Bagikan:

YOGYAKARTA - Anak sulit makan, hanya mau jenis makanan tertentu, atau menolak sayur dan buah? Itulah beberapa ciri-ciri anak picky eater yang seringkali membuat orang tua khawatir!

Sebagai orang tua, penting untuk mengenali tanda-tanda awal anak yang pilih-pilih makanan. Dengan pemahaman yang tepat, Anda bisa mengambil langkah bijak agar kebutuhan nutrisi tetap tercukupi dan anak tumbuh sehat sesuai tahapan usianya.

Mengenali Ciri-Ciri Anak Picky Eater

Menurut Dr. Toomey, mendefinisikan picky eating pada anak sebagai kesulitan makan, baik yang sifatnya sementara maupun berlangsung lebih lama (hingga sekitar 2 tahun). Dalam penjelasannya di laman Feeding Matters, ia memberikan beberapa ciri anak picky eater, yaitu:

  • Memiliki preferensi yang sangat kuat terhadap makanan tertentu.
  • Hanya mau makan jenis makanan yang sangat terbatas.
  • Menolak mencoba makanan baru.
  • Menolak makanan yang dianggap benar atau jumlah yang sesuai.
  • Lebih mudah marah atau kesal saat makan dibanding teman sebayanya.
  • Membutuhkan menu khusus yang dibuatkan orang tua.
  • Bisa menunjukkan pola makan berbeda tergantung situasi atau tempat.

Baca juga artikel yang membahas BAB Berdarah tapi Tidak Sakit, Apakah Berbahaya? Ini Penjelasan Medisnya

Gangguan Makan yang Lebih dari Sekadar Picky Eater

Smentara itu, Meghan Feehan, PsyD, seorang psikolog sekaligus manajer layanan klinis di Atlantic Health System, menjelaskan tentang diagnosis klinis yang relatif baru yang bernama ARFID (Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder). Kondisi ini mulai banyak dialami anak-anak dan remaja.

“Jika anak sangat menolak mencoba makanan baru dan hanya mau makan jenis tertentu dalam jumlah sangat terbatas,” jelasnya, “hal ini bisa menyebabkan penurunan berat badan serta kekurangan gizi yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan otak.”

ARFID ternyata berbeda dari sekadar picky eater biasa. Menurut Dr. Feehan, gangguan ini bisa muncul dalam tiga bentuk:

Kurang minat makan, anak enggan mencoba makanan baru atau tidak merasa makan itu menyenangkan.

Sangat selektif, menolak makanan karena tekstur, aroma, atau rasa.

Takut makan, karena merasa makanan bisa menyebabkan sakit, tersedak, mual, atau alergi.

“Ketiga tipe ini sering tumpang tindih, dan semuanya berakar pada kecemasan,” ujar Dr. Feehan. “Bagi sebagian anak, mencoba makanan baru terasa menakutkan dan memicu stres. Akhirnya mereka terbiasa menghindari banyak jenis makanan, dan siklus ini terus berulang.”

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Menurut Dr. Feehan, kebanyakan orang tua baru datang ke kliniknya setelah cukup lama menghadapi masalah makan anak dan merasa sudah butuh pertolongan profesional.

Sebelumnya, para orang tua biasanya sudah mencoba berbagai cara, mulai dari melibatkan anak dalam belanja dan memasak, makan di restoran dengan menu ramah anak seperti nugget ayam atau spaghetti, mencatat makanan yang dikonsumsi untuk memantau perkembangan, hingga memberikan dukungan dan mencoba mengganti jenis makanan. Namun, picky eater tetap berlanjut.

Dalam kondisi seperti ini, intervensi terapi menjadi langkah terbaik, jelas Dr. Feehan. Dengan terapi perilaku kognitif, anak-anak akan dibantu untuk membangun rasa percaya diri agar  mengubah pola pikir mereka terhadap makanan yang terlalu terbatas.

Selain pembahasan mengenai ciri-ciri anak picky eater, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di  VOI, untuk mendapatkan kabar terupdate jangan lupa follow dan pantau terus semua akun sosial media kami!