unreal Engine,” ungkap Upi di kawasan Jakarta Pusat, Senin, 24 November.

Melalui teknologi ini, tim produksi menciptakan visual planet Mars dalam bentuk 3D, kemudian memproyeksikannya ke layar LED raksasa sebagai latar syuting.

“Jadi saat syuting, kita tinggal loading file-nya, pilih background, nanti dia akan real-time. Seperti syuting asli, hanya saja background-nya digital,” jelasnya.

Namun Pelangi di Mars bukan sekadar pamer teknologi. Film ini membawa pesan nasionalisme yang kuat. Di balik kisah yang ramah anak, hadir narasi tentang Indonesia sebagai pemimpin dunia dalam misi penting di planet Mars.

Penulis skenario Alim Sudio mengungkapkan alasan yang membuatnya tertarik mengembangkan cerita ini. Dalam film, berbagai negara mengirimkan robot ke Mars, tetapi pemimpin misi justru adalah anak Indonesia bernama Pelangi bersama robotnya, Batik.

“Ide yang saya beli adalah: di Mars ada robot-robot dari bangsa lain, tapi pemimpinnya Pelangi dan Batik,” ujar Alim.

“Jadi kalau film ini mendunia, ya… Indonesia memimpin penemuan air murni di Mars,” sambungnya.

Direktur Utama PFN, Rivan Fajarsyah, turut menyoroti kuatnya unsur kebangsaan dalam film ini.

“Film ini bercerita tentang kebangsaan. Mungkin ini film pertama Indonesia yang akhirnya Indonesia jadi jagoan di antara seluruh jagoan dunia,” ujarnya.

Misi besar ini sejalan dengan ambisi Pelangi di Mars untuk menjadi IP (Intellectual Property) kebanggaan Indonesia—yang diharapkan dapat bersaing dengan ikon global seperti Doraemon hingga Marvel.