Bagikan:

JAKARTA - Beberapa tahun ke depan, generasi Alpha akan memasuki usia dewasa yang membuat mereka bisa memutuskan sendiri berbagai hal dalam hidup mereka. Salah satunya mengenai barang yang dibeli dari sebuah brand.

Dalam mengambil keputusan membeli barang dari sebuah brand, gen Alpha disebut mempertimbangkan banyak hal, yang berbeda dari gen Z dan milenial. Hal ini terungkap melalui riset yang dilakukan oleh agensi komunikasi Pantarei, dengan platform berbasis media sosial mereka, LUMA Insight, yang diluncurkan di perayaan 21 tahun agensi tersebut berdiri.

Platform berbasis media sosial itu dirancang untuk mencari tren terkini di masyarakat Indonesia, yang jarang mendapat sorotan pemasaran. Platfom ini menangkap insight melalui riset yang kemudian diolah dan dituangkan melalui creative data storytelling.

Terkait riset bagaimana gen Alpha menilai sebuah brand dilakukan LUMA Insight mulai November 2024 hingga Januari 2025. Melalui riset terungkap bahwa gen Alpha tidak membeli barang dari sebuah bran berdasarkan keuntungan yang bisa diperoleh dari barang tersebut, seperti yang dilakukan oleh milenial dan gen Z.

“Kalau milenial dan gen Z agak mirip ya, lebih ke tahu brand ini kelebihannya apa dan kenapa beli akan menguntungkan kita,” kata COO Pantarei, Sismita Sasmita, saat temu media di kawasan SCBD, Jakarta, pada Kamis, 16 Januari 2025.

Dalam membeli barang dari sebuah brand, gen Alpha disebut melihat dampak yang diberikan oleh barang dan brand tersebut. Mulai dari dampak keberlanjutan atau sustainability hingga bagaimana tanggung jawab sebuah brand, apakah sesuai dengan harga yang ditawarkan atau tidak.

“Tapi kalau ngomongin tentang gen Alpha, tentunya mereka banyak yang belum doing their own decision making, tapi bisa bisa dilihat dari jawaban yang mereka berikan, mereka lebih value justru hal di balik itu,” ujarnya.

“Sustainability, bagaimana brand ini bertanggung jawab, bagaimana brand ini bisa memberikan value beyond dari apa yang mereka bayar. Ini masa depan yang dilihat oleh kita dan brand,” tambahnya.

Meskipun pemikiran terkait sustainability gen Alpha mirip dengan gen Z, namun gen Alpha ternyata menyikapinya dengan cara yang lebih ekstrem. Hal ini tentunya harus dipahami oleh sebuah brand-brand untuk bisa menjajakan produk dengan baik pada gen Alpha di masa depan yang menjadi target utama penjualan, salah satunya dengan memanfaatkan data-data riset terkini.

“Sedikit mirip dengan gen Z, tapi lebih ekstrem. Kalau gen Z sifatnya masih advocating, kalau gen Alpha mereka lebih keras lagi,” pungkasnya.