JAKARTA - Generasi Z, yang lahir antara 1997 hingga 2012, kini menghadapi dilema keuangan yang cukup serius. Berdasarkan survei terbaru Credit Karma, hampir setengah anggota Gen Z yang sudah dewasa mengaku tidak memiliki tabungan sama sekali.
Lebih mengejutkan lagi, 49% para gen z menyebut bahwa merencanakan masa depan finansial terasa tidak ada gunanya.
Courtney Alev, pakar keuangan konsumen di Credit Karma, menyebut banyak anak muda saat ini terjebak dalam pola pikir “YOLO” (You Only Live Once).
"Mereka berpikir, 'Untuk apa menabung demi masa depan?'" ujarnya, dikutip dari laman CNBC Make It.
Menurut Alev, sikap seperti ini bisa berbahaya jika dibiarkan.
"Kalau tidak terkendali, mereka bisa terjerat utang berbunga tinggi yang sulit dibayar, sehingga tertunda mencapai tujuan penting seperti pindah dari rumah orang tua atau menyiapkan dana pensiun," jelasnya.
Survei menunjukkan banyak Gen Z menghabiskan uang untuk belanja non-esensial, hiburan, dan gaya hidup. Fenomena layanan paylater, pinjaman online, kartu kredit atau platform cicilan lainnya menjadi penyebabnya.
Credit Karma mencatat 77% pengguna Gen Z mengaku layanan ini membuat mereka belanja lebih dari kemampuan.
"Sekarang tidak pernah semudah ini membeli barang. Teknologi pembayaran instan mendorong perilaku belanja impulsif," kata Alev.
BACA JUGA:
Laporan New York Fed tahun 2024 menemukan tingkat keterlambatan pembayaran kartu kredit Gen Z meningkat lebih cepat dibanding generasi lain. Sekitar 15% sudah menggunakan limit kartu kredit secara maksimal.
Menurut Winnie Sun, pendiri Sun Group Wealth Partners, banyak anak muda tidak menabung karena merasa sudah terbebani utang sejak awal.
"Mereka merasa tidak punya uang dan banyak yang terjerat utang," katanya.
Sekitar 50% lulusan sarjana tahun 2022–2023 memiliki utang mahasiswa rata-rata 29.300 dolar AS atau Rp475 juta.
Selain itu, tingkat pengangguran untuk usia 22–27 tahun tercatat lebih tinggi dari rata-rata nasional, yakni 5,8% bagi lulusan sarjana dan 6,9% bagi yang tidak memiliki gelar, berdasarkan data Bank Sentral New York per Maret 2025.
"Kalau semua faktor ini ditumpuk, yakni utang, biaya hidup tinggi, ketidakpastian politik dan ekonomi, wajar kalau banyak yang kehilangan semangat menabung," kata Alev.
Meski sulit, pakar menilai usia muda justru waktu terbaik untuk memulai kebiasaan finansial sehat.
"Kalau masih muda dan pengeluaran rendah, ini kesempatan untuk mulai berinvestasi,” kata Sun.
Alev menyarankan memulai dari hal kecil, seperti menabung atau berinvestasi USD 10 dolar AS atau Rp162 ribu per bulan.
Sun menambahkan tips untuk mengendalikan pengeluaran, seperti memberi jeda 24 jam sebelum membeli barang non-esensial dan melunasi utang berbunga tinggi sebelum fokus investasi.
"Daripada terjebak di pola pikir nasib buruk, ubah menjadi rencana nyata dan mulai langkah kecil." katanya.