YOGYAKARTA – Dalam dunia yang kian kompetitif, ortu tampaknya juga punya ambisi besar memberikan banyak fasilitas bagi anak-anaknya. Fasilitas berupa berbagai kelas, baik kelas mengikuti ekstra kurikuler, hobi, hingga mata pelajaran tambahan. Tetapi perlu dipahami wahai parents, anak-anak bisa tertekan apabila banyak hal yang harus ia lakukan sampai-sampai tak punya waktu jeda. Para ahli memaparkan, tanda yang harus dikenali saat anak-anak merasa tertekan. Berikut daftar dan penjelasannya.
1. Sering menghindar dan mendunda
Ketika anak merasa kewalahan, tetapi tak ingin mengecewakan orang tua mereka, berbagai alasan akan mereka utarakan untuk menghindar atau menunda aktivitasnya. Baik itu sakit, kehilangan barang tertentu, atau bergerak dengan lambat.
“Pertimbangkan apa dan mengapa anak mengambil kelas tari atau kelas matematika tambahan,” saran psikolog klinis Lisa Damour dilansir Huffpost, Minggu, 20 April.
Jika alasan tersebut bukan karena minat anak, atau karena keinginan orang tuanya, itulah saatnya ortu berpikir bagaimana cara yang paling pas. Kalau kewajiban, mungkin anak-anak tak bisa menghindarinya. Tetapi kalau kelas tambahan, ortu harus menimbang cara agar anak menyukainya dan enggak stres dalam mengikuti kelas-kelasnya.
Saran Damour, lakukan percakapan terbuka dengan anak-anak Anda. Sehingga membuka kesempatan mereka menjelaskan perasaannya dan hal-hal yang benar-benar ingin mereka kerjakan.
2. Tampak sensitif
Anak-anak yang tampak tidak fokus, tidak termotivasi, mudah tersinggung, mungkin mereka membutuhkan waktu istirahat. Anak-anak dan remaja seharusnya tidur antara 9-11 jam pada malam hari. Selain itu, mereka membutuhkan waktu istirahat siang hari untuk mengisi ulang tenaga.
Ketika stres anak meningkat, terjadilah kejadian yang tak terduga, kata psikolog pendidikan Michele Borba. Tidurnya akan terganggu, tingkat energinya menurun, dan kemampuan fokusnya berkurang.
Memang penting bagi anak-anak menghadapi hal-hal sulit agar mereka tumbuh. Tetapi mereka harus bisa pulih dengan baik. Baik pulih secara energi maupun mental. Jika anak Anda tampak tak senang berpartisipasi dalam suatu kegiatan, mungkin saatnya memberinya waktu istirahat dan bertanya apakah merkea masih bisa menikmati aktivitas tersebut setelah istirahat.
3. Mereka mampu tetapi tak terlibat
Dalam mengembangkan keterampilan, seorang anak perlu terlibat sepenuhnya dalam kegiatan tertentu. Perlu diketahui, anak-anak yang termotivasi secara intrinsik oleh minat dan keinginannya cederung mengungguli mereka yang didorong oleh orang tua mereka.
“Ketika mereka benar-benar menikmatinya, mereka akan lebih ulet melakukannya. Mereka terus belajar lebih cepat, dan ada kebutuhan untuk itu,” jelas Borba.
Kalau anak Anda kapasitas dan keterampilannya tidak terbangun, mungkin saatnya memberi waktu istirahat. Mereka mungkin melakukan sekedar melakukan kewajiban, tetapi tidak tertarik untuk meningkatkan keterampilannya atua mencapai tujuan baru. Berbeda kalau anak sedang jenuh, mereka membutuhkan dukungan atau dorongan ekstra dari orang tua.
4. Orang tua lebih peduli daripada anak-anak
Setiap anak memiliki bakat yang unik. Sebagian pandai dalam bidang akademik, ada pula yang berbakat dalam bidang atletik, atau bidang lainnya. Ini yang perlu sekali dikenali oleh orang tua. Karena memaksakan sesuatu yang bukan bakatnya, akan membuat mereka merasa tertekan.
“Sering kali ortu fokus pada kelemahan dan kekuarangan anak-anaknya, bukan kekuatan, bakat, atau apa yang mereka bisa lakukan dengan benar,” kata Borba.
Hal yang paling enggak beres adalah ketika anak dan orang tua tidak sejalan tentang tujuan. Ketika ortu lebih peduli dengan apa yang dikerjakan anaknya tanpa mengetahui bagaimana seutuhnya yang dinikmati anak-anaknya, tentu akan membuat mereka tertekan. Kata Damour, menekan anak dengan lebih keras akan jadi bumerang. Sarannya, lakukan percakapan terbuka dan cari tahu pilihan terbaik bagi anak Anda.
BACA JUGA:
5. Kurang senang dalam beraktivitas
Menyaksikan anak-anak berpartisipasi dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan, tentu menyenangkan. Tetapi terkadang ortu lupa tentang ekstrakurikuler pilihan mereka apa. Saran Borba, perhatikan perubahan yang terjadi dalam setiap aktivitas yang mereka lakukan. Mulai dari tingkat semangat dan waktu dalam berkegiatan. Perilaku selalu jadi tanda yang jelas, kata Borba lagi.
Itulah tanda ortu terlalu menekan anak-anaknya dalam melakukan aktivitas tertentu. Baik itu kegiatan sekolah maupun kegiatan tambahan di luar sekolah. Penjelasan di atas juga penting menjadi bahan refleksi untuk menjalankan pola asuh yang bijak dan tepat bagi anak-anak.