YOGYAKARTA – Pernahkah Anda mendengar istilah tone deaf? Istilah ini sempat bersliweran di lini masa media sosial beberapa waktu belakangan, digunakan netizen untuk menggambarkan individu atau kelompok yang tidak peka terhadap situasi yang sedang terjadi. Lantas, apa itu tone deaf?
Secara harfiah, tone deaf dapat diartikan tuli nada. Istilah ini sering digunakan di dunia musik untuk menyebut individu yang tidak dapat membedakan nada atau menyanyikan nada dengan tepat. Akan tetapi, belakangan, arti tone deaf meluas menjadi seseorang yang tidak peka terhadap keadaan sosial.
Agar lebih memahaminya, mari simak arti tone deaf dalam artikel berikut ini.
Apa itu Tone Deaf?
Dikutip dari kaus Merriam Webster, makna tone deaf merujuk pada ketidakpekaan atau kurangnya persepsi, terutama dalam hal sentimen, opini, atau selera publik. Sederhananya, arti tone deaf adalah tidak memiiki empati.
Individu yang dilabei tone deaf bisa jadi kurang peka terhadap kondisi di sekitarnya, seperti adat, norma, aturan, dan lain sebagainya.
Dalam konteks sosial, makna tone deaf sekilas tampak mirip dengan sifat egois. Akan tetapi keduanya sebenarnya merupakan hal yang berbeda.
Karakter egois membuat individu tetap mengedepankan kepentingan sendiri meski mengetahui dampak tindakannya pada orang lain.
Sedangkan arti tone deaf adalah ketidakmampuan untuk memahami situasi yang terjadi. Individu atau kelompok dengan sikap ini cenderung tidak peka secara emosional dan kurang berempati teradap orang lain.
Individu dengan tone deaf cenderung menutup diri untuk orang di sekitarnya. Mereka tidak peduli dengan orang lain, bahkan tidak mau tahu apakah ada perasaan yang disakiti atau tidak.
BACA JUGA:
Apa Saja Ciri-Ciri Tone Deaf?
Berikut beberapa karakteristik atau ciri individu ya memiliki sifat tone deaf:
- Tidak Bisa Membaca Situasi
Individu dengan karakter tone deaf mungkin tidak bisa membaca situasi di sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap normal sosial
- Sulit Memahami Adat Istiadat
Seseorang yang kurang peka secara emosional sering kali kesulitan memahami adat seperi apa yang ahrus diikuti sehingga tetap mebawakebiasaan seharu-hari. Dampaknya, mereka bisa saja berbuat hal-hal yang dianggap kurang pantas.
- Melontarkan Pernyataan yang Meremehkan
Seseorang yang tone deaf sering kali melontarka pernyataan yang meremehkan, terutama yang berkaitan dengan isu sosial-politik. Mereka yang dianggap tone deaf cenderung menjadikan isu sensitif sebagai lelucon atau memberikan pernyataan yang meremahkan,
- Menggunakan Humor yang Menyinggung
Pemilik karakter tone deaf sering menggunakan humor yang menyinggung. Hal ini karene mereka tidak menyadari bahwa apa yang sudah diucapkan telah menyakiti orang lain.
Bagaimana Contoh Penggunaan Istilah Tone Deaf?
Berikut beberapa contoh penggunaan istilah tone deaf di dalam kalimat beserta artinya:
- The CEO’s joke about layoffs during the meeting felt incredibly tone deaf. (Lelucon CEO tentang pemutusan kerja saat rapat terasa sangat tidak peka)
- Posting a luxury vacation photo during a national crisis can come across as tone deaf. (Mengunggah foto liburan mewah saat krisis nasional bisa terlihat sangat tidak peka)
- His comments about how “everyone can afford it” sounded tone deaf to people struggling financially. (Komentarnya tentang “semua orang bisa membelinya” terdengar tidak peka bagi orang-orang yang sedang kesulitan keuangan).
Demikian informasi tentang apa itu tone deaf. Dapatkan update berita pilihan lainnya hanya di VOI.ID.