Bagikan:

JAKARTA - Memiliki harapan dalam hidup itu penting, namun harapan yang tidak realistis justru sering menjadi penyebab kekecewaan, stres, dan kebahagiaan yang tak bertahan.

Berikut penjelasan kenapa menetapkan harapan realistis bisa jadi jalan menuju kesejahteraan dan kebahagiaan yang lebih tahan lama yang dilansir VOI dari berbagai sumber, Kamis, 4 September.

Kenapa Harapan Harus Sesuai Realitas

Menurut penelitian dari Greater Good Magazine, harapan yang realistis membantu Anda membuat keputusan lebih baik serta memudahkan Anda belajar dari pengalaman. Ketika sesuatu melebihi ekspektasi, kebahagiaan meningkat namun jika sesuai saja, kebahagiaan tetap stabil. Sementara, harapan terlalu tinggi sering kalah terhadap realitas biasa.

Sebagai ilustrasi pentingnya menyesuaikan harapan, survei menunjukkan bahwa masyarakat Denmark, yang dikenal sebagai penduduk paling bahagia di dunia, tepat memilih harapan hidup yang lebih rendah ketimbang negara serupa lain seperti Swedia atau Finlandia.

Harapan Tidak Realistis = Kekecewaan

Penelitian dari Psych Central menegaskan bahwa harapan yang tidak realistis dapat memicu kekecewaan dan kemarahan, karena Anda cenderung menantikan perubahan yang tidak mungkin terjadi. Sebaliknya, memiliki ekspektasi yang realistis memungkinkan Anda menyusun strategi koping tepat berdasarkan apa yang bisa dikendalikan.

Thomas Plante, Ph.D., dalam Psychology Today, juga mengingatkan bahwa mengejar kesempurnaan dalam karier, keluarga, atau hidup secara umum bisa jadi kontraproduktif. Sehingga lebih bijak menetapkan harapan yang realistis untuk menjaga kebahagiaan.

Harapan Realistis Membangun Ketangguhan dan Rasa Syukur

Harapan yang dapat dicapai mendorong kebahagiaan dan kepuasan hidup, sementara harapan yang terlalu tinggi bisa menyebabkan perasaan tidak cukup dan frustasi. Selain itu, kemampuan menerapkan harapan realistis juga memperkuat rasa syukur, karena Anda bisa menghargai hal-hal kecil sebagai pencapaian berharga dalam hidup.

Harapan Realistis Memperkuat Hubungan Pribadi

Di bidang hubungan, harapan yang terlalu ideal bisa menimbulkan konflik dan kekecewaan. Sedangkan, harapan yang realistis membuka ruang untuk saling memahami dan membangun komunikasi yang lebih sehat.

Libatkan Elemen Kejutan Positif

Menurut Victoria Storr, harapan realistis juga berarti memberi ruang untuk hal-hal tak terduga. Saat sesuatu berjalan lebih baik dari yang diharapkan, hal itu meningkatkan kebahagiaan. Menjadwalkan waktu longgar, bukan mengontrol setiap detail memberi kesempatan untuk pengalaman tak terduga yang memperkaya hidup.

Menetapkan harapan realistis bukan berarti Anda harus pesimis. Malahan, itu memberi stabilitas emosional, memungkinkan perencanaan praktis, memperkuat ketahanan, dan memungkinkan Anda menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana maupun kejutan tak terduga. Kebahagiaan sejati bukan datang dari kesempurnaan, melainkan dari keseimbangan antara harapan dan realitas.