Bagikan:

JAKARTA - Bimo Kusumo dan Kristo Immanuel menceritakan rasa bangga mereka bergabung dengan film Pelangi di Mars. Film produksi Mahakarya Pictures ini menggabungkan teknologi CGI, XR (Extended Reality), dan Unreal Engine untuk kualitas filmnya.

Sebagai sesama kreator konten yang bergelut di bidang peniru suara (impersonate), keduanya menyebut film arahan Upie Guava itu menyorot dunia pengisi suara secara menyeluruh.

“Ini film pertama dengan pengisi voice actor di Indonesia dan Pelangi di Mars membuka jalan, bahkan ada body actor yang bisa apresiasi. Indonesia punya semuanya,” kata Bimo Kusumo di Jakarta Selatan pada Kamis, 19 Februari.

Kristo Immanuel menjelaskan, “Happy banget (bergabung) apalagi melihat skala film yang luar biasa dan animasinya terus workflow-nya. Cara mas Upie men-direct dengan live action.”

Sutradara Upie Guava menjelaskan, film Pelangi di Mars dibuat karena ingin menghidupkan cerita pahlawan dari Indonesia yang nantinya karakternya juga dicintai oleh penonton dan masyarakat Indonesia.

“Saya punya anak dan tumbuh dengan Back to the Future, Star Wars. Saya merasa cerita dewasa itu tentang penaklukan dunia,” kata Upie Guava.

“Saya ngerasa ketika muncul IP ini ketika muncul di trailer, di baju, tas, coloring book dan berbagai platform lebih gampang disukai anak-anak dan kalau hubungannya sama dari pertama memberi alternatif tontonan karena bangsa yang besar yang imajinasi anak-anaknya tidak pernah dibatasi,” jelasnya.

Film Pelangi di Mars diisi suara oleh Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, Livy Renata, Myesha Lin, Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Bimo Kusuma dan masih banyak lainnya.

Ada pun, film Pelangi di Mars menjadi salah satu film Indonesia yang tayang di Lebaran pada Maret mendatang.