Bagikan:

JAKARTA - Mengelola keuangan merupakan keterampilan yang sangat penting di era modern, terutama bagi Generasi Z yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital dan gaya hidup serba cepat.

Sebagai generasi yang dikenal adaptif dan kreatif, Gen Z menghadapi tantangan finansial unik seperti pola hidup "you only live once" (YOLO) dan "fear of missing out" (FOMO). Kebiasaan ini sering kali membuat pengelolaan keuangan menjadi tantangan besar.

Untuk itu, memahami strategi cerdas dalam mengatur keuangan bisa menjadi kunci kesuksesan finansial jangka panjang.

Pakar keuangan sekaligus Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko LKBN ANTARA, Dr. Nina Kurnia Dewi, mengajak Generasi Z untuk memahami pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

“Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Jika menginginkan sesuatu (kebutuhan tersier), mindset (pola pikir) yang harus dibangun adalah menabung, bukan berutang. Ada dua pendekatan di sini, yaitu pola pikir menabung dan berutang. Saya sarankan untuk memperkuat pola pikir menabung,” ujar Nina seperti dikutip ANTARA.

Dr. Nina menjelaskan langkah pertama dalam mengelola keuangan adalah dengan menetapkan tujuan keuangan sejak dini. Ini meliputi berbagai aspek, seperti investasi untuk kesehatan melalui olahraga dan pola makan sehat, hingga pengembangan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan diri.

Dengan tujuan yang jelas, Generasi Z dapat lebih fokus dalam mengatur prioritas finansial mereka. Selain itu, mencatat pengeluaran merupakan cara efektif untuk memahami pola konsumsi. Dengan membuat anggaran dan laporan keuangan, Gen Z dapat mengevaluasi kebiasaan pengeluaran mereka dan mencari cara untuk menjadi lebih hemat. Misalnya, dengan mencatat pengeluaran harian, mereka bisa mengetahui pos mana yang memerlukan penghematan.

Menabung untuk dana darurat juga sangat penting dalam memastikan stabilitas finansial. Dr. Nina merekomendasikan agar setiap individu memiliki dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama enam bulan ke depan. Hal ini memberikan perlindungan finansial saat menghadapi situasi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kondisi darurat lainnya.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Generasi Z adalah godaan untuk membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan, terutama karena terpengaruh oleh FOMO atau YOLO. Dr. Nina menegaskan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar tidak terlena dengan utang konsumtif.

“Hindari membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya karena terdorong oleh FOMO atau YOLO. Hal ini bisa membuat kalian terlena dan menggagalkan rencana keuangan yang sudah dibuat,” tambahnya.

Dr. Nina juga mendorong Generasi Z untuk terus belajar tentang keuangan melalui berbagai platform edukasi. Selain itu, mencari mentor yang berpengalaman dalam perencanaan keuangan juga merupakan langkah bijak untuk mengelola keuangan jangka panjang. Mentor dapat berasal dari orang-orang terdekat yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bidang keuangan.

Sebagai bagian dari introspeksi diri, Dr. Nina mengajak anak muda untuk mengevaluasi pola konsumsi mereka, termasuk pengeluaran untuk hal-hal yang bersifat tren. Misalnya, pengeluaran untuk membeli kopi kekinian. “Coba introspeksi, apakah kita akan kesulitan jika mengurangi pengeluaran, seperti untuk kopi kekinian? Jika tidak, lebih baik alokasikan dana tersebut untuk menabung atau berinvestasi. Dengan begitu, kualitas hidup kita akan lebih terjaga,” jelasnya.

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, Generasi Z dapat membangun pondasi keuangan yang kuat untuk menghadapi masa depan yang lebih cerah. Pengelolaan keuangan yang bijak sejak dini adalah investasi terbaik yang bisa dilakukan untuk mencapai kebebasan finansial dan kehidupan yang berkualitas.