JAKARTA - Aktor Jourdy Pranata kembali berakting dalam film komedi romansa terbaru, Yakin Nikah. Melalui film ini, aktor kelahiran 2 Januari itu merasa kedekatan antara karakter dengan dirinya.
Aktor 31 tahun itu berperan sebagai Gerry, mantan kekasih Niken (diperankan Enzy Storia). Karakter yang cukup dekat itu memiliki sedikit kesamaan dengannya sehingga ia lebih mudah dalam berakting.
“Secara karakter, dia orangnya impulsif, fun, terus punya komitmen isu karena bercermin dari kehidupan orang tuanya. Gerry bisa dibilang broken home, bapak ibunya sudah bercerai dari dia SMA jadi banyak dia menyerap proses itu untuk dia terhadap hubungan relationship dia semenjak proses itu. Makanya ada impulsif, ada takut berkomitmen tapi sayang, setia,” cerita Jourdy Pranata soal karakternya kepada VOI beberapa waktu lalu.
Di usia kepala tiga, Jourdy menceritakan dirinya masih merasa jauh dari kata pernikahan. Fokusnya saat ini mencari nafkah dan terus berakting dalam berbagai proyek. Hal itu terbukti lantaran tiga tahun belakangan, ia tampil dalam lima film yang dirilis setiap tahun.
Tahun ini saja, setidaknya ada enam film yang sudah ditayangkan di bioskop. Menariknya, tiga di antara film-film itu berkaitan dengan pernikahan.
“Awalnya aku memandang soal pernikahan itu masih kayak “Hah masih lama, masih lama” jadi hal yang ringan aja tapi semenjak belajar dan menyelami Gerry, jadi kayak semakin yakin. Oh, ternyata pernikahan memang bukan keputusan yang mudah terus tidak ada faktor yang lebih penting kecuali memang itu munculnya dari dalam diri sendiri karena itu yang Gerry alami,” jelasnya mengaitkan dengan karakternya.
“Jadi faktor nikah itu bukan dari luar, bukan dari orang tua, teman-teman, sosial, agama, semuanya bukan tapi dari diri sendiri,” katanya.
Kedekatan itu juga terasa hingga latar belakang yang serupa tapi tak sama. Dalam film arahan Pritagita Ariaanegara itu, karakter Gerry diceritakan tinggal dengan ibunya karena berpisah dengan ayahnya. Di dunia nyata, Jourdy tinggal bersama ibunya setelah sang ayah meninggal dunia.
“Jadi yang ku pelajari dan kulakukan saat meriset soal Gerry, bagaimana caranya dia memprioritaskan orang tuanya which is tinggal satu terus bagaimana caranya Gerry itu karena kalau tinggal satu pasti gua prioritasin ibu gua. Tapi umur gue segini, gue juga pengin menikah tapi pengin kerja gitu jadi gue harus dengerin yang mana ya. Nah, itu yang aku lihat ke kehidupan aku juga, aku prioritasin mamaku tapi mamaku kayak “Ayo dong mana jodohnya?” sedangkan ini lagi asik kerja tapi kita tahu permintaan ini muncul dari orang yang kita sayang, yang kita prioritasin, tapi apakah itu membuat seorang Jourdy jadi besok nikah? Ya enggak juga!” katanya antusias.
“Sangat refleksi karena berada di stage usia dan kehidupan yang sama sebetulnya, tinggal perbedaan prioritas dan point of view aja sebetulnya,” lanjut pria keturunan Minangkabau.
Pandangan setelah Yakin Nikah
Bicara soal pernikahan, beberapa tahun istilah waithood (wait + adulthood) mulai ramai digaungkan. Melansir UNDP, istilah ini merujuk kepada momentum generasi milenial menunda pernikahan untuk menikah pada usia yang lebih matang. Jika sebelumnya menikah muda mulai ramai, fenomena waithood memutar balikkan hal tersebut.
Alhasil, saat ini pemikiran untuk menikah di bawah umur 30-an bukan solusi utama serta melanggengkan bahwa menikah di atas 30-an tetap dipandang sebagai pilihan yang layak. Jourdy Pranata juga merasa tidak masalah pada usianya sekarang, ia masih fokus membangun kariernya.
“Aku malah melihat benar-benar pernikahan adalah proses kita menemukan diri kita sendiri, proses kita menemukan kesiapan itu apa enggak, jadi kalau balik lagi ulang, kalau berdasarkan tuntutan itu kayaknya bukan itu yang kita harus lakukan untuk mengambil keputusan pernikahan. Aku rasa zaman sekarang semua anak-anak seusiaku atau di atas sedikit atau di bawah sedikit sudah melek akan itu,” ujar Jourdy.
“Happiness kita itu yang harus didengar apa ketika kita menikah, apa mimpi-mimpi yang kita tulis sudah checklist semua atau semua mental, fisik, ekonomi itu semuanya udah siap, kayaknya orang sudah melek akan hal itu jadi aku memprioritaskan happiness aku. Terus semua orang kayak “(Umur) kau sudah matang nanti busuk, ya busuk kan pilihan gue!” katanya lagi.
Bicara soal proyek filmnya tahun ini, Jourdy baru menyadari kalau ia banyak memerankan film tentang menikah. Bukan disengaja, ternyata ia merasa di usianya sekarang lebih dipercaya untuk bermain dalam film dewasa.
“Aku kalau ngambil proyek melihat apa yang bisa ku kasih buat proyek ini, mungkin tahun ini bukan kebetulan tapi memang akhirnya adalah cerminan seorang Jourdy yang sudah melek dan sudah mulai melihat pernikahan semakin dekat. Mungkin di usiaku yang sekarang sudah lebih berani karena sudah fase, dulu waktu umur 25 kayaknya tidak berani ngambil karena sama sekali gak relate, fokusnya ke situ,” kata Jourdy Pranata.
“Kalau dulu umur 25, 26 kan peran bapak anak 1 kayaknya belom deh Jour, tapi range-nya semakin terbuka karena physically sudah memenuhi walaupun aku lebih senang lagi dapet karakter anak SMA. Semakin senang range-nya semakin luas dan aku gak pernah mengkotakan, malah seneng kalo masih ada proyek jadi anak sma, wow berarti gue masih muda! Physically masih believable,” jelasnya.
Pada saat konferensi pers, Jourdy Pranata juga dengan lantang menyatakan keyakinannya untuk menikah. Berkat bicara dengan para aktor yang berpengalaman, ia mulai terbuka meski sejujurnya ia mengaku punya skeptis terhadap membina rumah tangga. Akan tetapi, setidaknya hari ini keyakinan itu mulai bertumbuh.
“Ada sekecil di dalam perasaan aku kayak berarti gue udah siap dong? Berarti kayaknya, skeptisnya sudah dikurangin deh Jour, sudah harus coba buka dikit kasih fokus dikit ke arah sana mungkin gak ada yang tau, tahun depan atau lima tahun lagi lo akan mengalami fase itu,” ceritanya lagi.
“Aku percaya pernikahan itu juga membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Jadi misalnya nanti ada kesempatan atau ada rasa, ada siap nah itunya tuh didengerin! Karena selama ini gak didengerin karena selama ini “siap apaan? karier belum ada, ya mungkin ada tapi dikit”. Mungkin taaruf, mungkin dijodohin,” tutup Jourdy Pranata.