YOGYAKARTA - Sebagai orang tua atau wali, Anda tentu ingin memastikan anak tumbuh dan berkembang dengan baik, baik secara akademis maupun emosional. Namun, seringkali anak menyembunyikan kesulitan yang sedang dialaminya di sekolah. Berikut dijelaskan tanda anak menyembunyikan masalah di sekolah dan membantunya mengatasi dengan penuh empati.
1. Penurunan nilai akademis
Anak mungkin menunjukkan penurunan nilai secara tiba-tiba atau prestasi yang memburuk, padahal Anda tahu mereka telah berusaha. Ini bisa menandakan bahwa mereka kesulitan memahami materi atau mengalami stres yang membuat konsentrasi terganggu. Situasi ini patut diwaspadai karena bisa jadi ada penyebab yang lebih mendalam, seperti kecemasan atau tekanan emosional.
2. Menghindari sekolah
Jika anak sering pura-pura sakit, terlambat, atau meminta izin tidak masuk sekolah, bisa jadi ini bukan sekadar malas. Biasanya, hal ini menjadi tanda adanya stres, kecemasan, atau tekanan lain yang membuat mereka merasa tidak nyaman untuk menghadapi hari sekolah.
3. Perubahan perilaku
Anak yang biasanya ceria dan terbuka berubah menjadi pendiam, mudah marah, atau menarik diri bisa jadi menyiratkan adanya tekanan internal. Sudut pandang atau suasana hati yang berubah drastis seringkali merupakan isyarat adanya sesuatu yang tidak beres. Anda mungkin melihat mereka lebih mudah reaktif atau tampak lelah secara emosional.
4. Hilangnya minat terhadap kegiatan sekolah
Jika anak mulai menunjukkan ketidaktertarikan terhadap aktivitas sekolah yang dulu mereka nikmati, seperti ekstrakurikuler atau hobi, ini adalah sinyal penting. Perubahan semacam ini bisa menandakan kelelahan, merasa tidak mampu, atau merasa tidak terhubung dengan teman-temannya.
5. Gangguan tidur
Kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari, atau tetap merasa lelah meski sudah tidur cukup, bisa menjadi gejala stres atau kecemasan yang berhubungan dengan sekolah. Mengutip Crown Adolescent Health, Senin, 8 September, kondisi seperti ini mengganggu fokus dan energi anak, sehingga prestasi akademik dan kesejahteraannya bisa menurun.
6. Perubahan pola makan
Stress dapat memengaruhi nafsu makan. Anak bisa menjadi sangat lapar atau justru kehilangan selera makan sama sekali. Pola makan yang berubah drastis semacam ini patut diperhatikan sebagai bagian dari respons emosional terhadap tekanan sekolah.
7. Keluhan fisik tanpa sebab jelas
Sering mengeluh sakit kepala, perut, atau gangguan fisik lainnya yang muncul terutama pada hari sekolah bisa jadi tubuh sedang merespons stres emosional. Perasaan tidak nyaman di sekolah sering terwujud lewat gejala fisik seperti ini.
8. Tidak menyelesaikan atau menunda pekerjaan rumah
Jika anak konsisten tidak menyelesaikan PR atau sering terlambat mengumpulkan tugas, itu dapat menandakan ia merasa kewalahan atau tidak yakin akan kemampuannya. Penundaan atau ketidakteraturan bisa jadi merupakan cara menghindari rasa takut gagal.
BACA JUGA:
Mengenali tanda-tanda di atas adalah langkah awal yang sangat penting untuk membantu anak. Langkah selanjutnya adalah membangun komunikasi yang penuh empati, menciptakan ruang aman di rumah untuk anak berbicara, dan mencari dukungan tambahan bila diperlukan baik lewat guru, konselor, atau profesional kesehatan mental. Dengan perhatian, kehadiran, dan kehangatan ortu, akan membantu anak kembali merasa nyaman dan berkembang secara optimal di sekolah dan kehidupannya sehari-hari.