Bagikan:

YOGYAKARTA – Aksi penjarahan ke beberapa rumah anggota DPR pada akhir pekan lalu memicu trauma kolektif pada sebagian kelompok masyarakat. Peristiwa ini mengingatkan kejadian di masa lalu di mana terjadi penjarahan dan pembakaran gedung di tengah-tengah kerusuhan 1998. Lantas, apa itu trauma kolektif?

Mengenal Apa itu Trauma Kolektif

Dikutip dari laman Khiron Clinics, trauma kolektif adalah luka psikologis dan emosional yang diakibatkan oleh pengalaman traumatis yang dialami bersama oleh suatu kelompok. Hal ini dapat melibatkan kelompok kecil, seperti keluarga, atau memengaruhi komunitas maupun masyarakat secara keseluruhan.

Trauma kolektif dapat memberikan dampak yang signifikan, menimbulkan berbagai masalah emosional, psikologis, dan sosial.

Efek dari trauma kolektif juga bisa berlangsung lama dan bahkan diwariskan lintas generasi. Dampaknya antara lain meliputi perasaan tidak berdaya, putus asa, rasa bersalah, kesedihan, serta peningkatan tingkat kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Namun demikian, komunitas dan individu juga dapat membangun ketahanan serta menemukan cara untuk menghadapi dan pulih dari pengalaman tersebut melalui jaringan dukungan, konseling, maupun bentuk intervensi lainnya.

Contoh Trauma Kolektif

Peristiwa yang menimbulkan trauma kolektif sangat beragam, mulai dari kejadian lintas generasi seperti perbudakan hingga peristiwa tunggal seperti kebakaran rumah keluarga.

Beberapa contoh peristiwa yang dapat menyebabkan trauma kolektif antara lain:

  • Bencana alam

Bencama alam seperti gempa bumi, badai, banjir, dan kebakaran hutan dapat menimbulkan trauma bagi mereka yang terdampak langsung maupun yang menyaksikan dampaknya.

  • Aksi terorisme

Aksi terorisme seperti serangan 11 September di Amerika Serikat, pengeboman London tahun 2005, dan serangan bom Bali pada 2002 menimbulkan trauma bagi mereka yang mengalaminya secara langsung maupun melalui liputan media.

  • Perang dan konflik

Konflik bersenjata seperti Perang Vietnam, Perang Dunia I dan II, serta konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah dapat menimbulkan trauma bagi tentara, warga sipil, maupun seluruh komunitas.

  • Genosida dan kekerasan massal

Peristiwa seperti Holocaust, genosida Rwanda, dan pembantaian Srebrenica menimbulkan trauma bagi seluruh komunitas serta meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Trauma Holocaust, misalnya, masih dirasakan oleh keturunan para korban yang ditahan dan dibunuh.

  • Pandemi

Wabah penyakit menular seperti COVID-19, SARS, dan HIV telah menyebabkan trauma bagi individu maupun komunitas secara keseluruhan karena rasa takut dan ketidakpastian, serta dampak sosial, psikologis, dan ekonomi. Epidemi AIDS – khususnya pada tahun 1980-an dan 1990-an – menimbulkan ketakutan dan trauma mendalam bagi individu LGBTQ+, yang bertahan hingga puluhan tahun. Sementara itu, isolasi yang dialami banyak orang selama pandemi COVID-19 telah meningkatkan tingkat kesepian, masalah kesehatan mental, dan konsumsi alkohol.

Demikian informasi tentang apa itu trauma kolektif. Dapatkan update berita pilihan lainnya hanya di VOI.ID.