YOGYAKARTA - Anak yang sering mengkritik diri sendiri bisa terasa menyedihkan dan membuat orang tua khawatir. Perilaku ini biasanya bukan tanpa alasan. Ada kombinasi faktor yang memengaruhi bagaimana mereka menilai diri. Memahami penyebabnya dapat membantu Anda sebagai orang tua dalam membimbing anak menuju pemahaman diri yang lebih positif dan sehat. Berikut, penyebab anak menjadi keras pada diri sendiri yang perlu ortu ketahui.
1. Temperamen perfeksionis
Menurut Sarah Kipnes, LSCW., pekerja sosial berlisensi klinis berbasis di Oakland, California, beberapa anak dilahirkan dengan sifat perfeksionis yang membuat mereka sangat sensitif terhadap kesalahan kecil. Ketika mereka mendapatkan jawaban salah di sekolah atau melakukan sesuatu sedikit tidak sempurna, reaksi batinnya bisa langsung merespons dengan pernyataan diri "Aku bodoh".
Ini menyebabkan anak melihat kesalahan sebagai kegagalan menyeluruh, bukan sebagai proses belajar. Jika tidak dikendalikan, hal ini bisa menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan kecemasan secara bertahap.
2. Pengaruh lingkungan dan orang dewasa
Jocelyn Bibi, LSCW., dilansir Parents, Rabu, 23 Juli, menyebutkan bahwa anak menirukan bahasa negatif dari orang di sekitarnya. Misalnya, jika orang tua sering merendahkan diri sendiri, misalnya kerap menggerutu “Aku payah banget”, anak bisa mengambil pola pikir tersebut dan menerapkannya pada dirinya. Selain itu, tekanan tinggi dari rumah atau sekolah tentang prestasi juga bisa membuat anak terlalu menuntut diri sendiri. Lingkungan yang penuh kritik, walaupun tanpa disadari, bisa mendorong anak agar jadi keras terhadap diri sendiri.
3. Kecemasan dan tekanan sosial
Anak yang mudah cemas dan takut tidak cukup baik sering kali lebih keras pada dirinya sendiri. Contohnya, satu nilai jelek di sekolah bisa membuat mereka merasa sebagai “anak bodoh”. Faktor sosial, seperti perbandingan dengan teman sekelas atau citra “sempurna” di media sosial, memperparah kondisi ini. Akibatnya, anak bisa merasa kurang percaya diri dan mulai sering membandingkan diri dengan yang lain.
4. Tujuan untuk proteksi sosial
Terkadang anak menggunakan kritik diri sebagai cara untuk melindungi diri sendiri. Seperti ketika mereka mengucapkan hal buruk tentang diri sendiri sebelum orang lain. Mengutip Child Mind Institute, ini adalah bentuk coping yang belum dewasa, di mana anak mencoba mengontrol narasi agar rasa malu atau cemoohan tidak terlalu menyakitkan. Taktik ini bisa berubah jadi kebiasaan jika tidak diingatkan bahwa perasaan mereka valid dan bagian dari perkembangan normal anak.
Anak yang mengalami tekanan emosional yang berulang tanpa pendampingan bisa menjadi self‑critical secara berlebihan. Ketika anak tidak diajarkan cara mengenali atau mengelola emosi, seperti rasa kecewa, marah, atau malu, mereka cenderung menyalahkan diri sendiri sebagai reaksi. Tanpa adanya bimbingan tentang self‑compassion atau rasa welas asih pada diri sendiri, pola ini bisa terbawa sampai dewasa dan menghambat perkembangan mental yang sehat. Beberapa hal bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak yang keras pada diri sendiri dengan cara berikut ini:
- Validasi perasaan
Saat anak berkata, “Aku bodoh,” jawablah dengan empati. Misalnya “Kamu merasa kecewa? Boleh cerita sama Ibu kenapa kamu merasa begitu”. Jangan langsung menyangkal perasaannya. Usahakan validasi perasaan anak dan cari tahu kenapa ia merasa kecewa atau sensitif dengan kesalahan kecil.
- Ajarkan self‑compassion
Bantu anak mengubah kritik diri menjadi kalimat yang lebih ramah. Misalnya: “Saya gagal kali ini, tapi bisa belajar lebih baik”. Perlu dipahami orang tua, berwelas asih pada diri sendiri, bukan berarti hanya menerima kesalahan. Tetapi juga berkeinginan menjadi lebih baik dengan belajar.
- Hindari ekspektasi tentang kesempurnaan
Dorong anak agar memahami kalau tugas mereka adalah proses belajar, bukan untuk sempurna. Ceritakan pengalaman Anda yang gagal dan bagaimana belajar dari situ.
BACA JUGA:
- Fokus pada kekuatan
Setiap hari luangkan waktu untuk menanyakan hal apa yang mereka ingin rayakan hari ini. Ajak membuat daftar hal positif yang sudah dilakukan.
- Jangan sepelekan ucapan mereka
Bila anak sering mengkritik diri, segera perhatian. Bisa jadi gejala kecemasan lebih tinggi atau penurunan suasana hati.
- Pertimbangkan bantuan profesional
Jika kritik diri berlangsung terus-menerus dan terlihat mengganggu aktivitas sehari‑hari, pertimbangkan konseling psikolog anak atau bimbingan di sekolah.
Anak bisa menjadi keras pada diri sendiri karena perpaduan sifat perfeksionis, tekanan lingkungan, kecemasan, dan kurangnya regulasi emosi. Anda sebagai orang tua punya peran penting untuk meluruskan pola ini lewat dukungan, validasi, dan pembelajaran self‑compassion. Dengan pendekatan empati dan bimbingan, anak bisa belajar bahwa kesalahan bukan bukti kelemahan, tapi pijakan awal menuju tumbuh dan berkembang. Jika perilaku ini terus berlangsung, bantuan profesional bisa jadi solusi tepat.