YOGYAKARTA – Toffee dan caramel atau karamel cukup populer dalam kuliner manis di dunia. Meski sama-sama memiliki variasi rasa manis, tetapi tekstur, cara membuat, dan bahan pembuatnya memiliki perbedaan. Untuk lebih jelasnya, berikut dijelaskan apa itu toffee dan karamel serta perbedaannya.
Toffee adalah permen keras dengan gabungan rasa manis karamel klasik yang dimasak bersama mentega. Secara teknis, toffee adalah butterscotch, yaitu kombinasi antara mentega dan gula yang dimasak secara bertahap dalam 148,9 derajat Celsius sehingga menghasilkan kembang gula. Untuk tekstur yang lebih lembut, toffee dimasak dengan suhu yang lebih rendah.
Para pembuat toffee di Inggris, membuat variasi memakai bahan gula merah dan mentega sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dan renyah. Topping tradisional meliputi cokelat, kacang cincang, almon, dan kenari. Dalam membuat toffee, mentega, gula, dan air dalam panci besar dicampur lalu dipanaskan. Campuran tersebut diaduk terus hingga mentega dan gula menyatu lalu berwarna cokelat keemasan. Jika tekstur sudah mengeras, adonan diangkat dan didinginkan di seuhu ruangan. Biasanya, pendinginan dilakukan di atas loyang. Jika sudah dingin, loyang dipindahkan ke dalam lemari es.
Berbeda dengan toffee, karamel terbuat dari gula pasir ditambah krim kental, ekstrak vanilla, atau garam laut. Tekstur karamel, tergantung suhu caranya membuat. Semakin tinggi suhu, semakin padat teksturnya. Berikut penjelasan secara terperinci mengenai perbedaan toffee dan karamel yang perlu Anda ketahui.
1. Bahan utama
Toffee umumnya dibuat dari campuran gula dan mentega, kadang ditambah sedikit air atau bahkan gula merah untuk memperkaya rasa. Mengutip MasterClass, Kamis, 28 Agustus, sedangkan caramel diracik dari gula putih, dan kerap ditambahkan heavy cream, vanilla, atau garam laut. Kalau karamel hanya berbahan gula saja disebut dry caramel. Perbedaan bahan inilah yang memberi toffee rasa mentega yang kaya, sementara karamel memiliki rasa krimi yang lembut.
2. Proses pembuatan dan suhu memasak
Mengutip Tasting Table, toffee dimasak hingga mencapai hard-crack stage, sekitar 300 °F atau lebih, yang menghasilkan tekstur sangat keras dan renyah. Sebaliknya, karamel hanya dimasak hingga suhu lebih rendah. Sekitar 225–340 °F tergantung pada jenisnya caramel basah atau karamel kering. Perbedaan suhu dalam membuat, baik toffee maupun karamel, menjadi kunci utama yang menciptakan karakteristik tekstur unik masing-masing.
3. Tekstur dan konsistensi akhir
Setelah dingin, toffee cenderung sangat keras dan mudah patah menjadi potongan kecil. Teksturnya renyah dengan sedikit kelembutan ketika dikunyah. Karamel, tergantung resep, bisa berupa saus cair, chewy lembut, atau padat namun masih bisa digigit dan dikunyah. Karena perbedaan tekstur ini, toffee cocok untuk topping renyah atau cemilan potong, sementara caramel pas untuk saus, isi permen, atau lapisan lengket.
4. Cita rasa
Toffee memiliki rasa seperti mentega panggang, dengan nuansa nutty atau kacang panggang karena reaksi Maillard pada mentega dan gula. Karamel, terutama yang menggunakan krim, cenderung memiliki rasa manis krimi dengan kedalaman rasa hangus ringan yang elegan. Cita rasa ini akan muncul terutama jika ditambah esens vanila atau garam.
BACA JUGA:
5. Variasi dan fungsi
Toffee sering dinikmati sebagai potongan renyah yang dilapisi cokelat atau dicampur kacang, seperti dalam variasi English toffee. Karamel sangat fleksibel, bisa dijadikan saus lalu dituang di es krim, diisi ke dalam truffle, atau dijadikan lapisan lengket dalam permen. Jadi, tergantung kebutuhan, Anda bisa memilih sesuai fungsi, apakah ingin sesuatu yang renyah atau lembut dan creamy.
Dalam dunia permen dan kue, meskipun toffee dan caramel sama-sama berasal dari gula yang dimasak, perbedaan bahan, suhu masak, dan teknik membuatnya menghasilkan tekstur dan rasa yang sangat berbeda. Toffee menawarkan gigitan renyah dan rasa mentega yang intens, sedangkan karamel memanjakan lidah dengan kelembutan creamy dan manis yang kaya.